Pelajaran dari Tembak Menembak

Yoniar Effendi

Pelajaran dari Tembak Menembak

- detikNews
Kamis, 19 Apr 2007 08:45 WIB
Pelajaran dari Tembak Menembak
Jakarta - Kita dikejutkan oleh penembakan di kampus Virginia Tech University, AS, yang memakan korban 33 orang (salah satunya mahasiswa asal Indonesia). Sebenarnya kejadian ini tidak harus terjadi apabiala pihak universitas dan kepolisian cepat mengantisipasi kemungkinan yang lebih buruk sehingga korban jiwa bisa diminimalkan.Di negara kita apa mungkin mahasiswa menembak seseorang di kampus? Jawabnya bisa saja. Sebab anak-anak dan remaja sudah terbiasa melihat tontonan yang berbau kekerasan (tidak hanya cara berkelahi dan membunuh) bahkan penembakan.Game atau sofware game kekerasan mudah didapatkan untuk mengasah keterampilan membunuh dan menembak. Senjata api mainan yang sangat mirip dengan sempi asli (dengan perlengkapan api dan letusan) juga sudah cukup untuk mendidik dan membekali remaja bahwa dia mampu dan terampil menembak.Apa iya, senjata api mudah didapatkan? Sepertinya jawabannya ya, kalau kita melihat di media masa (cetak dan elektronik) maka kita dapat menyimpulkan bahwa banyak bengkel yang sekaligus bisa bikin senjata api. Di daerah-daerah masih banyak oranga ahli bikin sempi (yang keahliannya didapat turun temurun). Harganya, cukup terjangkau untuk golongan menengah.Bagaimana pelurunya? Memang kalau peluru susah didapat, tetapi siapa tahu ada anggota (oknum) TNI yang menyimpan peluru cukup banyak di rumahnya (untuk koleksi atau bekal pensiun), maka kita bisa coba-caba mencari informasi di mana? Berapa? Bisa nego apa tidak dan seterusnya, hingga akhirnya peluru pun siap ditembakkan.Jadi kapan akan terjadi penembakan di kampus Indonesia? Seperi kata bang napi, tinggal tunggu kesuaian antara niat dan kesempatan dari pelaku.Kejadian ini menegaskan kepada masyarakat dan pihak kepolisian (juga di Indonesia) bahwa senjata api sudah (selalu bisa) masuk kampus. Kalau di Indonesia mungkin yang ditembak bukan mahasiswa tetapi dosen killer atau rektor yang salah (atau dianggap salah) dalam menentukan kebijakan.Aparat kepolisian (terutama jajaran intel Indonesia) juga harus jeli melihat perkembangan kekerasan yang terjadi di masyarakat. Meminimalkan kesempatan masyarakat menggunakan senjata api dengan kaliber tertentu. Aparat juga ada baiknya selalu mengembangkan kemampuan dan peralatan yang modern hingga bisa meminimalkan risiko kerja dan korban jiwa. Jangan sampai polisi malah jadi korban karena tidak cermat melakukan olah TKP, atau tidak cermat dalam menembak sehingga pelurunya nyasar, atau mungkin terlalu percaya diri (PD) sehingga tidak tahu kalau di dekatnya ada perampok yang membawa senjata api dan menghadiahkan timah panas.Yoniar EffendiCeleban UH3/358 Tahunan Umbul Harjo YogyakartaEmail: berudu@gmail.com_______________________ (ana/ana)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads