Tren Baru Spanduk

Tren Baru Spanduk

- detikNews
Rabu, 05 Sep 2007 09:18 WIB
Tren Baru Spanduk
Jakarta - Sewaktu musim kampanye pemilihan kepala daerah DKI Jakarta kota Jakarta meriah dibanjiri oleh spanduk dan poster kampanye dari masing-masing calon gubernur. Tentu saja walaupun saya menggerundeng karena Jakarta menjadi kotor oleh selebaran kampanye saya tetap bisa menerimanya. Saat itu memang musim kampanye.Namun, yang masih terus saya pertanyakan sampai detik ini adalah keberadaan spanduk-spanduk kampanye terselubung dari semua calon-calon kepala daerah. Tren baru yang sungguh membuat kota menjadi kotor.Tengoklah Kabupaten Tangerang. Saat ini sakit rasanya mata saya melihat Ciputat yang sudah semrawut diperparah oleh aneka spanduk iklan. Baik iklan produk maupun iklan orang. Saya sebut sebagai iklan orang karena walaupun spanduk-spanduk tersebut berisi imbauan-imbauan yang baik namun ada kepentingan lain yakni iklan perkenalan diri kepada masyarakat untuk menjadi calon bupati.Sungguh, saya pribadi bukannya jadi senang dan bersimpati. Ndilalah saya malah jadi sebal dan 'disgusted' melihat muka-muka orang-orang tersebut yang ada di setiap jarak 200 meter. Tidak adakah cara yang lebih cerdas untuk bersosialisasi daripada memasang ribuan spanduk yang membuat kotor kota.Jangan heran kalau semua orang Ciputat semuanya darah tinggi. Sudah sebal dengan macet akibat pembangunan jalan layang dan 'ribuan' angkot, motor, dan bus yang tidak tertib berlalu lintas diperparah dengan pemandangan menyebalkan. Aneka muka calon gubernur dengan kampanye terselubungnya.Jika biaya untuk membuat spanduk adalah Rp 250,000,00 maka dengan 100 buah spanduk saja sudah habis 25 juta. Coba biaya 'sosialisasi' ini diubah menjadi program promosi melalui pemberian beasiswa SD bagi anak-anak tidak mampu.Jika satu anak membutuhkan biaya Rp 50,000,00 per bulannya, 500 orangtua akan berterima kasih. Dan mungkin bisa jadi bersimpati dan mencoblos anda. Saya katakan mungkin karena saya rasa masyarakat Tangerang sudah sedikit lebih cerdas dalam berpolitik. Lihat saja fenomena 'kemenangan' PKS dalam pilkada DKI.Tidak adakah aturan mengenai hal ini. Terlepas dari aneka spanduk konyol kampanye terselubung tersebut saya juga sebal melihat ribuan spanduk yang mengotori kota saya ini. Kalau memang spanduk tersebut membayar retribusi tolong kembalikan retribusi tersebut dengan cara membersihkan bekas-bekas spanduk yang sudah melewati masa izinnya.Rizka Elyza Sari Wisma 46 Kota BNI Jakarta Pusat r.e.sari@gmail.com 081387649313 (msh/msh)


Berita Terkait