Jiwa Elit Masih Kerdil
Selasa, 31 Jul 2007 10:04 WIB
Jakarta - Kekerdilan jiwa para politisi kita kembali menunjukkan kemirisan. Kebesaran hati untuk legowo menerima proses politik masih menjadi barang yang mahal. Padahal, ketika pilihan menjadi politisi sudah diambil ia seharusnya sudah siap menerima risiko apa pun yang harus ditanggungnya.Contoh paling anyar datang dari sosok mantan wakil Ketua DPR Zaenal Ma'arif. Tidak terima proses recall dirinya disetujui oleh presiden, politisi Partai Bintang Reformasi (PBR) ini mengumbar fitnah --yang boleh dibilang salah alamat. Ia mengancam akan membeberkan fakta bahwa Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) pernah menikah sebelum bersanding dengan Ibu Ani Yudhoyono. Lucunya, pelampiasan sakit hati ini justru menyorot ke SBY yang tentunya tak punya kuasa untuk menggusur politisi DPR jika tidak ada permintaan resmi dari Dewan yang "terhormat" itu.Sangat disayangkan apabila para politisi kita selalu memberikan pendidikan politik yang kurang baik. Seharusnya, ketika ingin melawan proses recall itu, Zaenal tidak melakukan fitnah kepada orang lain, melainkan instropeksi internal di tubuh PBR sendiri. "Kalah" dalam pertandingan politik adalah sebuah konsekuensi dan menjadi hal lumrah. Kekalahan itu tak kemudian membuatnya membabi buta dalam mencari pelampiasan. Karena sekali lagi, kondisi ini menunjukkan betapa picis dan kerdilnya jiwa Zaenal sendiri.Sudah sepatutnya arena politik dijadikan ajang sehat dalam memperebutkan kekuasaan. Kemenangan tentunya harapan semua orang. Akan tetapi jika kalah terimalah dengan lapang dada tanpa harus berbuat sesuatu yang irasional dan tak profesional. Sudah saatnya para elit memberikan pendidikan politik yang baik. Salah satunya berani menerima kekalahan dengan lapang dada bukan dengan kekerdilan jiwa.Tia RahmaniaJl Salak No 9 RT 01 RW 06 Pondok Cina Beji Depoktia_rahmania@yahoo.co.id081808263431
(msh/nrl)











































