Politisasi Bencana
Selasa, 25 Sep 2007 09:35 WIB
Jakarta - "Mengapa harus tunggu bencana baru kita peduli pada sesama. Kenapa harus tunggu bencana baru kita bersahabat dengan alam. Kenapa ga setiap hari berbuat seperti ini?"Begitulah grup band musik, Slank, menyentil kita semua lewat alunan lagu mereka. Kita semua baru membuka mata kala bencana telah tiba. Kita semua baru sadar kalau perbuatan kita selama ini salah setelah banjir menghampiri. Kita semua baru ngeh terhadap perilaku biadab kita pada alam ketika semesta sudah mulai marah. Kenapa?Manusiawi. Itulah jawaban ringan yang selalu saya dengar. "Lah karam maka bertimba" atau setelah mendapat celaka barulah manusia akan ingat kata peribahasa Melayu. Maka tak begitu mengherankan apabila ketika bencana datang dengan hebat semua orang berbondong-bondong melakukan aksi solidaritas dan aksi peduli bencana.Mahasiswa menggelar "kecrekannya" di tengah-tengah jalan. Anak-anak SMU mengumpulkan baju bekas. Aktivis dan LSM riuh-rendah melakukan pengawasan bantuan bencana. Yang pasti, berbagai macam cara dilakukan dengan tujuan awal satu, membantu saudara kita yang sedang menderita.Namun, situasi jadi lain apabila yang melakukan aksi peduli adalah kalangan politisi. Tidak menyelesaikan persoalan. Malah menambah gerah ruang perpolitikan nasional. Ambil sebagai contoh, kunjungan Megawati Soekarnoputri beberapa hari yang lalu. Karena gagal melakukan peninjauan terhadap korban melalui udara karena gangguan teknis para petinggi PDIP kemudian menuding bahwa Mega telah dijegal pemerintah.Hemat saya, tuduhan semacam ini menjadi sangat politis. Itu karena bisa ditafsirkan menjadi pertama, Mega yang sudah menjadi calon presiden dari PDIP, seolah terus-menerus memancing emosi pemerintah guna membangun front secara langsung.Kedua, Mega ingin mencitrakan dirinya menjadi orang yang dianiaya. Dengan menuduh dirinya telah dijegal pemerintah, tentu tujuannya satu, mengambil hati masyarakat dengan mencitrakan dirinya menjadi tokoh yang teraniaya oleh pemerintah.Ketiga, pihak Mega melemparkan tudingan ini tepat kepada msyarakat yang sedang membutuhkan bantuan, yakni korban bencana. Tentu, kalkulasi secara psikologis, korban bencana lebih mudah untuk ditarik simpatinya.Dalam tataran politis, tentu apa yang dilakukan Mega ini sah-sah saja. Namun, menjadi kurang etis apabila isu yang dimunculkan adalah dengan menuduh pihak lain. Akan lebih elegan apabila dalam menarik simpati massa yang lebih ditonjolkan adalah bantuan yang diberikan, baik pangan, obat-obatan, pakaian, dsb.. Bukan malah menyulut konflik dengan mengeluarkan pernyataan yang bisa memanaskan situasi politik nasional. Hentikanlah politisasi bencana sekarang juga.Miftahul KhoirKompleks Inkopad E 12/18Sasak Panjang Tajur Halang Bogormiftahulkhoir@yahoo.co.id081310880885
(msh/msh)











































