Pola Hidup Instan dalam Biskuit
Selasa, 21 Agu 2007 10:42 WIB
Jakarta - Berita larangan masuk bagi produk asal Indonesia kembali diumumkan oleh Pemerintahan China. Kali ini produk yang gagal memasuki China adalah biskuit Arnott's walaupun masih dalam taraf klarifikasi.Menurut AQSIQ (Administration of Quality Supervision, Inspection and Quarantine), terdapat tiga jenis biskuit buatan PT Arnott's Indonesia yang mengandung kadar aluminium (Al) yang berkisar antara 280 sampai 320 mg/kg (ppm). Sedangkan batas tertinggi Al yang diperbolehkan oleh Pemerintahan China hanya 100 mg/kg (http://news.xinhuanet.com/english/2007-08/15/content_6537756.htm). AQSIQ adalah salah satu dari enam badan atau instansi yang memiliki wewenang dalam pengawasan obat dan makanan sebagaimana BPOM (Badan Pengawas Obat dan Makanan) di Indonesia.Terbukti tidaknya produk biskuit yang disebutkan mengandung Al yang berlebihan, tulisan ini mencoba memunculkan kembali ide pola makan empat sehat lima sempurna mengingat banyaknya penggunaan food additive (FA) dalam produk makanan olahan.Sekilas Tentang AluminiumAluminium adalah unsur logam non-essential yang akrab dengan kehidupan kita sehari-hari. Penggunaannya pun sangat luas, mulai dari panci masak, food additives, obat maag sampai pesawat terbang dan dapat dikatakan hampir semua makanan dan minuman mengandung Al walaupun kandungannya bervariasi dari rendah sampai tinggi. Dari segi toksisitas, Al berada jauh di bawah logam-logam berat seperti arsenik, merkuri, dan timbal. Asupan Al yang berlebihan dan dalam jangka waktu yang cukup lama dicurigai dapat menimbulkan penyakit yang berhubungan dengan penurunan fungsi otak dan saraf seperti Parkinson dan Alzheimer atau pikun (http://www.atsdr.cdc.gov/toxprofiles/tp22-c2.pdf).Menurut hasil penelitian WHO, asupan rata-rata Al untuk anak-anak mencapai 2-6 mg/hari sedangkan pada orang dewasa berkisar antara 6 sampai 14 mg/hari(http://www.inchem.org/documents/jecfa/jecmono/v024je07.htm). Dari jumlah tersebut sebagian besar masuk lewat makanan. Sedangkan asupan Al akibat dari penggunaan peralatan masak berbahan Al dan lewat air minum relatif kecil. Sifat Al yang tidak mudah tercuci (leaching) dan tahan terhadap korosi sehingga membuat Al aman digunakan sebagai bahan dalam pembuatan alat masak. Penggunaan senyawa Al sebagai food additive (FA) adalah legal dan senyawa turunan aluminium fosfat-lah yang paling banyak digunakan sebagai FA. Penggunaan Al sebagai FA dapat diketahui jika pada label kemasan tercantum tulisan E173, E520, E521, E523 E541, E545, E554, E555 E556 atau E559. Nilai ADI dan Asupan Al Untuk semua jenis FA, WHO mengeluarkan standar yang dinamakan ADI (acceptable daily intake). Nilai ADI ini merupakan suatu batas maksimum yang dapat ditoleransi oleh tubuh dan dalam jangka waktu lama tidak menimbulkan efek yang merugikan kesehatan manusia. Adapun nilai ADI untuk Al adalah 1 mg/kg berat badan per hari. Secara terpisah, melalui hasil penelitian, ATSDR (Agency for Toxic Substances and Disease Registry, USA) juga menetapkan 1 mg/kg/hari dengan istilah MRL (minimal risk levels) (http://www.atsdr.cdc.gov/toxprofiles/tp22-c2.pdf). Mengacu pada nilai tersebut, maka seorang dewasa dengan berat badan 60 kg dapat mentolerir 60 mg Al setiap harinya. Sedangkan anak-anak dengan berat 10-15 kg dapat "mengkonsumsi" 10-15 mg Al. Biskuit adalah makanan yang dikonsumsi dari bayi sampai orang tua. Jika kandungan Al dalam biskuit sebesar 100 mg/kg (sama dengan standar China) dan seorang anak (berat badan 10 kg) mengkonsumsi satu bungkus biskuit (200 gram) setiap harinya, maka asupan Al-nya telah melampaui maksimum asupan harian yang ditetapkan oleh WHO (10 mg vs 20 mg dari biskuit). Terlebih lagi jika kandungan Al dalam biskuit itu sampai tiga kali di atas standar yang diterapkan oleh China, maka asupan Al dari biskuit itu setara dengan maksimum asupan harian untuk orang dewasa seberat 60 kg. Tidak terbayangkan bagaimana masa depan anak-anak jika tiap harinya mendapat asupan Al yang demikian tinggi. Hasil hitungan di atas tentunya hanya dari biskuit dan masih belum memperhitungkan asupan Al dari makanan lain yang mungkin juga menggunakan Al sebagai FA.Penggunaan FA dalam produk makanan olahan tentunya tidak lepas dari tuntutan zaman yang semuanya ingin serba instan. Dan itu pula yang menjadikan kita semakin lupa akan pola makan empat sehat lima sempurna yang lebih menitikberatkan pada masakan rumah. Pada akhirnya keputusan ada pada kita. Meluangkan sedikit lebih banyak waktu untuk pola makan dan hidup sehat atau mengikuti pola serba instan. Kian Siong645 Shimo Okubo, Saitama I house 3103Sakura ku, Saitama Shisiong@post.saitama-u.ac.jp+81-90-6042-1487
(msh/msh)











































