TI Layanan Kesehatan

TI Layanan Kesehatan

- detikNews
Selasa, 14 Agu 2007 08:12 WIB
TI Layanan Kesehatan
Jakarta - Sistem pendukung keputusan klinis digunakan saat ini secara meluas dalam berbagai pengelolaan penyakit. Beberapa penelitian mengevaluasi pula hasil guna penerapannya. Beberapa penelitian terdahulu menunjukkan efektivitas penggunaan sistem komputer untuk memperbaiki praktek peresepan, mengurangi medication error, dan meningkatkan kepatuhan terhadap pelaksanaan standar pelayanan (clinical practice guideline)Teknologi informasi (TI) kesehatan dan sistem pendukung keputusan klinis memiliki 4 fungsi yang utama, yaitu: (1) administratif, mendukung proses dokumentasi dan koding klinis, prosedur, dan rujukan pasien, (2) mengelola kompleksitas, menjaga agar pasien tetap ada di jalur protokol yang benar, (3) pengendalian biaya, mencegah pemeriksaan berlebihan dan pemeriksaan ulang yang tidak perlu, dan (4) mendukung keputusan klinis, mendukung diagnosa klinis dan proses terapi yang sesuai dengan bukti-bukti ilmiah terkini, standar pelayanan medik yang baik, dan mendukung best practice.Kajian sistematis yang lebih baru oleh Chaudhry, dkk (2006) memperlihatkan bahwa TI medis (termasuk sistem pendukung keputusan klinis) memiliki peran cukup besar untuk meningkatkan kepatuhan terhadap standar pelayanan medik, mampu memantau penggunaan obat, dan mengurangi risiko kesalahan pengobatan. Kajian Blumenthal dan Glaser (2007) menyatakan bahwa ada harapan yang besar akan perbaikan kualitas pelayanan kesehatan akibat penggunaan TI kesehatan.Bates dan Gawande (2003) mengidentifikasi 3 faktor penghambat utama dalam penerapan TI pada praktek klinik sehari-hari, yaitu: (1) Hambatan finansial. Pengembangan sistem pendukung keputusan klinis memerlukan biaya tersendiri, dan perlu biaya tambahan untuk mengevaluasi secara berkala hasil guna sistem tersebut; (2) Belum adanya standar. Belum ada standar data-data apa saja yang direkomendasikan oleh organisasi profesi tertentu untuk dimasukkan dalam sistem pendukung keputusan klinis. Saat ini sistem yang ada masih sangat bervariasi; (3) Hambatan kultural. Penggunaan TI belum dipandang sebagai suatu hal yang penting bagi para dokter dan manajer kesehatan. Pada situasi di negara berkembang seperti Indonesia hambatan yang lain adalah penguasaan TI oleh para praktisi pelayan kesehatan. Semoga di waktu mendatang hal tersebut dapat diatasi.Rizaldy Pinzon, dr. MKes, SpSSMF Saraf RS Bethesda Yogyakartamedidoc2002@yahoo.com08122731487 (msh/msh)



Berita Terkait