- Konsistensi dari kualitas layanan yang dijanjikannya,
- Manfaat yang dapat disediakan,
- Harga yang terjangkau bagi masyarakat yang nyaman dengan layanan yang dilangganinya,
- Tidak membentur regulasi pemerintah.
Tarif Murah Operator Selular Hanya Pembuka
Kamis, 04 Okt 2007 10:04 WIB
Jakarta - Pernahkah Anda sesekali lebih serius memperhatikan iklan telepon seluler hari ini. Kalau pernah kita melihat suatu gejala khas yang nampaknya diakumulasikan pas menjelang arus mobilitas masyarakat meningkat saat mudik lebaran tiba. Fenomena itu disebut fenomena Perang Tarif pulsa dan layanan jasa telekomunikasi. Fenomena yang mungkin berlawanan dengan fenomena harga sembako yang justru mulai membumbung tinggi.Saya tidak tahu persis apakah ini gejala khas yang kelak akan mejadi tradisi atau kebiasaan bagi operator seluler untuk mengubah strategi pemasarannya menjelang mobilitas masyarakat sedang tinggi-tingginya. Atau hanya sekedar gejala temporer yang digunakan untuk menguji strategi baru. Strategi ini khususnya berkenaan dengan diperkenalkannya teknologi 3G ke masyarakat. Mungkin, gejala tarif murah ini tak terlihat lagi di mudik tahun depan. Tapi mungkin juga akan selalu demikian.Apa yang sebenarnya terjadi dengan adanya perang tarif murah ini. Apakah ini suatu gejala masa depan. Atau sesungguhnya hanya menunjukkan kepenatan sesaat para operator seluler karena kuenya semakin hari semakin kecil. Sedangkan operator semakin bertambah dan teknologi semakin maju namun regulasi semakin ketat. Atau ini menunjukkan gejala ketidakdewasaan strategi dan sekaligus pasar telekomunikasi saja yang belum mencapai titik jenuh sesungguhnya.Jadi, apa yang diinginkan oleh perang tarif sebenarnya langkah awal saja atau pembuka untuk mencari tarif yang tepat bagi masyarakat dengan cara cepat. Disebut cara cepat sejatinya hanya untuk mencari di mana sebenarnya titik jenuh dari tarif yang sebenarnya dapat diterima masyarakat. Tentunya pentarifan ini diselaraskan dengan diperkenalkannya layanan generasi 3G yang masih awam bagi masyarakat. Meskipun teknologinya sudah disiarkan tiga sampai empat tahun yang lalu.Menurut teori saya (harap maklum saya tidak tahu apa pernah ada orang yang mengungkapkan teori ini), titik jenuh tarif adalah titik yang pantas bagi masyarakat untuk membayar biaya komunikasinya yang semakin maju karena tersedianya berbagai format komunikasi dan akses semakin cepat, maupun dari sisi operator agar margin keuntungannya yang maksimal masih dapat diperoleh.Sekali titik jenuh tarif ini dicapai maka tarif yang baku dan standar akan ditemui. Kalau titik ini ditemui, operator sesungguhnya akan menhadapi tantangan baru yang berhubungan dengan biaya yang pantas untuk kualitas dan kapabilitas jasa yang ditawarkannya. Jadi, masyarakat akan menentukan sendiri harga yang pantas juga untuk layanan yang dilangganinya.Di masa depan, perang tarif bukan lagi berada di wilayah tarif dasar tapi tarif layanan jasa yang disediakan operator yaitu kualitas layanan, manfaat isi layanan, dan faktor-faktor lain yang berhubungan dengan kemampuan operator dalam menyediakan fitur-fitur yang lebih dapat dimanfaatkan secara nyata oleh konsumen. Baik manfaat itu bersifat finansial maupun hanya sekedar memenuhi kemudahan bertindak dan kesenangan semata.Faktor keberhasilan di masa depan karena itu ada pada keahlian si operator untuk memanfaatkan kemajuan teknologi dan kebutuhan yang nyata yang lahir di dalam masyarakat yang semakin komunikatif, mobil, dan tentunya mempunyai kebutuhan baru yang harus segera dipenuhi oleh penyedia jasa komunikasi maupun operator seluler.Karena itu, dibalik perang tarif, masa depan operator dipertaruhkan pada:











































