Pesimis SMK
Kamis, 21 Jun 2007 11:31 WIB
Jakarta - Beberapa waktu terakhir jika mencermati televisi akan melihat tayangan iklan oleh Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Nasional tentang SMK (Sekolah Menengah Kejuruan). Iklan ini seolah ingin mengangkat pamor SMK. Iklan layanan masyarakat ini menampilkan sosok terkenal di negeri ini yang juga lulusan SMK. Dalam iklan itu digambarkan juga seorang anak dalam sebuah keluarga sangat menginginkan dan tidak lagi merasa harus malu masuk SMK.Upaya pemerintah untuk meningkatkan sumber daya manusia Indonesia yang trampil, berkualitas, dan berdaya saing di ranah industri global dengan meningkatkan kualitas dan kuantitas SMK di negeri ini patut diacungi jempol. Namun, perlu dipertanyakan apakah pemerintah dengan SMK-nya benar-benar berniat meningkatkan sumber daya manusia (SDM) yang nantinya berkontribusi sebanyak-banyaknya untuk kemakmuran dan kesejahteraan bangsa ini.Saat ini, Pemerintah memang sedang galak-galaknya menarik investor asing. Pemerintah menganggap dengan banyaknya investor asing yang menanamkan modal di Indonesia berarti akan menyerap tenaga kerja yang cukup tinggi. Tingkat pengangguran dipastikan berkurang. Pertumbuhan ekonomi pun akan meningkat. Sebab, setiap penciptaan lapangan kerja akan membawa pada pertumbuhan ekonomi. Sepakat atas upaya pemerintah meningkatkan pamor dan kualitas SMK untuk menghasilkan SDM Indonesia yang trampil dan siap kerja. Namun, tentunya harus dipikirkan juga lulusan-lulusan SMK jangan hanya akan dijadikan buruh murah yang melayani kepentingan investor/pemilik modal asing. Kondisi ini tentu tidak membawa perbaikan kehidupan dan kesejahteraan bangsa ini. Pengalaman membuktikan selama ini Pemerintah hanya mementingkan kepentingan para pengusaha/investor asing sebagai pemilik modal. Undang-undang ketenagakerjaan pun memihak pada investor. Pekerja selalu mendapatkan imbalan yang tidak sesuai atas pekerjaan mereka. Hal ini mengindikasikan bahwa SDM trampil kita hanya akan dijadikan buruh di negeri sendiri yang melayani kaum pemilik modal asing. Jika sudah begini sangat pesimis jika lulusan SMK sebagai generasi penerus bangsa ini benar-benar akan berkontribusi bagi kemakmuran dan kemajuan bangsa ini. Pemerintah sebagaimana fungsi dan tanggungjawabnya mengurusi urusan rakyat semestinya sangat mengindera fakta di atas. Pemerintah sebagai pembuat kebijakan harus mengoreksi dan mengevalusi apakah selama ini sudah benar-benar melakukan yang terbaik buat rakyat dan bangsa ini. Bukan tidak mungkin lulusan SMK suatu saat kelak akan membawa bangsa ini pada kemakmuran dan kemajuan jika pemerintah dengan sungguh-sungguh melaksanakan tanggungjawabnya melayani rakyat. Bukan tunduk dan melayani kepentingan asing. RahmiJl. Kaliurang Km 4,5 No. 70 Yogyakartahi_link_ami@yahoo.com081578799176
(msh/nrl)











































