Entahlah Pengacara Pembela Kaum Salah
Jumat, 28 Sep 2007 09:01 WIB
Jakarta - Lepas dari carut marutnya wajah hukum Indonesia sebagaimana tersirat dari konflik antara BPK dan MA ada dimensi lain dari sektor hukum yaitu dari profesi pengacara. Ada satu pertanyaan klise yang patut dan yang mungkin juga sudah sering dilontarkan meski selayaknya dalam hukum terdapat asumsi praduga tak bersalah. "Kenapa pengacara senior dan top punya tendensi untuk membela kaum yang "salah" tapi kuat dan besar?"Pertanyaan ini muncul menyimak kondisi saat ini. Pengacara-pengacara top seperti OC Kaligis (OC), Juan Felix Tampubolon, Asegaff justru membela orang-orang besar.Gemas rasanya melihat Todays Dialogue di sebuah stasiun televisi nasional Senin, 24 September 2007 pukul 20.00 WIB. Dimoderatori oleh Meuthia Hafidh dengan tamu OC Kaligis dan Fajrul Rahman membahas dugaan Bank Dunia bahwa Soeharto adalah koruptor terbesar di muka bumi ini.Lepas dari apakah dugaan itu betul apa salah betapa orang-orang hukum selalu berlindung dengan istilah-istilah. Untuk membuat suatu kasus hukum seakan-akan begitu rumitnya. Sebaliknya, Fajrul Rahman dengan sistematis menjelaskan suatu logika bi-imperatif.Jika perhitungan Bank Dunia tidak benar niscaya mayoritas temuan dari 10 temuan itu salah atau palsu sehingga akan sangat tidak make sense. Apabila dari 10 tersangka koruptor tersebut (9 di antaranya telah terbukti korup), justru koruptor nomor satunya masih sunyi sepi dari penyidikan. Dan apabila perhitungan tersebut salah untuk Suharto betapa kebetulannya hal itu terjadi ketika di negara-negara lain bahkan aset korupsi tersebut sedikit demi sedikit dapat dikembalikan ke negara.OC justru menunjukkan arogansinya "sebagai orang yang lebih tahu hukum". Betapa classless-nya OC ketika mengatakan "kasian deh loe" pada suatu sesi perdebatan dan tidak pada konteks yang tepat.Terlihat OC yang harusnya bijaksana, karena nyatanya lebih senior, sungguh mati berusaha dengan benteng-benteng istilah hukum "bahwa Soeharto tidak bersalah, mesti dilihat yurisprudensinya, dsb." Juan Felix, sebagaimana disitir dalam dialog tersebut menambahkan bahwa data Bank Dunia adalah sampah.Prihatin. Bagaimana reformasi hukum ini bisa berjalan kalau orang-orang yang seharusnya memberikan teladan. Orang-orang yang memiliki space luas menjadi anutan berjalannya law enforcement dengan lebih baik bisa "dibeli" oleh kekuasaan.Selain karena tidak ada uangnya mengapa mereka tidak pernah membela Marsinah (apa kabarmu Ibu, semoga mulia di sana) misalnya. Atau Munir. Atau aktivis mahasiswa yang ditangkap, diculik, dan dibunuh. Entahlah.Kapan kiranya orang-orang muda seperti Fajrul Rahman bisa memiliki pos yang lebih layak membawa negeri ini berhembus menuju Indonesia yang baldatun toyibatun warobbun ghofur. Sebagaimana optimisnya Fajrul suatu saat nanti pasti akan ada pemuda Indonesia yang menggantikan posisi seniornya yang belum memberikan warna cerah. Terutama pada wajah hukumIndonesia Ibrahim Kholilul RohmanSalemba 4 Jakartaibra@lpem-feui.org08179809269
(msh/msh)











































