Kecerdasan Spiritual dan Etika Kerja Islam

Kecerdasan Spiritual dan Etika Kerja Islam

- detikNews
Kamis, 31 Mei 2007 12:01 WIB
Kecerdasan Spiritual dan Etika Kerja Islam
Jakarta - Kecerdasan spiritual merupakan kemampuan individu menempatkan makna ibadah terhadap setiap perilaku dan tindakan. Dengan cara membersihkan atau mensucikan pikiran dan berprinsip hanya karena Allah. Perilaku dan tindakan dalam bekerja pun perlu dimaknai sebagai ibadah kepada Allah. Firman Allah dalam surat Adz Dzaariyat (51): 56, "Dan tidak Aku jadikan jin dan manusia kecuali untuk mengabdikan diri kepada-Ku". Rasulullah dalam haditsnya, "sesungguhnya Allah sangat cinta kepada orang mukmin yang bekerja". Sebuah riwayat mengemukakan Nabi Isa diriwayatkan telah melihat seorang lelaki, langsung Baginda bertanya, "Apakah yang anda lakukan?" Dia menjawab, "Saya sedang menyembah Tuhan". Nabi Isa bertanya lagi, "Siapakah yang memberi keperluan anda?" Dia menjawab, "Saudara saya". Maka Nabi Isa menjawab, "Saudara anda menyembah Tuhan lebih dari anda." (Alhabsi, 1996). Berdasarkan firman Allah, hadits Rasulullah dan riwayat Nabi Isa tersebut terdapat implikasi bahwa kerja hendaklah dimaknai sebagai ibadah kepada Allah. Kewajiban untuk mencari karunia yang halal untuk diri dan keluarga serta orang yang menjadi tanggungan. Ada tiga jenis balasan bagi orang yang kerjanya menjadi ibadah. Pertama, ia mendapat balasan dalam bentuk material. Kedua, ia mendapat balasan dalam bentuk kepuasan karena telah menyelesaikan kerjanya. Ketiga, mendapat pahala untuk hari akhirat kelak. Adanya tiga balasan ini individu akan termotivasi dengan kuat untuk berkerja proaktif, disiplin, dapat dipercayai, teratur, selalu berwaspada untuk mengelakkan diri dari kemungkaran, termasuk perkara-perkara yang tidak bermoral, serta menjadi seorang pekerja yang berprestasi tinggi (Alhasbi, 1996).Kecerdasan spiritual sangat penting. Karyawan yang mempunyai kecerdasan spiritual tinggi akan mampu menempatkan makna ibadah pada proses bekerja. Karyawan terdorong mempunyai etika kerja Islam yang tinggi yakni berperilaku sesuai Quran dan hadits. Dalam melakukan pekerjaan selalu dengan niat ibadah. Melaksanakan amanah Allah SWT dan untuk meraih keridhoan-Nya di dunia dan akhirat. Karyawan akan berusaha untuk menghindarkan sikap dan perilakunya dari perkara-perkara yang tidak beretika dan mendatangkan kemurkaan Allah (mazmumah). Juga akan menggalakkan melaksanakan segala perintah Allah serta sunnah Rasulullah (mahmudah), dan mengamalkan akhlak yang mulia. Bekerja sebagai bagian dari kehidupan spiritual. Bekerja bukan sekedar tugas duniawi. Bekerja sebagai perwujudan iman pada Allah sehingga bisa mengantarkan seseorang bekerja dengan ikhlas, jujur, dan mau bekerja keras, serta memperbaiki diri. Seorang yang memiliki kecerdasan spiritual tinggi diharapkan semakin tinggi pula etika kerja Islam yang dimilikinya. Namun, karyawan dengan kecerdasan spiritual yang rendah akan menganggap pekerjaannya sebagai suatu jenis usaha untuk mencari rizki semata. Karyawan memusatkan perhatiannya kepada keuntungan. Hal ini mendorongnya untuk melakukan perkara-perkara yang melanggar ajaran agama atau perkara-perkara yang tidak beretika. Khususnya apabila ia menghadapi kesempitan. Apabila seorang karyawan memiliki kecerdasan spiritual yang tinggi maka karyawan akan mampu memberi makna ibadah pada proses kerja. Seorang karyawan akan berperilaku sesuai dengan nilai-nilai Islam dan etika berdasar Quran dan hadits. Semakin tinggi kecerdasan spiritual seorang karyawan semakin tinggi pula etika kerja Islam yang dimilikinya. (nrl/nrl)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads