Timor Timur Akan Kembali ke NKRI

Timor Timur Akan Kembali ke NKRI

- detikNews
Jumat, 12 Okt 2007 09:13 WIB
Timor Timur Akan Kembali ke NKRI
Jakarta - Mengenang Abilio Jose Osorio Soares Telah pergi pahlawanku PADA pukul 22.00 waktu Lisabon (atau pukul 05.00 WITA), Sabtu (16/6/2007), ketika saya sedang duduk untuk makan malam bersama seorang teman bernama Julio Bobo, mantan pemain Bank Suma di Timor Timur, secara tiba-tiba tangan kiri saya menyentuh gelas bir saya dan seketika itu seisi gelas bir saya tumpah. Saya tidak menghiraukan kejadian itu karena lumrah minuman dalam sebuah gelas tumpah karena tersentuh tangan. Namun, pada pukul 03.30 waktu Lisabon (atau pukul 10.30 WITA) subuh ketika baru habis menuangkan Whiskey Jack Daniel's ke dalam sebuah gelas plastik di dalam mobil diplomatik Indonesia bernomor 075.CD.408, secara tiba-tiba gelas yang sedang saya pegang dengan erat itu, terlepas dari tangan saya dan seisi gelasnya tumpah dari tangan saya. Ketika kejadian ini terjadi, saya langsung memandang Saudara Julio Bobo yang sedang duduk di sebelah kanan saya dan mengatakan bahwa sepertinya pertanda akan terjadi sesuatu pada saya.Demikian kejadiannya, maka pada pukul 06.00 waktu Lisabon (13.00 WITA), Minggu (17/6/2007), ketika kami baru habis dari pesta dansa Mahasiswa Timor Leste di Universidade Nova Lisboa, saya menerima SMS bertubi-tubi dari teman, kerabat, dan sanak saudara di Kupang dan di Jakarta, bahwa Bapak Abilio Soares telah berpulang kepada pangkuan Sang Pencipta pada pukul 11.30 WITA. Seketika itu menetes air mataku mengenang mendiang Abilio Jose Osorio Soares sang pahlawan bagi ribuan rakyat Timor Timur dan ribuan kerabat Tentara Nasional Republik Indonesia dan Polisi RI yang pernah diselamatkan beliau pada masa-masa sulit perjuangan Timor Timur antara tahun 1975 sampai dengan dekade 1980-an.Segelintir orang mungkin memandang mediang Abilio Soares sebagai pengkhianat bangsa. Sebagai si kepala dua yang harus disiksa oleh Tentara Nasional Indonesia sendiri dengan cara menginjakkan jempol kakinya dengan satu kaki kursi yang diduduki seseorang pada tahun 1980-an. Dan mungkin bangsa Indonesia memandangnya sebagai seorang pengkhianat bangsa yang melanggar Hak Asasi Manusia di Timor Timur sehingga dia harus dikorbankan dan dihukum untuk suatu perbuatan yang seharusnya menjadi tanggung jawab pihak lain yang menangani keamanan di Timor Timur pada waktu itu. Namun, bagi ribuan rakyat Timor Timur, baik yang sekarang berdiam di wilayah Indonesia, maupun berada di Timor Leste atau bahkan di luar negeri, Abilio adalah seorang pahlawan, seorang ayah, dan seorang dewa penolong.Antara tahun 1975 sampai dengan dekade 1980-an, Abilio Jose Osorio Soares banyak menyelamatkan orang-orang Fretilin yang turun dari hutan dan menampung semuanya di Dinas Pekerjaan Umum karena ketika itu mendiang menjabat sebagai kepala dinasnya. Mendiang banyak menyelamatkan nyawa ribuan orang Fretilin yang saling menuduh dan melaporkan teman seperjuangannya kepada TNI untuk "dibasmi" atau pada waktu itu dikenal dengan istilah "dimandikan". Mendiang banyak menyelamatkan orang-orang pro-integrasi yang dituduh TNI sebagai "bermuka dua" atau "berkepala dua" yang juga harus "dimandikan" hanya karena ada seorang anggota TNI yang ingin menjadi calon bupati atau calon Ketua DPRD pada suatu tempat di Timor Timur antara dekade 1980-1990-an.Abilio Jose Osorio Soares adalah seorang bapak yang tidak pernah berpikir jahat apa pun pada rakyat yang pernah dipimpinnya sebagai gubernur. Pada tahun 1992, ketika situasi Timor Timur semakin mengarah ke situasi yang buruk dan terindikasi semakin menjauhkan diri dari Indonesia. Maka dengan beraninya Abilio Jose Osorio Soares memasang kepala dan mengajak Uskup Belo untuk menghadap Presiden Soeharto untuk mengajukan suatu permintaan yang pada zaman itu dianggap "tabu" bagi Timor Timur yaitu suatu status otonomi khusus bagi Timor Timur. Namun, permintaan ini serta-merta ditolak oleh Presiden Soeharto.Pada dekade tahun 1990-an, ketika menyadari bahwa Timor Timur sulit menarik investor nasional dan asing untuk menanamkan modalnya di Timor Timur, maka Abilio Soares secara diam-diam dengan caranya sendiri berusaha membuka peluang kerja bagi para pemuda-pemudi dan lulusan di Timor Timur. Dengan cara ini, Abilio Soares membangun sebuah pabrik garam di Manatutu, sebuah pabrik Aqua di Dili, dan sebuah pabrik tekstil di Dili.Ketika pada tahun 1998-1999 Timor Timur hampir masuk lagi pada suatu situasi politik yang semakin mengarah terulangnya suatu perang saudara, maka Abilio Soares tak pernah terhenti-hentinya mengupayakan suatu perdamaian bagi para kelompok yang bertikai (pro-kemerdekaan vs pro-integrasi). Kediaman resminya dijadikannya tempat rapat umum bagi semua pihak yang bertikai untuk mengusahakan suatu perdamaian apabila ada yang menang dan ada yang kalah dalam Jajak Pendapat 1999. Namun, dari semua usaha itu, sang mendiang berkesimpulan bahwa kesepakatan tidak akan pernah bisa tercapai antara orang Timor Timur karena Perserikatan Bangsa-Babgsa (PBB) telah menghantar rakyat kepada suatu jajak pendapat di mana akan ada pihak yang "menang" dan "kalah".Sebagai salah satu upaya untuk menghentikan kehendak PBB untuk memberikan jajak pendapat kepada Timor Timur pada tahun 1999, maka tak henti-hentinya Abilio Soares meminta perhatian kepada semua duta besar yang pernah mengunjunginya di ruang kerjanya untuk mempertimbangkan ulang jajak pendapat karena menurut mendiang, orang Timor Timur tidak punya budaya menerima kekalahan. Namun, usulan ini tidak pernah dihiraukan PBB.Abilio Jose Osorio Soares bukan tipe seorang pengkhianat bangsa. Dia bukan tipe seorang berkepala dua. Selama dua tahun mendampingi beliau sebagai penerjemah resminya antara tahun 1997-1999, saya tidak pernah mendengar mendiang mengeluhkan suatu perbuatan buruk Pemerintah Indonesia kepada siapa pun duta besar negara asing yang pernah menemuinya di Timor Timur. Satu-satunya permintaan yang selalu terulang-ulang beliau ucapkan ketika bertemu dengan para diplomat asing ialah "Bantulah kami rakyat Timor untuk menjauhkan diri dari suatu bentuk jajak pendapat atau referendum atau sejenisnya, karena pasti akan terjadi perang saudara". Namun, bagaikan kerbau yang telah tercocok hidungnya, atau bagaikan kambing congek yang tuli, tidak pernah ada negara asing satu pun yang mendengarkan seruan keprihatinan beliau. Maka, membaralah Timor Timurku, ludes lenyaplah semua jerih payah, dan hasil keringat yang telah ditanam selama 24 tahun Timor Timur berada di bawah Indonesia. PBB telah membagi rakyat Timor Timur dengan jelas dalam dua kelompok. PBB telah menyebabkan terjadinya pengungsian rakyat Timor Timur dan telah menciptakan 200.000 orang lebih Timor Timur yang sekarang ini terpaksa hidup merantau di tanah orang. Abilio Soares dipenjarakan dengan tuduhan telah melakukan pelanggaran HAM berat di Timor Timur karena membiarkan terjadinya aksi pembumihangusan Timor Timor. Namun, suatu hal yang jelas, Abilio Jose Osorio Soares adalah seorang pahlawan bagi semua rakyat Timor Timur yang pernah dibantunya. Mendiang adalah pahlawan bagi ribuan rakyatnya yang terpaksa hidup terlantar di perantauan bersamanya karena ulah organisasi PBB yang seharusnya dibentuk untuk memberikan perdamaian dan menjamin tali persaudaraan, dan bukan organisasi yang bertugas mencari jalan keluar untuk mencabut manusia dari akarnya dan membuangnya sebagai perantau di tanah orang.Gajah mati meninggalkan belalainya, namun kepergian Abilio Soares telah meninggalkan namanya yang akan selalu dikenang sebagai seorang pahlawan pro-integrasi yang telah membela integrasi dari ujung jempol yang diinjak dengan kaki kursi sampai pada ruang 2 x 3 di Cipinang. Selamat jalan sang pahlawanku. Perjuanganmu dan perjuangan kakakmu mendiang Fernando Osorio Soares akan tetap kami pertahankan walau harus seribu tahun lamanya. Semoga jerih payahmu diterima oleh Sang Khalik.Basilio Dias Araujo, MA Penulis, staf KBRI Lisabon, Portugal. Tulisan ini adalah pendapat penulis pribadi dan tidak mewakili KBRI Lisabon (msh/msh)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads