Catatan In Memoriam Ikranagara
Mengenang Seniman IGN Supartha
Jumat, 02 Mar 2007 08:48 WIB
Jakarta - Kita semua mengenal Pak Ngurah Supartha sebagai seniman yang enerjik tak kenal lelah. Terakhir saya hampir bertemu dengan dia pada saat dia melakukan gladi-resik di tepi pantai Tanah Lot (Bali) untuk pertunjukan Cak-nya yang didukung oleh 5000 orang -- luar biasa! Ketika itu saya tidak ingin mengganggunya, maka saya hanya berada di jarak jauh bersama Abu Bakar seniman Bali dari Denpasar, kami ikut menyaksikan aktivitasnya untuk terakhir kali di tepi pantai yang sangat terkenal itu. Seluruh lokasi alami di depan pura berupa pelataran berbatu padas dan di beberapa bagian digenangi air laut, itulah setting pertunjukannya ketika itu. Lampu-lampu dan sound-sistem dalam kapasitas yang besar dikerahkan untuk menjadikan pertunjukannya sebuah peristiwa seni kolosal berlatar dekor pura di atas bukit batu, laut dan langit malam -- fantastik! Ditambah dengan selingan derai ombak, maka suara-suara "Cak cak cak cak...!!!" dari 5.000 mulut pesertanya telah menjadi bagian dari alam lingkungan menjadi artistik -- fantastik!Itulah saya kira "magnum opus" seniman I Gusti Ngrah Supartha yang dalam hidupnya di Amerika sempat saya bergaul dekat dengannya. Ketika pada 1990 saya menyiapkan sebuah pertunjukan "The Era of the Bats" di panggung OSU (Ohio State University) tempat saya menjadi dosen selama 1989-1991 atas grant yang diberikan oleh Fulbright CIES (Center for International Exchange Scholar) dan OSU, maka saya menilpun KBRI yang ketika itu dubesnya adalah Pak Ramli yang kebetulan juga saya kenal baik berkat bergaul dengan salah seorang penyair Aceh LK Ara. Permintaan saya sederhana saja, yaitu minta bantuan musik gamelan Bali yang dimainkan secara hidup untuk mengiringi pertunjukan saya. Dan Dubes Ramli langsung menghubungkan saya dengan Pak Ngurah Supartha, yang sebelumnya memang sempat kami berkenalan di Bali saat saya meminjam kalangan terbuka di lingkungan Pusat Kesenian Bali di Denpasar untuk persiapan pertunjukan "Rimba Tiwikrama" yang disponsori oleh WWF (World Wildlife Fund).Maka pada 1990 itulah Pak Ngurah Supartha datang bersama rombongan kecilnya muncul di ibukota Ohio, Columbus. Pak Ngurah bukan hanya mengiringi pertunjukan saya dengan musik bBalinya (yang improvisatoris), melainkan juga sempat menampilkan penarinya dan dia ikut menari pada adegan-adegan sela. Ketika itu dia memperkenalkan tarian spontannya sebagai "The Social Dance from Bali!" kepada audiensnya, dan menarik beberapa orang penonton ikut berjoget dengan penari wanita di panggung arena. Dia memang seniman tradisional di bidang musik dan tari yang kreatif, siap untuk melakukan improvisasi tanpa persiapan kalau memang diperlukan. Maka saya sangat beruntung bekerjasama dengan beliau ketika itu.Pada saat di kampus OSU beberapa hari itulah dia didatangi oleh Dosen Jurusan Musik Ohio State University yang sangat tertarik kepada Musik Gamelan Bali yang ditampilkan oleh Pak Ngurah. Dialog antara mereka berbuah undangan untuk mengajar musik di universitas tersebut. Pak Ngurah Supartha bukan hanya mampu menari dan bermain musik, melainkan juga siap menjadi dosen dengan bahasa Inggerisnya yang fasih meskipun aksen Balinya kental.Hari ini negeri kita telah kehilangan salah seorang putera terbaiknya. Namun demikian, saya tahu banyak murid-murid yang dilahirkannya yang akan mampu melanjutkan kiprahnya di bidang musik dan tari Bali, karena dia memang guru tari dan murik yang handal dan terpuji.Semoga amalnya selama hidup di dunia kesenian menjadi bekal perjalanannya di dunianya yang baru. Wahai Tuhan Yang Maha Pemurah dan Pengasih, perkenankanlah!Ikranegaraikra@verizon.net Twinbrook, USA, 1 Maret 2007
(nrl/nrl)











































