Kritik Mega
Rabu, 12 Sep 2007 08:07 WIB
Jakarta - Setelah sekian lama memilih "bungkam" dengan hiruk-pikuk politik nasional Ketua Umum PDIP pun mulai angkat bicara. Saat Rapat Kerja Nasional (Rakernas) II PDIP di Gedung Hall B2 PRJ pada 8 September 2007 dengan lantang putri Soekarno ini banyak mengeluarkan kritik pedas buat pemerintah. Menariknya, kritik yang disampaikan Mega ini langsung pada poin yang dianggap sebagai keberhasilan pemerintahan SBY-JK. Kritik-kritik itu antara lain dalam penandatanganan MOU Helsinki pemerintah lebih banyak menuruti tekanan kepentingan asing. Padahal selama ini kesepakatan Helsinki yang menjadi akhir konflik di Aceh selama puluhan tahun dianggap sebagai salah satu keberhasilan besar bagi pemerintahan SBY-JK.Kritik kedua, pemerintah dianggap gagal mensejahterakan rakyatnya. Pemberian bantuan tunai langsung (BTL) yang dilakukan pemerintah beberapa tahun yang lalu bukanlah langkah tepat untuk menyelesaikan persoalan kemiskinan. Menurutnya pemberian BTL hanya memberi umpan bukan kail sehingga tidak menyelesaikan akar persoalan kemiskinan. Padahal sesuai data BPS baru-baru ini jumlah orang miskin di Indonesia mengalami penurunan sebesar lebih dari satu persen yaitu dari 39,30 juta orang miskin pada Maret 2006 (17,75%) menjadi 31,17 juta orang pada Maret 2007 (16,58%). Meski data ini kontroversial setidaknya dapat menjadi acuan keberhasilan pemerintahan SBY-JK.Kritik yang dikeluarkan Mega ini mempunyai tiga tafsir politik. Pertama, kritik yang diarahkan pada poin keberhasilan pemerintah dijadikan alat untuk memunculkan kesan bahwa pemerintahan SBY-JK benar-benar gagal total dalam menjalankan kekuasaanya. Hal ini diharapkan akan terus mengurangi popularitas SBY yang kini memang terus menyusut dari tahun ke tahun.Kedua, kritik Mega kepada pemerintah ini sebagai tanda awal pukulan genderang perang pada pemilu 2009. Mega akan dicalonkan oleh PDIP menjadi capres pada pemilu ketiga era reformasi ini. Dan banyak ditaksir pesaing terkuat Mega pada pemilu 2009 hanyalah SBY. Itulah sebabnya Mega perlu melakukan konfrontasi langsung dengan pemerintah untuk mendongkrak popularitasnya. Ketiga, Kritik Mega ini ditujukan sebagai politik pencitraan. Citra PDIP sebagai partainya wong cilik telah luntur kala Mega menjadi presiden. Kiranya, dengan mengemukakan kritik masalah kemiskinan Mega ingin kembali memunculkan citra PDIP sebagai partainya wong cilik. Namun, catatan penting yang harus diwaspadai Mega adalah kritik-kritiknya terkait poin-poin keberhasilan pemerintahan SBY-JK bisa menjadi kontraproduktif. Jika tidak hati-hati Mega dan PDIP malah menuai feed back negatif terkait kritik yang disodorkannya kepada pemerintah. Karena poin penting saat ini adalah masyarakat pemilih sudah mulai cerdas dalam menganalisa isu-isu yang datang ke tengah publik.Selvi OktavianiJl Kartini 53 B Depokselvi_oktaviani@yahoo.co.id081380287583
(msh/msh)











































