Yhusanti Pratiwi Sayogo
IPDN dicaci, IPDN dimimpi
Senin, 23 Apr 2007 10:25 WIB
Jakarta - Kasus yang menimpa Cliff Muntu beberapa waktu silam menjadi "pacul" yang akan menggali semua yang ada di dalam IPDN. Sebenarnya kasus seperti ini bukanlah kasus baru, sudah beberapa kali tragedi seperti ini terjadi di IPDN. Pada 2003 yang lalu kita sempat dikejutkan oleh meninggalnya seorang praja IPDN bernama Wahyu Hidayat. Entah mengapa kasus tersebut hanya bergaung selama beberapa bulan setelah peristiwa itu terjadi dan beritanya hilang begitu saja.Sudah hampir 4 tahun dan kasus tersebut terulang lagi. Sekali lagi timbul gugatan dari berbagai pihak yang ingin membubarkan IPDN. Apakah dengan pembubaran Institut yang terletak di Jatinangor tersebut lantas samua masalah tuntas?Dalam tiga tahun terakhir dari santerya masalah penganiayaan di IPDN sampai tahun ajaran baru kemarin (2007) ternyata masih banyak tamatan SMA yang ingin mencicipi "indahnya" belajar di kampus IPDN. Mereka tergiur oleh jaminan masa depan yang didapat setelah lulus dan kuliah yang dibiayai oleh negara.Ironis memang, disaat banyak orang mencaci dan menggugat, beberapa orang justru memimpikan belajar di sana. Lihat saja dari grafik banyaknya pendaftar yang berniat menjadi praja. Mereka yang masih memimpikan IPDN memang bukan orang yang buta informasi dan memang tidak ada yang salah dengan mereka. Siapa yang tidak tergiur oleh jaminan masa depan dan kuliah gratis bahkan diberi uang jajan?Sekilas mereka yang masih memimpikan berkampus IPDN tampak seperti orang yang kurang waras. Apakah mereka tidak tahu apa yang terjadi dan yang akan terjadi bila mereka diterima di sana? Namun apalah daya, semua yang diterima setelah mereka bernaung di dalamya merupakan konsekuensi dan jalan untuk mereka mendapatkan sesuatu yang lebih nantinya.Bekerja sebagai aparatur pemerintahan menjadi mimpi besar mereka dan jalan yang termudah sekaligus terberat adalah melalu lembaga ini, melalui lembaga pendidikan dari pada harus melewati tes yang sangat kental dengan nuansa KKN. Orang-orang yang menggantungkan mimpinya pada lembaga ini berani mempertaruhkan masa muda mereka. Mereka berani menanggung risiko, mereka berani melepaskan kesenangan mereka dikala muda demi mengejar mimpi.Saat ini ada sekitar 5.000 praja yang bernaung dalam tubuh IPDN. Nasib dan mimpi mereka sedang digantung, mengenai status IPDN nantinya dipertahankan atau dibubarkan. Tidak hanya hal tersebut yang menjadi beban mereka. Mereka menanggung beban psikologis yang lebih berat yaitu tekanan dari masyarakat sekitar.Apakah orang-orang yang selalu sibuk mencaci para praja ini mengetahui apa yang mereka rasakan? Apakah orang-orang itu mengetahui seberapa besarnya mimpi yang mereka gantungkan ditempat itu? Biarlah kesalahan yang dilakukan oleh beberapa orang itu diurusi oleh lembaga dan pihak yang berwenang. Kita sebagai warga masyarakat sebaiknya membantu para praja kembali ke dunianya dengan memberikan dukungan walaupun hanya sebatas dukungan psikologis bukan meruntuhkan mental mereka. Pandanglah mereka tanpa melihat atribut dan seragam mereka pandanglah mereka sebagai sahabat yang sama-sama mempunyai mimpi seperti kita.Yhusanti Pratiwi SayogoMahasiswa Fakultas Ilmu KomunikasiUniversitas PadjadjaranEmailΒ Β Β Β : cha13kodok@yahoo.com__________________________________
(ana/ana)











































