Pendidikan Bencana

Pendidikan Bencana

- detikNews
Kamis, 20 Sep 2007 08:57 WIB
Pendidikan Bencana
Jakarta - Selama beberapa tahun terakhir ini Indonesia selalu ditimpa bencana. Mulai dari gempa bumi, tsunami, banjir, kebakaran, datang silih berganti. Bencana yang sering muncul sebenarnya bisa menjadi pelajaran bagaimana melakukan penanganan terhadap bencana.Selama ini penanganan bencana alam dikoordinasikan oleh Bakornas (Badan Koordinasi Nasional) dan Satkorlak (Satuan Koordinasi Pelaksana) penanggulangan bencana. Badan ini diharapkan mampu melakukan pengelolaan bencana dengan baik mulai penanganan korban, barang-barang korban, sampai penanganan pasca gempa. Bakornas dan satkornas ini harus dibuatkan standarisasi pengelolaan. Dengan adanya standarisasi pengelolaan bencana diharapkan memberikan gambaran tentang aktivitas yang harus dilakukan para relawan ketika melakukan bantuan ataupun pertolongan yang ada.Bakornas harus mampu melakukan program tanggap darurat reaksi cepat. Bakornas harus bertanggungjawab atas semua penanganan bencana dan mampu memobilisasi kekuatan yang ada untuk memberikan bantuan. Badan ini juga harus mampu memetakan daerah dan para korban yang layak mendapat bantuan. Koordinasi para relawan ataupun lembaga donor berada di bawah koordinasi lembaga ini. Hal ini dimaksudkan untuk memudahkan dalam distribusi bantuan dan relawan.Ketika pengelolaan bencana dalam satu sistem maka Bakornas dapat mengambil kebijakan tentang distribusi bantuan dan relawan yang berada di bawah koordinasinya sehingga bantuan tersebut akan tepat sasaran dan tidak terjadi penumpukan bantuan maupun relawan. Jangan sampai lembaga ini dalam menangani bencana bersifat sporadis dan reaktif. Akibatnya bisa muncul permasalahan-permasalahan yang seharusnya tidak terjadi. Misalnya pembagian bantuan yang tidak merata dan tidak layak.Pemerintah juga perlu melakukan pendidikan bencana kepada masyarakat. Masyarakat perlu dididik dan diberi bekal pengetahuan tentang kondisi geografis Indonesia, potensi bencana, tanda-tanda bencana, menyikapi datangnya bencana, dan penanganan para korban bencana.Bahkan untuk daerah-daerah yang rawan bencana pemerintah harus selalu mengingatkan dan melakukan sosialisasi tentang potensi bencana di daerahnya dan cara penanganannya. Bahkan kalau perlu pemerintah secara berkala melakukan simulasi penanganan bencana.Hal ini sangat perlu karena dengan bekal pengetahuan ini masyarakat tidak akan terlalu panik dan sedikit banyak tahu apa yang harus dilakukan ketika datang bencana. Di Jepang, setiap Kepala Keluarga sudah menyiapkan tas ransel berisi barang-barang darurat ketika gempa datang. Selain itu, di Amerika para warganya sudah membuat ruang bawah tanah lengkap dengan perbekalan selama seminggu sebagai antisipasi datangnya topan.Dari berbagai pengelolaan bencana yang ada perlu dibuat payung hukum yang jelas. Undang-undang ini sangat dibutuhkan karena nanti isinya akan mengatur bagaimana bencana tersebut dikelola dan siapa yang harus bertanggungjawab. Aturan ini akan memberi kejelasan legalitas hukum bagi lembaga yang bertanggungjawab untuk melakukan program pengelolaan bencana.Yang tak kalah penting sebenarnya adalah sikap manusia terhadap alam. Selama ini kalau kita perhatikan dengan seksama sebenarnya faktor manusia memiliki kontribusi yang cukup besar terhadap munculnya bencana alam.Kasus banjir di Kalimantan misalnya. Banjir disebabkan karena di daerah tersebut marak penebangan hutan. Hutan sebagai deposit air tidak mampu menampung air hujan karena pohonnya sudah ditebang sehingga air yang seharusnya di bawah tanah langsung menuju pemukiman. Sebenarnya kalau kita menghormati alam maka alam pun akan menghormati kita.Arif Fajar HidayatMahasiswa Fakultas Ekonomi Universitas Negeri SemarangTelepon 081575037930 (msh/msh)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads