Rasisme

Rasisme

- detikNews
Rabu, 17 Okt 2007 09:09 WIB
Rasisme
Jakarta - "Rasisme" bak sebuah virus. Terasa tapi tak teraba. Terus bergerak berkelindan dari zaman ke zaman. Ia hinggap dan menyelinap di setiap tempat. Lantas menyebar dan mengakar di setiap ranah. Dan dikembangkan oleh pelbagai kalangan. Celakanya, virus amat mematikan itu kerap pula dienduskan oleh orang-orang yang kadung disebut ilmuwan, negarawan, atau budayawan.Ironis memang. Di situlah paham rasis bersemayam. Pergerakannya diam-diam menghanyutkan. Ia tak memperdulikan nilai-nilai kemanusiaan namun membesar-besarkan kesukuan. Tak menghargai apa yang diberi tapi mencurigai siapa yang memberi. Ia lebih medahulukan kepentingan pribadi atau golongan ketimbang kemaslahatan keseluruhan. Dan ia ada untuk meniadakan. Lantas seperti apa "rasisme" di negeri ini bisa dirasakan? Emh, teramat sempit bila semuanya dipaparkan dalam ruangan ini, sebab, hampir di semua lini kehidupan "rasisme" bergentayangan.Kita tentu masih ingat akan musibah di pertengahan tahun 1998. Harita, orang-orang keturunan Tionghoa yang "dicinakan" menjadi korban kebiadaban "rasisme". Teramat banyak korban yang tak tahu-menahu menjadi korban kebirangasan orang-orang tak berprikemanusiaan. Selain barang-barangnya dijarah, orangnya pun dianiaya (lelakinya dibunuh secara kejam-perempuannya diperkosa seenaknya).Oleh siapa perbuatan keji itu dilakukan? Bangsa kita. Bangsa yang terlelap dengan sanjungan sebagai bangsa yang cinta damai, bangsa yang katanya bangsa yang menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan, bangsa yang konon disebut bangsa yang religius, bangsa yang penganut agama Islamnya terbesar di seluruh kolong langit.Dari dunia olah raga pun "rasisme" kerap menunjukkan keganasannya. Dari cabang bulu tangkis, misalnya. Dari olahraga badminton atlet-atlet kebanggaan kita sering merasakan betapa kejamnya "rasisme" itu. Nama-nama Susy Susanti, Alan Budi Kusuma, Ardi B Wiranata, atau Hendrawan, walaupun mereka telah bekerja keras berjuang lalu mengharumkan nama Indonesia di tingkat internasional melalui perolehan emas di pelbagai event, tetapi apa timbal balik dari negara? Ketika mereka mau membuat Kartu Tanda Penduduk saja susahnya bukan kepalang.Mengenai hal ini, mantan pemain bulu tangkis Tan Joe Hok mengaku tidak tahu lagi harus mengadu pada siapa, untuk mendapatkan status Warga Negara Indonesia yang utuh, bagi dirinya dan seluruh keturunan Tionghoa yang lahir dan tinggal di Indonesia. "Saya sudah lelah berbicara soal ini. Ini kenyataan yang sangat menyakitkan. Mesti ke mana lagi kami protes, ke lembaga tertinggi negara sudah, ke Presiden, Wakil Presiden, Menteri Kehakiman sudah," ujarnya, penuh kecewa."Rasisme" akan semakin kentara juntrungannya ketika ajang juara-juaraan diadakan. Entah itu lomba nyanyi, lomba lawak, lomba wajah, lomba dakwah, lomba Kades, lomba Bupati, lomba Gubernur, atau lomba Presiden.Dari ajang itu rasa "aku" yang paling akan terlihat dengan jelas: akulah yang paling merdu, akulah yang paling lucu, akulah yang paling ayu, akulah yang paling religius, akulah yang paling bijak, akulah yang paling simpatik, akulah yang paling adil. Dari ajang-ajang semacam itu sentimen kedaerahan atau keagamaan merupakan senjata ampuh yang sering diperjual-belikan. Dan ketika suatu keinginan harus diwujudkan, maka segala cara halal dilakukan. Tak perduli politik uang. Yang penting aku menang, itu mantranya. Yang namanya kontes, tentu ada yang kalah ada yang menang. Tetapi karena proses awalnya pun telah salah kaprah, hasilnya pun sulit diharapkan. Yang menang membusungkan dada, yang kalah memendam dendam.Lagi-lagi dari situlah "rasisme" menunjukkan jati dirinya. Ia berdiri tidak hanya di barisan yang kuat. Di kaum yang lemah pun ia bersemayam. Jika sang kuat menindas sang lemah karena mereka memiliki basis kekuasaan maka sang lemah melakukan perlawanan secara diam-diam.Hal ini sesuai dengan yang dikemukakan oleh Teddi AN Muhtadin yang mengutip lontaran Hikmat Gumelar bahwa, "rasisme" mucul bukan hanya dominasi dari etnis yang superior, "rasisme" pun lahir dari dukungan etnis yang inferior. Salah satu ujung tombak "rasisme" adalah stereotip. Ia bekerja untuk mendeskreditkan yang lain. Membuat citraan buruk pada yang lain. Membuat yang lain menjadi minder. Maka lahirlah paribasa: kumaha nu dibendo, mangga ti payun, nyanggakeun sadaya-daya.Masih kata Teddy, selain kecenderungan memandang orang lain secara stereotip, "rasisme" juga mendorong ke arah konstruksi identitas. Dalam konstruksi ini, biasanya, si subyek mengonstruksi dirinya secara negatif dari si lain (Pikiran Rakyat, 2003).Adaya pencarian identitas itu sesungguhnya untuk mencari jati diri yang sesungguhnya, jati diri yang asli. Supaya berbeda dengan yang lain, hal ini pula warisan kolonialisme. Padahal di dunia ini tak satu pun ada sesuatu yang asli. Apalagi dipajamanan kiwari, zamannya hibriditas yang kian meluas. Seolah semua budaya itu duduk bersama di atas amparan ranah yang sama. Jelas, "rasisme" ada di antara kita. Dan terlalu kekanak-kanakan jika mengatakan "rasisme" itu berputar hanya pada masalah fisik. Ia tidak melulu mempersoalkan rambut rintik, kulit busik, atau mata sipit.Ia kerap hadir bersama kita. Fenomenanya telah lama mengemuka. Akan tetapi, akanka "rasisme" terus-terusan kita reproduksi ulang? Karena sesungguhnya terorisme dan zionisme pun merupakan buah dari "rasisme" jua. "Rasisme" memang kejam tak mengenal perasaan. DjasepudinJl Sumatra 19 Bandungmanggabaca@yahoo.co.id081320237935DJASEPUDIN, alumnus Program Studi Sastra Sunda Unpad, tinggal di Bogor dan Bandung (msh/msh)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads