Rudi Haspan
IPDN Butuh Kearifan Bukan Cacian
Minggu, 08 Apr 2007 10:04 WIB
Jakarta - Tragedi dalam dunia pendidikan kembali terjadi dengan meninggalnya Madya Praja Cliff Muntu, sang calon Pamong Praja Muda asal pendaftaran Sulawesi Utara yang sedang menempuh pendidikan kedinasan di Institut Pemerintahan Dalam Negeri, Jatinangor beberapa hari yang lalu. Sontak, semua elemen masyarakat di Indonesia mengecam kejadian tersebut dengan respon yang beragam.Rata-rata respon itu menyudutkan manajemen pendidikan tinggi kedinasan tersebut. Bahkan sampai kepada pemimpin tertinggi negeri ini. Reaksi tersebut adalah hal yang sangat wajar, mengingat peranan lembaga pendidikan tinggi kedinasan tersebut seharusnya membuat suatu proses pembelajaran terhadap masyarakat, betapa sistem pendidikan, pelaksanaan serta pengawasan pendidikan kedinasan di lingkungan pendidikan birokrat tersebut mampu mencetak kader-kader pemerintahan yang handal, inovatif dan dinamis dalam mengemban tugas dan kewajibannya kelak setelah terjun dilapangan. Sistem Manajemen Pendidikan di lingkungan pendidikan tinggi kedinasan tersebut sesungguhnya sudah diatur secara jelas dan tegas tentang pola pengajaran, pelatihan dan pengasuhan yang sangat efektif dalam mencetak kader-kader Pemerintahan yang tangguh, tanggor dan trengginas dalam mengimplementasikan konsep Clean Government dan good governance di bawah binaan Departemen Dalam Negeri Republik Indonesia. Perlu diketahui juga, Sistem pendidikan di lembaga pendidikan kedinasan tersebut telah tertata dengan baik akan tetapi masih saja ada korban-korban dengan alasan pembinaan kedisplinan dapat dikategorikan sebagai sebuah ekses dan perilaku tidak sesuai aturan. Untuk semua lembaga pendidikan di Indonesia atau bahkan di dunia ini, ekses dan perilaku yang tidak sesuai aturan hampir tidak pernah mencapai angka nol. Dengan kata lain, selalu ada ekses dan perilaku yang tidak sesuai dengan aturan sekalipun dengan persentase yang beragam. Sangatlah tidak adil, apabila persentase ekses dan perilaku yang tidak sesuai dengan aturan yang sangat kecil, dijadikan barometer keberhasilan atau kegagalan pelaksanaan pendidikan Tinggi Kedinasan tersebut. Sepatutnya sebagai Negara dan masyarakat yang bijak ekses yang timbul perlu dibina dan diarahkan sehingga menjadi lebih baik sementara perilaku yang tidak sesuai dengan aturan perlu mendapat hukuman yang setimpal sesuai dengan peraturan perundangan yang berlaku sehingga persentase yang besar yang sampai saat ini masih tetap eksis dan semangat menjaga nama baik lembaga Pendidikan Tinggi ini tidak akan menjadi sia-sia. Ungkapan seorang cendekiawan terhadap seorang Petani kaya raya yang bertindak bodoh dengan membakar lumbung padi miliknya yang telah dihimpunnya setelah masa panen tiba hanya karena ingin mengusir seekor tikus yang masuk ke dalam lumbung tersebut akan dialamatkan kepada setiap orang yang gegabah dalam menanggapi permasalahan tersebut termasuk keinginan para legislator Senayan yang membuat opini untuk membubarkan lembaga pendidikan tersebut. Akan jauh lebih bijak, kita menyikapi ekses dan perilaku tidak taat aturan` tersebut dengan memilah-milah, memilih dan menggulung benang kusut kembali menjadi sebuah tenunan yang rapi siap untuk dipakai. Harapan kami kepada semua` orang tua Praja yang saat ini masih menjalani pendidikan di Jatinangor untuk` bersikap lebih tenang serta memberikan motivasi bagi para Praja di dalam pendidikannya untuk tetap menjadi yang terbaik dan tidak terpancing melakukan hal-hal yang melanggar aturan yang berlaku. Mari kita sikapi kejadian ini dengan jernih dan mendukung proses hukum yang sudah berjalan sehingga mata rantai pembinaan yang berakibat fatal dapat benar-benar terpisahkan dari kehidupan Praja selama pendidikan apalagi setelah dilantik menjadi Pamong Praja Muda yang tetap kokoh sebagai Abdi Praja, Dharma Satya dan Nagara Bhakti.Rudi HaspanSagulung Jaya Blok A No 118 BatamEmail: www.rooy_brings@yahoo.com_________________________________
(ana/ana)











































