Jilbab
Senin, 28 Mei 2007 12:19 WIB
Jakarta - Dari sebuah milis saya mendapatkan berita bahwa seorang perempuan muda berjilbab menyita perhatian sebagian besar warga Denmark belakangan ini. Perempuan itu bernama Asmaa Abdol-Hamid (25), warga Denmark keturunan Palestina yang memunculkan perdebatan sengit saat mengumumkan tetap memakai jilbab di gedung parlemen Denmark jika dia terpilih kelak.Kantor berita AFP, Senin (21/5/2007) melaporkan Asmaa berhasil menarik simpati kaum imigran. Namun, sekaligus membangkitkan amarah warga asli Denmark. "Saya bebas dengan memakai sepotong kain di kepala saya. Itu merupakan suatu pilihan bahwa saya mempertimbangkan menjadi hak. Dan saya lebih suka menyambut para lelaki lewat meletakkan tangan saya di hati saya. Namun saya tidak memaksa orang lain melakukan itu," katanya.Menurut saya hal itu benar-benar membanggakan kaum muslim. Di tengah-tengah negara yang yang mayoritas penduduknya tidak beragama Islam tersebut Asmaa Abdol-Hamid berani megatakan niatnya dengan tegas. Beberapa tahun yang yang lalu, di negara kita, Indonesia, pro kontra penggunaan jilbab dalam ijazah saja masih sering menjadi perdebatan yang sengit. Tetapi, kini harus disyukuri permasalahan seperti itu hampir tidak pernah ditemui lagi. Asmaa Abdol-Hamid benar. Kita bebas melakukan hak dan kewajiban kita dan orang lain harus menghargai. Terpenting adalah kita tidak boleh memaksa orang lain melakukan hal sama seperti yang kita lakukan. Bahkan memaksa mereka mengikuti kemauan kita. Apabila hal itu sudah bisa kita terapkan dalam kehidupan kita perselisihan antar agama tidak akan pernah terjadi lagi.Bangsa Indonesia adalah bangsa yang berhati besar. Bisa menghargai perbedaan. Perselisihan karena perbedaan tidak akan pernah terjadi lagi. Athika Septi AnggraheniInternational Program of Industrial Engineering Universitas Islam Indonesia081802594608ath_rein@yahoo.com
(msh/nrl)











































