Tersenyum Lagi Saudaraku
Senin, 28 Mei 2007 10:57 WIB
Jakarta - Lima puluh detik yang menegangkan. Setahun yang lalu tepatnya Sabtu, 27/5/2006 dalam waktu kurang dari satu menit gempa mampu meluluhlantakan Yogyakarta, Bantul, Sleman, dan kota lain di sekitarnya. Beribu orang meninggal, luka parah, dan kehilangan tempat tinggal. Kerugian materi mungkin sangat berat namun luka yang paling dalam adalah luka psikologis bagi korbannya.Bencana memang rencana Tuhan. Sebagai manusia hanya bisa melakukan tindakan sebisanya. Saat itu perhatian masyarakat bahkan dunia sedang tersita pada tanda-tanda meletusnya Gunung Merapi. Namun, siapa yang menyangka ada bencana lain yang manghadang mereka. Gempa lebih dari 5 skala Richter mengguncang bumi, mengguncang kota yang penuh kenangan, dan meninggalkan bekas luka yang dalam.Gempa susulan yang selalu datang tiba-tiba membawa tekanan mental bagi mereka yang bertahan hidup. Mereka yang mampu menyelamatkan nyawanya dihadapkan pada masalah baru yaitu apa yang harus mereka lakukan untuk bertahan hidup. Rumah memang hancur. Uang dan benda-benda juga hilang. Tetapi, semangat untuk hidup tidak pernah hilang dari diri mereka.Kekuatan fisik bukanlah hal yang besar dalam membangun kembali kota mereka yang hancur. Kekuatan mentallah yang berjasa tinggi dalam membangun kehidupan mereka kembali. 57 detik itu boleh merenggut harta dan keluarga mereka tetapi tidak merenggut semangat mereka.Setahun sudah bencana itu terjadi. Luka dan duka belum bisa terhapus. Namun, semangat harus tetap berkobar. Luka dalam dada memang tak akan pernah menghapus semangat dalam menghadapi hidup.Setelah setahun semua telah berubah. Aktivitas berjalan kembali meskipun belum senormal sebelum gempa. Masyarakat jadi lebih berhati-hati dalam mejalani kehidupannya. Luka yang ada dalam hati ditutupi oleh semangat dan senyuman yang membantu dalam hidup.Sudah banyak bantuan yang datang dan membantu mereka dalam menjalani dan bertahan hidup. Namun, bantuan pasti akan berakhir. Saat bantuan terhenti semangat bertahan hidup mendorong mereka untuk melakukan hal yang membangun.Luka boleh sakit namun semangat tak boleh padam. Daripada harus bersedih hati meratapi nasib lebih baik tersenyum dan melakukan hal yang lebih berguna yaitu membangun dan menata kembali kota dan kehidupan di dalamnya.Tuhan memang adil. Tuhan tidak akan memberikan cobaan yang hambanya tidak mampu menangani. Ujian yang diberikan ini adalah jalan untuk membuat manusia menjadi lebih baik. Seperti ujian sekolah. Ujian ini menjadikan kita naik ke tingkat selanjutnya menjadi manusia yang lebih tawakal.Masih banyak ujian yang harus dilewati. Bukan waktunya kita jalan di tempat. Senyuman dan semangat yang tinggi akan membuat kita lulus dengan baik dalam setiap ujian. Semangat wahai saudaraku. Luka yang kau rasa adalah luka bangsa yang ditanggung bersama.Yhusanti Pratiwi SayogoMahasiswa Fakultas Ilmu KomunikasiUniversitas PadjadjaranJl. Kesatriaan Gg. H. Sambas 1 No. 67 Rempoa Ciputat021 91588213cha13kodok@yahoo.com
(msh/nrl)











































