Kerja Sama Transportasi Publik

Kerja Sama Transportasi Publik

- detikNews
Senin, 22 Okt 2007 08:27 WIB
Kerja Sama Transportasi Publik
Jakarta - Kemacetan di wilayah DKI Jakarta cukup parah. Kalau bisa dikatakan mobil tidak sekedar berhenti bahkan parkir di jalan-jalan utama termasuk tol. Ada upaya yang dilakukan pemerintah daerah DKI tetapi kok tidak banyak membantu. Malah kemacetan menjadi-jadi. Peraturan 3 in one tidak banyak membantu. Fly over, sub way juga ada yang mulai menyumbang kemacetan baru.Transportasi massal menjadi alternatif yang harus segera dijalankan. Itu memang betul tetapi kok pelaksanaannya sangat dipaksakan. Kalau melihat konsep Trans Jakarta dari "sono"-nya, Bogota Ibu Kota Colombia, tahun 1990-an kota itu seperti blok M Jakarta. Macet dan tumpang tindih dengan kendaraan umum. Namun, 10 tahun kemudian menjadi sangat rapi dengan penataan yang matang di bidang transportasi. Kita dengan cepat menirunya tetapi ada yang salah yaitu koordinasi. Sebagai perbandingan, di Bogota, jalan untuk busnya sangat lebar seperti jalur tol dalam kota. Terminalnya mirip dengan Bandara Soekarno Hatta. Di Jakarta, jalurnya memakai jalur yang sudah ada, dibuat pembatas. Jadi deh. Untuk terminal ya seadanya.Kesulitan lahan selalu menjadi alasan utama. Padahal alasan yang tepat adalah tidak adanya koordinasi antar BUMN (Badan Usaha Milik Negara) dan pemerintah daerah. Mari kita lihat seandainya ada kerja sama yang baik. Anda melihat seandainya di atas semua tol yang sudah dibuat di wilayah JABODETABEK ini diambil tanahnya sekitar kurang lebih 2 sampai 5 meter di tengah ruas jalannya, dan didirikan tiang untuk proyek MONOREL, tentunya kesulitan mencari lahan bukan menjadi alasan.Kemudian seandainya tanah di kiri dan kanan jalur rel kereta api JABODETABEK dibangun busway, (dibanding menjadi tempat kumuh, tidak terawat, menjadi tanah sengketa, dll.) apakah kesediaan tanah menjadi kendala?Alangkah indahnya kerjasama itu andai bisa terwujud.Anda tinggal di Bogor, mau ke Jakarta, naik monorel yang arahnya sama dengan Tol Jagorawi, turun mau di mana? Oh, di Cibubur Junction bisa, di Tamini Square bisa, di Ancol bisa, di Mal Taman Anggrek bisa. Bahkan turun di Bandara Soekarno Hatta pun bisa. Jalan-jalan yang terlanjur dipakai untuk busway bisa dikembalikan ke peruntukkannya, karena memang kapasitas jalan sudah sangat sempit. Jadi jangan dikurangi dengan hal-hal yang tidak masuk akal karena kurangnya koordinasi ini.PT KA (Kereta Api) menangguk untung ratusan juta karena tanahnya disewa untuk jalan oleh Pemkot DKI. Selain tanahnya terawat, tidak diserobot rumah kumuh, dipakai untuk busway lagi. Amal besar untung gede, ya gak. PEMKOT DKI tidak perlu melakukan razia rumah liar di sekitar rel kereta api. Dana yang masuk ke PT KA bisa untuk memperbaharui armadanya. Kereta api listrik akan semakin baik, mudik lebaran juga semakin oke. Orang cukup membayar tiket ekonomi untuk mendapatkan pelayanan eksekutif.Sisa tanah PT KA yang tidak terpakai bisa disewakan lagi ke pihak-pihak yang bertanggung jawab dan berkompeten di bidangnya, sehingga setiap stasiun kereta menjadi tempat yang sangat mewah, ada pusat perbelanjaan, perkantoran, sekolah, rumah sakit, dan tempat umum lainnya.Pelan-pelan efek domino akan terjadi. Arus kepadatan kendaraan di tol akan jauh berkurang. Semua orang pelan-pelan akan beralih ke kendaraan masal ini. Ketepatan waktu mulai dirasakan, kenyamanan dan keamanan semakin terjaga, karena koordinasi yang sangat terpadu, antara pihak pengelola tol, Jasa Marga, pihak Pemerintah Daerah DKI, dan PT KA.Jadi tunggu apa lagi. Apakah opini ini bisa menjadi masukan. Saya persilakan pihak berwenang memanfaatkannya. Bagi saya sebagai pengguna jalan tidak penting siapa yang mengerjakannya. Yang penting bisa bermanfaat untuk orang banyak dan kemacetan juga hilang dari DKI Jakarta.Yulius AriantoLegenda Wisata K 1 Cibuburyulius_arianto@yahoo.com08128074873 (msh/msh)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads