Peluang Mega di 2009

Peluang Mega di 2009

- detikNews
Senin, 17 Sep 2007 07:29 WIB
Peluang Mega di 2009
Jakarta - Diwarnai tangis haru Megawati Soekarno Putri menyatakan siap kembali dicalonkan menjadi presiden RI pada pemilu presiden 2009. Rakernas II dan Rakornas PDIP seakan mendapatkan jawaban penting yang memang ditunggu. Ribuan kader PDIP dari seluruh pelosok tanah air tak lagi bertanya-tanya mengenai calon presiden partainya. Mega is back. Dan dampaknya, panggung politik jelang 2009 kini mulai menghangat. Perebutan kursi RI 1 diyakini lebih mendebarkan daripada pemilu parlemen. Pasalnya, selain memilih orang, pilpres nanti juga siap menghadirkan "duel" revans antara Mega versus SBY. Setelah kalah telak dari SBY pada 2004 PDIP dalam tiga tahun ini telah banyak belajar. Kini mereka mempersiapkan Mega jauh-jauh hari. Bagaimana peluang keduanya.Terpilihnya kembali Mega bukanlah kejutan. Pertama, PDIP hingga kini belum memiliki tokoh alternatif yang dapat menandingi popularitas Megawati. Nama-nama seperti Taufik Kiemas, Tjahjo Kumolo, maupun Pramono Anung, sulit untuk keluar dari bayang-bayang kharisma Mega. Sejak awal ketiganya dianggap sebagai loyalis Mega yang sulit berdiri sejajar. Dengan kondisi demikian dan dihadapkan waktu yang kian sempit menuju 2009 pilihan kepada figur Mega merupakan langkah yang realistis.Kedua, ancaman perpecahan di PDIP dicoba diantisipasi sejak dini oleh elit di sana. Bukan rahasia lagi bahwa partai ini dalam sejarahnya selalu diwarnai dengan perpecahan dan friksi. Terakhir, barisan politisi senior yang dikomandoi Laksamana Sukardi dan Roy BB Janis menyempal membentuk Partai Demokrasi Pembaruan (PDP) pasca pemilu 2004. Dengan kembali memilih Mega pada 2007 ini paling tidak PDIP secara organisasi lebih solid dan terhindar dari ancaman eksodus lanjutan. Mega saat ini menjadi satu-satunya solidarity maker di PDIP. Namun, yang menjadi pertanyaan sampai kapan PDIP akan mempertahankan strategi demikian. Dalam politik rekrutmen politik harus berjalan secara alami. Tujuannya sebagai bagian dari sirkulasi politik di mana elit-elit lama digantikan dengan the new bloods, yakni kader-kader muda yang segar dan penuh semangat. Jika sirkulasi politik tidak berjalan sehat, sebagaimana rumah, maka suhu di ruangan akan terasa panas. Dan ini yang membuat penghuni rumah merasa tidak nyaman. Sebagaimana statemen Tjahjo Kumolo PDIP sejauh ini telah menjalankan pengkaderan secara sistematis. Dengan proses tersebut diharapkan nantinya muncul SDM-SDM (Sumber Daya Manusia) partai yang unggul dan berkualitas. Akan terserap ke mana kader-kader muda penuh talenta itu jika budaya politik paternalistik di PDIP masih dipertahankan. Jangan sampai mampetnya sirkulasi politik menghambat munculnya figur-figur alternatif. Idealnya, semakin banyak figur muncul di partai semakin baik karena mereka akan berkompetisi secara sehat yang akhirnya melahirkan tokoh terbaik. Di luar itu pada pemilu nanti perilaku pemilih (voters) diperkirakan lebih kritis lagi. Dengan tidak hanya menentukan pilihan karena faktor kharisma.Jika demikian sejauh mana peluang Mega untuk melakukan revans atas SBY pada pemilu 2009 nanti. Sejauh ini para elit di PDIP terlihat happy dengan grafik popularitas SBY yang cenderung menurun. Dalam tiga survei terakhir, versi Lembaga Survei Indonesia (LSI), popularitas SBY memang terkoreksi bertahap. Pada Desember 2006, SBY masih sangat dominan dengan level popularitas 67 persen. Memasuki awal 2007, di mana rentetan kecelakaan pesawat dan laut terjadi, publik merespon dengan menurunkan dukungan ke SBY hingga ke level 54 persen (Februari 2007). Memasuki Maret 2007, grafik dukungan untuk pertama kalinya sejak 2004 menembus batas psikologis ke level 49,7 persen. Namun demikian penurunan popularitas SBY sangat dipengaruhi oleh tingkat kepuasan publik atas kebijakan pemeirintah. Artinya, jika SBY dan pemerintahannya mampu memperbaiki kebijakannya maka peluang untuk terpilih kembali amat terbuka.Indikator ini dapat dilihat pada pertanyaan siapa yang akan dipilih jika pilpres dilaksanakan hari ini. Berdasarkan tiga survei LSI terakhir nama SBY masih unggul dari Mega. Oktober 2006, SBY dipilih 46,9 persen responden, Mega hanya 18,3 persen. Desember 2006, SBY naik ke level 47,7 persen, sementara Mega justru turun ke 17,4 persen. Tetapi, pada survei terakhir, Maret 2007, terjadi perubahan signifikan, di mana dukungan ke SBY turun menjadi 39,2 persen sementara Mega naik ke 25,5 persen.Gap antara SBY-Mega yang pada Desember 2006 sekitar 30,3 persen, menyempit secara drastis menjadi hanya 13,7 persen. Ini artinya, SBY kehilangan jarak (gap) dukungan efektif dengan Mega sekitar 16,6 persen dalam waktu tiga bulan. Tentu saja harus dicatat bahwa banyaknya bencana alam dan kecelakaan membuat publik begitu cepat mengalihkan dukungan.Menjadi menarik menunggu ke mana grafik popularitas SBY dan Mega pada satu bulan hingga dua bulan ke depan. Pihak PDIP sebagai oposisi tentu mengharap tren Maret 2007 berlanjut. Sementara pihak SBY harus bekerja keras untuk mengembalikan kepercayaan publik. Tetapi, sebagaimana disinggung sebelumnya, fluktuasi popularitas juga tergantung dari kondisi saat itu dan kebijakan yang diambil. Memasuki pertengahan 2007, bencana alam dan kecelakaan tak lagi memberondong opini publik. Dengan demikian tingkat emosional responden lebih stabil dari sebelumnya. Ditambah dengan iklim positif pada ekonomi dan stabilnya politik maka akan terjadi perubahan opini publik pasca Maret 2007.Selain itu, sejumlah capaian positif yang berpotensi rebound bagi popularitas SBY terjadi pada pertengahan tahun ini. Berdasarkan data BPS (Badan Pusat Statistik) jumlah penduduk miskin pada tahun 2007 menurun jika dibandingkan 2006. Pada 2007 penduduk miskin sebanyak sebanyak 37,17 juta atau 16,6 persen. Angka ini menurun jika dibandingkan dengan tahun 2006 yang berjumlah 39,30 juta orang atau 17,7 persen. Begitu pun dengan angka pengangguran terbuka, yang juga menunjukkan penurunan. Pada Februari 2006, angka pengangguran terbuka mencapai 10,4 persen (11,10 juta). Sementara pada bulan yang sama 2007, jumlah penganggur turun menjadi 9,8 persen (10,55 juta orang). Tren positif angka kemiskinan dan pengangguran dipengaruhi oleh mulai stabilnya kinerja ekonomi nasional. Pada akhir Juni 2007, cadangan devisa kita mencapai USD 50,9 miliar, bertambah USD 8,3 miliar dibandingkan akhir tahun 2006. Nilai tukar terjaga stabilitasnya pada kisaran yang kondusif bagi pelaku ekonomi. Sektor perbankan memiliki neraca keuangan yang sehat dan semakin pulih dalam fungsi perantara untuk menunjang kebangkitan ekonomi. Sektor riil juga sudah menunjukkan momentum bangkit kembali.Selain itu, APBN juga semakin membaik dengan rasio utang yang semakin turun dari 47 persen pada tahun 2005, menjadi sekitar 35,4 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB) pada tahun 2007.Kampanye efektif bagi oposisi adalah mengevaluasi dan memberikan kritik terhadap kebijakan pemerintah. Hal ini telah dilakukan PDIP dengan baik. Namun, yang belum dilakukan oleh partai oposisi di Indonesia adalah menyiapkan kebijakan alternatif dan kabinet bayangan sehingga tekanan yang diberikan ke pemerintah tidak terkesan sporadis. PDIP memiliki momentum untuk melakukan kedua hal di atas. Namun sejauh ini, konsentrasi partai banteng justru lebih banyak terserap ke pilkada dan pilpres 2009. Padahal jika tradisi menyiapkan kebijakan tandingan dan kabinet bayangan dilakukan, maka publik akan melihat peta pertarungan yang lebih kongret dan substantif. Sementara bagi pemerintah, mempertahankan kekuasaan tentu jauh lebih sulit daripada meraihnya seperti pada pemilu 2004 lalu. Apalagi dengan dukungan hanya Partai Demokrat (PD) yang bukan mayoritas, tantangan SBY untuk memenangkan persaingan dengan Mega (dan tokoh-tokoh lain) pada 2009 kian berat. Namun, tentunya itu semua bukan tak ada celah. Kekuatan karakter dan pesona politik SBY hingga kini masih belum tertandingi. Tinggal bagaimana SBY mampu mengontrol menteri-menterinya untuk menjalankan kebijakan yang benar dan pro publik. Jika ini saja dilakukan, maka akan menjadi alat kampanye paling efektif, mengingat posisi SBY yang sebagai incumbent. Kita tunggu saja pihak mana yang mampu memaksimalkan waktu tersisa menuju 2009. Alex SudarwantoKompleks Griya Pebuaran Estate Jl Kenanga 6 No 23 RT 005/ RW XIBojong Gede Kabupaten Bogor alex_sudarwanto@yahoo.co.id021 933775345 (msh/msh)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads