Sembako Bersayap
Senin, 24 Sep 2007 13:16 WIB
Jakarta - Beberapa kali pemberitaan di media massa pemerintah mengeluarkan statemen bahwa stok bahan pangan aman dan harganya relatif stabil. Kalau kita melihat statemen tersebut ibarat air di musim kemarau, menyejukkan. Tentunya ibu kita tidak akan bingung ketika akan berbelanja kebutuhan Ramadan dan Idul Fitri.Tetapi, kondisi tersebut berbalik 180 derajat alias tidak sesuai dengan realitas. Mulai beberapa hari ini beberapa sembako harganya mulai mengudara alias naik. Apalagi dampak kenaikan harga minyak goreng beberapa waktu lalu yang belum turun dan langkanya minyak tanah. Maka lengkaplah penderitaan rakyat kecil. Kondisi ini menjepit kehidupan sebagian masyarakat kita. Bagaimana tidak. Di tengah gempuran kenaikan harga sembako tidak diimbangi dengan kenaikan pendapatan. Apalagi menjelang Idul Fitri.Kenaikan harga sembako tidak terlepas dari kontribusi pemerintah. Beberapa waktu lalu pemerintah berencana menaikkan gaji PNS sebesar 20%. Belum sempat gaji naik sembako sudah naik duluan. Selain itu pemerintah cenderung lambat bereaksi terhadap kenaikan harga-harga. Sebagai contoh, pada waktu kenaikan harga minyak goreng pemerintah bereaksi ketika harga sudah tinggi.Seharusnya stabilitas harga yang dimaksud pemerintah adalah juga mengenai keterjangkauan harga beli masyarakat. Jangan sampai stok aman harga stabil tetapi stabil di harga yang tidak terjangkau masyarakat. Perlu langkah-langkah konkret pemerintah segera mematahkan "sayap-sayap" sembako. Biar tidak segera terbang tinggi sehingga sulit digapai rakyat kecil. Kita membutuhkan bukti nyata sekarang. Bukan statemen pemerintah semata. Arif Fajar HidayatHumas KAMMI Daerah SemarangJl Ngesrep Timur III.20 Semarang
(msh/msh)











































