Hubungan Gorilla dengan Ponsel
Rabu, 30 Mei 2007 10:13 WIB
Jakarta - Telepon selular (ponsel) sudah menjadi kebutuhan utama. Bayangkan bila tidak punya ponsel. Mungkin akan banyak kerepotan dalam berkomunikasi. Tetapi, tahukah kita bahwa salah satu bahan logam yang dibutuhkan untuk produksi ponsel adalah logam yang disebut Coltan. Oleh karena maraknya kebutuhan ponsel maka industri ponsel pun berkembang dengan pesat. Akibatnya, eksploitasi Coltan pun semakin meningkat. Salah satunya di sebuah tambang yang ada di hutan Kongo Afrika Tengah yang notabene merupakan habitat asli dari Gorilla.Fenomena ini pun akhirnya berdampak pada terancamnya kelestarian hewan langka tersebut. Dalam beberapa tahun terakhir habitat Gorilla dan binatang lain di area itu makin terkikis dan makin terusik keberadaannya. Pembunuhan Gorilla pun makin marak terjadi di sekitar tambang-tambang Coltan.Sungguh malang nasib sang Gorilla. Untungnya, sebuah lembaga yang bernama Eco-Cell.org mempunyai cara untuk mengurangi dampak tersebut. Cara itu adalah dengan mengikuti program daur ulang. Daur ulang ponsel akan membantu mengurangi polusi logam berat yang berasal dari ponsel bekas seperti timbal dan arsenik. Di sisi lain program daur ulang akan mengurangi penggunaan bahan baku ponsel, misalnya logam tembaga, timbal, dan termasuk Coltan.Mengangkat sentimen dan emosi masyarakat dengan mengungkapkan fakta mengenai hubungan Gorilla dan ponsel, Eco-Cell berusaha menggiring pengunjung kebun binatang di Amerika Serikat menyumbangkan ponsel lawas mereka. Melalui program tersebut mereka juga mengumpulkan dana untuk membantu kelestarian Gorilla di benua Afrika itu. Dana akan disalurkan Eco-Cell melalui Dian Fossey Gorilla Fund International. Selain lewat kebun binatang, Eco-Cell membuka donasi ponsel lewat pos ke alamat 2701 Lindsay Avenue, Louisville, KY 40206. Seharusnya Indonesia mencontoh Eco cell. Tidak terlalu konsumtif terhadap telepon selular. Ketika menggunakan selular seharusnya sesuai dengan kebutuhan. Ulah umat manusia juga akhirnya habitat-habitat hewan lambat laun mulai menyusut dan menghilang.Rista Lara RosantiInternational ProgramFakultas Tekhnik IndustriUniversitas Islam Indonesia Yogyakarta
(msh/nrl)











































