Kembali ke Asas Tunggal
Kamis, 27 Sep 2007 09:35 WIB
Jakarta - Salah satu wacana yang lagi hangat diperbincangkan di beberapa media baik cetak maupun elektronik adalah munculnya gagasan menjadikan Pancasila sebagai asas tunggal bagi partai politik (parpol) dan organisasi masyarakat (ormas). Wacana ini diusung oleh tiga fraksi besar yang ada di Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) yaitu Fraksi Partai Golkas (FPG), Fraksi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (FPDIP), dan Fraksi Partai Demokrat (FPD).Dan akhirnya dapat ditebak. Wacana ini ditentang keras oleh partai yang berasaskan Islam dan partai yang memiliki basis masa umat Islam. Ketiga fraksi besar pengusung gagasan ini secara garis besar berkeyakinan bahwa dengan kembali ke asas tunggal bisa lebih mengatasi segala masalah yang terjadi di negeri ini.Munculnya perpecahan di antara anak bangsa, munculnya perda syariah, munculnya daerah khusus penerapan syariat islam, kemudian ada lagi kota injil yang semuanya bermuara pada hancurnya Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).Dalam sebuah acara seminar yang diselenggarakan sebuah universitas di Singapura Taufik Kiemas menyampaikan dua hal. Pertama, soal perkembangan PDIP dan persiapan menghadapi pemilu 2009. Kedua, soal terorisme dan sektarianisme di Indonesia.Pada poin pertama Taufik memaparkan tentang cita-cita PDIP untuk membangun Indonesia sebagai rumah besar nasionalisme yang bertujuan mempertahankan Pancasila, NKRI, dan mewujudkan pluralisme. Dengan pede (percaya diri) Bang Taufik berkata, "mustahil nasionalisme tanpa pluralisme".Dengan kata lain Bang Taufik ingin menjadikan isu nasionalisme dan pluralisme sebagai "senjata" dalam menghadapi pertarungan di beberapa pilkada dan puncaknya pada pemilu tahun 2009. Dan memang "senjata" ini cukup ampuh juga untuk meredam keperkasaan Partai Keadilan Sejahtera (PKS) dalam pilkada di DKI Jakarta beberapa waktu yang lalu.Meskipun harus dengan cara "keroyokan" dan diselingi dengan "black campaign". Sedangkan poin kedua dalam ceramahnya Taufik Kiemas berbicara tentang pluralisme dan terorisme di Indonesia yang saat ini telah menghadapi perlawanan dari apa yang ia sebut sebagai sektarianisme.Sektarianisme inilah yang menjadi embrio munculnya terorisme. Masih kata Taufik Kiemas, dan jika teroris telah masuk ke dalam partai politik akan susah membasminya. Dan tanpa ragu-ragu ia menyebut PKS sebagai kelompok yang membawa ideologi sektarianisme itu.Dapat diambil kesimpulan bahwa menjelang digelarnya pemilu 2009 segala strategi jauh-jauh hari sudah harus disiapkan. Moncong senapan sudah harus diarahkan. Peluru-peluru sudah harus disiapkan. Dan wacana kembali ke asas tunggal merupakan bentuk ketakutan yang luar biasa terhadap kekuatan partai Islam.PKS sebagai salah satu partai yg berideologi Islam adalah salah satu "main target" yang akan menjadi saingan mereka dalam pemilu 2009 nanti. PKS yang memiliki kader dengan tingkat militansi yang tinggi dan solid seakan menjadi momok yang menakutkan bagi keberlangsungan hidup partai-partai sekuler.Bahkan dalam beberapa pilkada yang sudah digelar di beberapa daerah PKS bahkan bisa bersaing dengan PDIP dan Golkar. Ini bisa menjadi signal negatif bagi PDIP, Golkar, dan PD. Sehingga dengan cara apapun bahkan kalau perlu dengan cara "main kayu" pun akan dilakukan asal PKS bisa keok.KrisGedung Menara Karya lt 10Jl Rasuna Said Blok X-5 Kav 1-2 Jakartakristian.adinata@yahoo.com98311153
(msh/msh)











































