Apa Perlu Presiden Sarjana?

Paradito

Apa Perlu Presiden Sarjana?

- detikNews
Selasa, 20 Mar 2007 06:06 WIB
Jakarta - Seorang presiden harus seorang sarjana hukum atau sarjana ekonomi-kah yang lebih pantas? Atau sarjana lainnya?Ada cerita, kalau zaman tradisional dulu, seseorang ingin merampok untuk mendapatkan uang, maka dia akan pergi ke tukang pandai besi untuk membikin golok dan lalu dia pergi ke toko atau bank sekalian untuk melakukan perampokan.Namun jaman modern sekarang ini, orang semakin pinter untuk dapat merampok, yakni dengan menjadi seorang sarjana maka seseorang bisa menjadi penjahat/ perampok berdasi. Ilmu yang dia pelajari dari pendidikannya, seseorang yang ahli ekonomi bisa menjadi penghindar pajak yang sangat lihai, seorang ahli hukum bisa menjadi pelindung para koruptor, seorang ahli kimia dapat menggunakan formalin untuk bahan pengawet demi mengurangi biaya produksi, seorang ahli/sarjana dibidang media dapat memproduksi tayangan atau majalah amoral tanpa merasa bersalah.Artinya, apakah seorang sajana itu dapat menjamin negara ini makmur secara benar? Belum tentu. Jangan menganggap ilmu pendidikan itu terlalu agung, karena hanya ada satu yang agung yakni Tuhan. Ilmu pendidikan (kesarjanaan) tanpa ada susupan Moral di dalamnya dapat menjadi alat penindas rakyat perusak tatakrama bangsa. Jadi yang seharusnya di gali adalah moral bangsa, karena ilmu harus bermoral, sarjana harus bermoral, petani harus bermoral, hukum harus bermoral, ekonomi harus bermoral dsb. Barulah negara ini akan menjadi negara bermoral. Jadi seorang pemimpin/presiden haruslah bermoral itu lebih utama! Baru di level selanjutnya yakni ilmu pendidikan, politik, hukum, dan lain-lain apapun itu, ditempatkan menjadi bagian dalam kehidupan bermasyarakat. Ingat Presiden haruslah orang yang bermoral, kalau tujuannya untuk memperbaiki bangsa ini. Dan ingat: sarjana bisa menjadi seorang penjahat yang sangat lihai jika tanpa dibarengi moral.Paradito.pradito@yahoo.com_________________ (ana/ana)


Berita Terkait