Cerita Penerbangan di AS

Aditya P. Warsito

Cerita Penerbangan di AS

- detikNews
Kamis, 01 Mar 2007 16:50 WIB
Jakarta - Saya membaca berita di detikcom mengenai dunia penerbangan... kebetulan saya pernah sekolah penerbangan di Amerika tapi memang saat ini saya tidak bekerja sebagai penerbang. Tapi buttom line, saya ingin menceritakan perbedaan antara terbang di Indonesia dan di Amerika.Hal yang paling utama mengenai penerbangan adalah keselamatan. Kita mulai pertama dari pesawat sebagai moda transport. Pesawat termasuk moda transport yang memiliki system backup atau redundant untuk setiap fungsi yang ada dalam pesawat tersebut. Bisa saya ambil contoh untuk perangkat landing gear, apabila terjadi failure pada system landing gear maka dipastikan ada alternatif kedua yaitu dengan menggunakan pompa manual untuk menaikan atau menurunkan landing gear. Dan apabila masih belum bisa digunakan, ada alternative ketiga dengan menggunakan tabung yang berisi gas untuk menaik turunkan. Jadi secara system, keamanan di pesawat terbang bisa di bilang paling aman. Itu baru satu contoh dari berbagai macam fungsi dan system yang ada di pesawat. Di Amerika, setiap pesawat yang terbang harus layak dan FAA sebagai badan penerbangan mempunyai standar minimum untuk terbang. Dan apabila tetap terbang dengan standar di bawah standar minimum, maka sudah dapat dipastikan apa yang akan terjadi. Bisa saja, lisense penerbang akan dicabut. Itu mungkin hal yang tidak saya lihat di Indonesia. Sempat saya mendengar mengenai berbagai macam masalah dengan kelayakan pesawat yang ada di Indonesia. Sungguh memilukan, jika mendengar pun malas rasanya untuk naik pesawat terbang. Hal kedua adalah prasarana pendukung seperti radar untuk traffic control, instrumen yang ada di lapangan udara. Pada saat saya melakukan pendidikan, saya terbang dengan pesawat-pesawat kecil dan di sana semua jenis pesawat yang terbang harus menggunakan transponder agar dapat dilihat pada radar oleh air traffic control. Hal itu yang saat ini tidak saya lihat ketika sempat terbang di Indonesia. Transponder di Indonesia hanya digunakan oleh pesawat-pesawat multi engine ke atas. Untuk single engine, setahu saya masih belum wajib digunakan, mungkin karena memang peralatan transponder itu relatif mahal. Akan tetapi mahal kalau memang untuk keselamatan, pasti akan terasa sangat tidak ada harganya.Hal ketiga adalah airmanship. Airmanship ini adalah rasa tanggung jawab dari seorang penerbang. Karena seorang penerbang mempunyai tanggung jawab yang sangat besar. Dia sepenuhnya bertanggung jawab atas keselamatan ratusan orang yang ada di pesawat. Memutuskan Ya atau Tidak untuk take off. Atau memutuskan untuk landing atau go round apabila kendisi tidak memungkinkan. Airmanship ini akan timbul sendirinya apabila seorang penerbang mempunyai tanggung jawab yang tinggi dan memang menjiwai tugas dan pekerjaannya sebagai penerbang. Tapi pernah saya mendengar selentingan cerita dari rekan-rekan penerbang bahwa airmanship mereka harus dikalahkan oleh peraturan perusahaan atau telpon dari atasan yang menyatakan harus terbang. Berbagai macam kondisi itulah yang membuat kondisi penerbangan yang ada di Indonesia babak belur saat ini. Pemerintah sebagai regulator harusnya sangat tegas untuk hal-hal seperti ini. Ini bukan hal yang bisa ditolerir atau diselewengkan. Harus tegas, keras dan yang pasti harus di laksanakan. Bukan hanya sekadar gembar-gembor atau sidak sana sini untuk jangka waktu tertentu. Aditya P. Warsitoaditwar@pacific.net.id (nrl/nrl)


Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads