Lokananta The Audio Library

Ralat

Lokananta The Audio Library

- detikNews
Senin, 27 Agu 2007 08:06 WIB
Lokananta The Audio Library
Solo - Saya ingin mengajukan koreksi atas tulisan saya yang dimuat di opini Suara Pembaca detikcom. Awalnya saya mengirimkan tulisan dengan judul "Lokananta, The Audio Library" lalu diubah menjadi "Supersemar di Lokananta".Saya ingin meluruskan sebenarnya di Lokananta tidak ada rekaman pidato Sukarno tentang Supersemar, yang ada di Lokananta hanya pidato Sukarno saat Pembukaan KTT Nonblok I tahun 1955 dan termasuk rekaman pembacaan teks Proklamasi. Pidato rekaman Sukarno tentang Supersemar itu adalah "temuan" Roy Suryo. Kutipan pidato Sukarno itu diutarakan Roy Suryo saat pembukaan pameran "Dokumentasi Sejarah Menuju Lokananta Era Baru" pada 22 Agustus. Saya akui, kesalahpahaman itu datang dari tulisan saya yang kurang lengkap. Untuk itu saya memohon maaf. Saya khawatir tulisan itu memberikan informasi yang salah kepada pembaca.Terima kasih,Dony AlfanSelasa, 28 Agustus 2007 9:14 AMLokananta The Audio Library Sejarah, selain bisa disimpan dalam bentuk teks (kitab, buku, dan dokumen), juga bisa disimpan dalam bentuk gambar atau imej, video, dan audio. Untuk bentuk yang terakhir itu, di Solo ada satu tempat yang menyimpan banyak sekali fakta sejarah dan juga seni budaya Indonesia dalam bentuk audio. Tempat itu adalah Lokananta.Lokananta mempunyai arti "gamelan di kahyangan yang berbunyi tanpa penabuh", sungguh beraroma mistis. Tempat yang berdiri pada 29 Oktober 1956 ini, dulu sebenarnya adalah bagian dari Jawatan RRI (Radio Republik Indonesia), yang mempunyai tugas memproduksi piringan hitam untuk bahan siaran RRI di seluruh Indonesia. Kini Lokananta menjadi salah satu cabang dari Perum Percetakan Negara. Lokananta adalah perusahaan rekaman pertama di Indonesia.Saya menyebut Lokananta sebagai perpustakaan audio, karena hingga saat ini Lokananta memiliki koleksi sekitar 40.000 keping piringan hitam dan masih banyak lagi koleksi audio dalam beragam format. Koleksinya mulai dari rekaman lagu nasional dan daerah (seperti Gesang, Waldjinah, Titik Puspa, Bing Slamet, dan bahkan Didik Kempot), rekaman seni budaya (semisal Karawitan Ki Nartosabdho, pementasan kesenian, dan dagelan Basiyo), hingga fakta-fakta sejarah penting, antara lain beberapa piringan hitam pidato-pidato Soekarno, dan 833 keping piringan hitam yang berisi lagu kebangsaan Indonesia Raya versi tiga stanza yang sempat membuat heboh itu.Roy Suryo yang menjadi salah satu pembuka dalam Pameran Dokumentasi Sejarah Menuju Lokananta Era Baru pada 22 Agustus lalu juga mengungkapkan temuan terbarunya seputar Supersemar yang tidak jelas keberadaannya itu. Temuannya kali ini adalah satu rekaman Pidato Kenegaraan Bung Karno pada peringatan kemerdekaan RI ke-21 (tahun 1966), berikut adalah kutipannya:"Surat Perintah Sebelas Maret itu mula-mula dan memang sejurus waktu, membuat mereka bertampik sorak-sorai kesenangan. Dikiranya SP Sebelas Maret adalah satu penyerahan pemerintahan, dikiranya SP Sebelas Maret itu satu Transfer of Authentic, of Authority, padahal TIDAK. SP Sebelas Maret adalah suatu perintah pengaman, perintah pengamanan jalannya pemerintahan. Demikian kataku waktu melantik kabinet. Kecuali itu, juga perintah pengaman keselamatan pribadi Presiden, perintah pengaman wibawa Presiden, perintah pengamanan ajaran Presiden, perintah pengaman beberapa hal... ".Detail-detail sejarah semacam petikan pidato di atas sangat jarang dan bahkan tidak pernah kita dapatkan di bangku sekolah, dari SD hingga SMA. Banyak orang konservatif di Republik ini hanya mengakui sejarah sebagai yang tertulis dan tercetak, bukan yang terdengar (audible), bahkan fakta sahih tentang sejarah yang baru (boleh) terucap sekarang sekalipun cuma dianggap menodai sejarah yang sudah tercetak dalam buku-buku sejarah berkurikulum.Sudah semestinya Pemerintah berupaya untuk menyelamatkan bukti-bukti sejarah tersebut agar tidak musnah dimakan usia, misalnya dengan mengubahnya menjadi file digital agar bisa bertahan lebih lama. Sehingga generasi penerus di negeri ini tetap memiliki landasan sejarah yang otentik. Dan mereka tidak perlu terbang ke negara lain untuk mempelajari sejarah dari bangsanya sendiri.Untuk anda yang belum pernah berkunjung ke Lokananta, saat anda berada di Solo sempatkanlah untuk mengunjunginya. Letaknya ada di Jalan Jend. Ahmad Yani No 379. Selain banyak menyimpan koleksi-koleksi audio, di situ juga menyimpan alat-alat lawas dalam industri rekaman, seperti mikropon jaman dulu yang konon harganya semahal roda empat, alat pengganda piringan hitam dan kaset, speaker-box besar yang bentuknya lebih mirip bupet, hingga mixer tahun 80an. Opini Sebelumnya Senin, 27/08/2007 08:06Supersemar di Lokananta Pengirim: Dony Alfan SutantoSejarah, selain bisa disimpan dalam bentuk teks (kitab, buku, dan dokumen), juga bisa disimpan dalam bentuk gambar/imej, video, dan audio. Untuk bentuk yang terakhir di Solo ada satu tempat yang menyimpan banyak sekali fakta-fakta sejarah dan juga seni budaya Indonesia dalam bentuk audio. Tempat itu adalah Lokananta.Lokananta mempunyai arti "gamelan di kahyangan yang berbunyi tanpa penabuh". Sungguh beraroma mistis. Tempat yang berdiri pada 29 Oktober 1956 ini dulu sebenarnya adalah bagian dari Jawatan RRI (Radio Republik Indonesia) yang mempunyai tugas memproduksi piringan hitam untuk bahan siaran RRI di seluruh Indonesia. Kini, Lokananta menjadi salah satu cabang dari Perum Percetakan Negara. Lokananta adalah perusahaan rekaman pertama di Indonesia.Saya menyebut Lokananta sebagai perpustakaan audio karena hingga saat ini Lokananta memiliki koleksi sekitar 40.000 keping piringan hitam. Lokananta juga masih banyak lagi koleksi audio dalam beragam format. Koleksinya mulai dari rekaman lagu nasional dan daerah (seperti Gesang, Waldjinah, Titik Puspa, Bing Slamet, dan bahkan Didik Kempot). Rekaman seni budaya semisal Karawitan Ki Nartosabdho, pementasan kesenian, dan dagelan Basiyo hingga fakta-fakta sejarah penting. Antara lain beberapa piringan hitam pidato-pidato Soekarno dan 833 keping piringan hitam yang berisi lagu kebangsaan Indonesia Raya versi tiga stanza yang sempat membuat heboh itu.Ada satu rekaman pidato Bung Karno yang sebenarnya mampu mengungkapkan secara gamblang tentang misteri seputar Supersemar --yang tidak jelas keberadaannya itu. Rekaman itu adalah rekaman Pidato Kenegaraan Bung Karno pada peringatan kemerdekaan RI ke-21 (tahun 1966). Berikut adalah kutipannya:"Surat Perintah Sebelas Maret itu mula-mula dan memang sejurus waktu, membuat mereka bertampik sorak-sorai kesenangan. Dikiranya SP Sebelas Maret adalah satu penyerahan pemerintahan, dikiranya SP Sebelas Maret itu satu Transfer of Authentic, of Authority, padahal TIDAK. SP Sebelas Maret adalah suatu perintah pengaman, perintah pengamanan jalannya pemerintahan. Demikian kataku waktu melantik kabinet. Kecuali itu, juga perintah pengaman keselamatan pribadi Presiden, perintah pengaman wibawa Presiden, perintah pengamanan ajaran Presiden, perintah pengaman beberapa hal...".Detail sejarah semacam petikan pidato di atas sangat jarang dan bahkan tidak pernah kita dapatkan di bangku sekolah, dari SD hingga SMA. Banyak orang konservatif di Republik ini hanya mengakui sejarah sebagai yang tertulis dan tercetak. Bukan yang terdengar (audible). Bahkan fakta sahih tentang sejarah yang baru (boleh) terucap sekarang sekalipun cuma dianggap menodai sejarah yang sudah tercetak dalam buku-buku sejarah berkurikulum.Untuk anda yang belum pernah berkunjung ke Lokananta saat anda berada di Solo sempatkanlah untuk mengunjunginya. Letaknya ada di Jalan Jenderal Ahmad Yani No 379. Selain banyak menyimpan koleksi-koleksi audio di situ juga menyimpan alat-alat lawas dalam industri rekaman. Seperti mikropon zaman dulu yang konon harganya semahal roda empat, alat pengganda piringan hitam dan kaset, speaker-box besar yang bentuknya lebih mirip bupet, hingga mixer tahun 80-an.Dony Alfan SutantoJl Yudhistira 26 Solodonyrockdj@yahoo.com08122978606 (msh/msh)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads