Perang Dagang Amerika - China dan Posisi Indonesia

Profesor.Dr.Murpin Josua Sembiring.S.E.,M.Si - detikNews
Sabtu, 30 Nov 2019 09:18 WIB
Foto: Istockphoto/cybrain
Foto: Istockphoto/cybrain
Jakarta -

Haruskah terjadi perang dagang Amerika dan China?

Presiden Amerika Donald Trump bukanlah penyebab perang dagang ini terjadi namun ini hanyalah gejala perkembangan dan problem struktur perekonomian dunia dan kompetisi dalam dunia politik negara.

Pimpinan negara menilai bahwa ekspor itu sehat bagi perekonomian domestiknya namun impor itu memperburuknya sehingga politik dagang tarif China impor dinilai jadi instrumen penting namun menciptakan perang dagang itu.

Kebijakan AS adalah meningkatkan restriksi impor untuk menekan defisit perdagangan dengan China. Defisit perdagangan AS dengan China meningkat dari USD 371,8 miliar pada 2016 menjadi US$ 395,8 miliar pada 2017.

China bereaksi keras dengan menambahkan tarif impor terhadap 128 produk AS senilai USD 3 miliar dengan rincian 120 produk AS terkena ekstra tarif 15% dan 8 produk AS terkena ekstra tarif 25%.

Selanjutnya, China menambahkan tarif untuk 106 produk impor dari AS senilai US$ 50 miliar, perang dagang penuh ketegangan dimulai tanpa bisa dipastikan kapan berakhirnya.

Perang Dagang adalah suatu manifestasi di dalam ketegangan antara dua ekonomi terbesar dunia jika berlangsung tiada henti maka potensi masuk ke stadium perang ekonomi dengan dimensi-dimensi serta resonansinya meluas.

Baik antara dua negara dengan berbagai komoditas ekspor-impornya, maupun mengajak negara sekutu-sekutu ekonomi masing-masing dan banyak pihak memproyeksikan China menang dan timing inilah memunculkan era kebangkitan china dan era kemerosotan AS. Peter Navarro menyatakan ini adalah Kematian oleh China "Death by China".

Kita mengkhawatirkan perang dagang masuk ke stadium perang ekonomi akan sangat potensial terjerumus ke dalam perang politik hingga masuk ke perang sesungguhnya karena negara yang dikalahkan/dirugikan secara ekonomi tidak akan terima dengan lapang dada dan dengan potensi mesin perang yang dimiliki sangat mudah terpicu perang sesungguhnya.

Dengan demikian banyak negara akan mengalami kerugian dan kemunduran dalam perekonomiannya sehingga di sinilah dibutuhkan pemahaman bersama tentang tata kelola perekonomian yang berbeda tapi dapat secara harmonis, memperkuat prinsip bermitra/berdampingan bukan bersaing tapi menemukan tata kelola ekonomi baru dunia menyatukan model perekonomian antara barat dan Asia. Indonesia harus menang dalam pusaran perang dagang Amerika dan China.

AS dan China merupakan negara eksportir terbesar di dunia. Perang dagang AS-China bisa menjadi peluang dan tantangan bagi kinerja perdagangan Indonesia. Kita dapat memanfaatkan peluang pasar untuk produk ekspor nasional di pasar AS dan China akibat perang dagang kedua negara tersebut.

Apabila AS menghambat perdagangan untuk produk ekspor China, maka memberi peluang bagi produk ekspor Indonesia ke pasar AS. Produk ekspor yang dapat memanfaatkan peluang pasar AS terutama tekstil dan alas kaki.

Sementara itu, ekspor AS ke China terbanyak adalah pesawat, kendaraan, biji-bijian (soybean), mesin-mesin, barang dari kayu dan plastik.

Apabila China menghambat perdagangan untuk produk ekspor AS, maka membuka peluang bagi produk ekspor Indonesia ke pasar China. Produk ekspor yang dapat memanfaatkan peluang pasar China terutama produk CPO.

AS dan China akan mencari pasar baru untuk produk ekspornya dengan harga lebih kompetitif dan pasar potensial untuk produk-produk tertentu adalah Indonesia, inilah tantangan sekaligus ancaman bagi Indonesia.

AS sangat agresif dengan meninjau ulang untuk Indonesia sebagai penerima fasilitas Generalized System of Preferences (GSP) di mana untuk tahun 2018 diberi pemotongan bea masuk impor terhadap produk ekspor dari negara yang memperoleh manfaat GSP.

Pada 2017, Indonesia masih memperoleh manfaat GSP AS dalam kategori A yang memberikan pemotongan tarif bea masuk di AS untuk 3.704 produk. Sebesar 4% dari total ekspor Indonesia ke AS yang memperoleh fasilitas GSP pada 2017.

Produk ekspor Indonesia yang memperoleh GSP antara lain produk aluminium, produk kayu dan baterai. Pada 2017 Indonesia menikmati surplus perdagangan dengan AS sebesar USD 9,7 miliar.

Oleh karena itu, pemerintah perlu mengantisipasi dampak perang dagang AS vs China dan pencabutan fasilitas GSP untuk Indonesia. Perang dagang AS vs China akan berdampak tak langsung terhadap neraca perdagangan Indonesia, sementara pencabutan GSP berdampak langsung.

Pemerintah diharapkan dapat membantu dengan serius para pelaku usaha, pelaku UMKM agar dapat merebut peluang pasar ekspor terutama di China yang sangat potensial.

Di tengah situasi perang dagang belum mereda sikap AS pada 7 Agustus 2018, mengejutkan dan mempersulit Indonesia dengan mendesak World Trade Organization (WTO) agar Indonesia diberikan sanksi USD 350 juta (setara Rp 5,4 triliun) terkait pembatasan oleh Pemerintah Indonesia terhadap impor peternakan dan produk-produk hortikultura dari AS.

Hal ini menjadi warning bagi pemerintah Indonesia untuk memperluas pasar di negara-negara lain yang besar pasarnya, bagus pertumbuhan ekonomi negaranya seperti China dll

China adalah negara yang paling padat penduduknya di dunia dan pasar terbesar, sedangkan Indonesia memiliki populasi terbesar ke-4 di dunia. Indonesia dan China adalah anggota APEC dan ekonomi utama dari G-20. Hubungan perdagangan antara Indonesia dan China tampak kian 'mesra' di pertemuan Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G20 yang tengah berlangsung di Osaka, Jepang, pada 28-6-2019 lalu.

Di sisi lain Indonesia adalah negara yang sangat kaya dengan sumber daya alam dan mineral, baik di darat maupun di laut. Kekayaan alam Indonesia yang sangat luar biasa ini jelas sangat punya posisi tawar yang tinggi bagi negara-negara industri yang sedang maju saat ini seperti China untuk membangun kemitraan yang saling menguntungkan kedua negara.

Seperti komoditas minyak kelapa sawit (Crude Palm Oil/CPO) yang merupakan komoditas ekspor utama Indonesia ke China. Tahun 2018 impor China terhadap CPO Indonesia sudah melampaui angka satu juta ton, yang berarti sudah lebih dari angka yang dijanjikan Presiden Xi sebelumnya. Kerja sama ekonomi Indonesia dan China diperkirakan akan bertambah intensif.

Data Badan Koordinasi Penanaman Modal Nasional (BKPM), China merupakan negara keempat terbesar penyumbang investasi asing langsung bagi Indonesia setelah Singapura, Jepang dan Malaysia.

Periode Januari - Desember 2018, investor dari China menginvestasikan dana sebesar USD 2,4 miliar Amerika, atau sekitar 8,2 % dari keseluruhan investasi asing yang masuk ke Indonesia.

Hubungan Indonesia dan China semakin menguat atas kesatuan Visi Kemitraan Strategis 2030 antara China dan negara-negara anggota Asean. Dengan adanya visi ini, hubungan dagang, investasi dan arus turisme akan meningkat tajam di kawasan Asean terlebih ke Indonesia.

China dan negara Asean sepakat untuk mengintensifkan upaya pemenuhan target bersama volume perdagangan sebesar USD 1 triliun dan investasi USD 150 miliar pada 2020 dan Indonesia sangat potensial untuk ambil keuntungan yang besar dalam hal ini.

Rakyat Indonesia sangat rasional melihat masa depan perekonomian bangsanya sehingga sekalipun Jepang yang pernah menjajah bangsa Indonesia, namun investasi Jepang bisa kita terima dengan baik.

Demikian pula dengan hubungan perekonomian dengan China sangat potensial diterima dengan baik, terlebih China belum pernah dalam sejarah negaranya menjajah negara manapun di dunia ini.

Hubungan Indonesia dan China telah dimulai sejak berabad-abad lalu. Indonesia merupakan bagian dari jalur maritim dari Jalur Sutra yang menghubungkan China dengan India dan dunia Arab.

Secara tradisional, kepulauan Indonesia, diidentifikasi oleh geografer China kuno sebagai Nanyang. Nanyang merupakan sumber dari rempah-rempah seperti cengkeh, kemukus, dan pala, bahan baku seperti sebagai cendana, emas dan timah, juga barang-barang langka eksotis seperti gading, cula badak, kulit harimau, dan tulang, burung-burung eksotis dan bulu warna-warni.

Sementara sutra yang halus dan keramik dari China dicari oleh kerajaan kuno Indonesia. Jadi Kerja sama bilateral Indonesia dan China merupakan suatu hubungan kesejarahan dan diplomatik dagang bernilai idealis, dan kompetitif

Presiden Jokowi menyatakan kurs rupiah dan dolar AS tidak lagi relevan sebagai tolok ukur namun yang tepat adalah kurs rupiah disandingkan dengan kurs mitra dagang kita dan mitra dagang Indonesia yang terbesar adalah China, Jakarta, 6-12-2018.

Ekspor Indonesia ke AS hanya menyumbang porsi 10% sampai 11% dari total ekspor. Nilai tersebut lebih kecil dibandingkan porsi ekspor ke Cina (15,5 persen), Eropa (11,4 %), dan Jepang (10,7 %) sehingga jika diukur dengan dolar (AS) kita akan terlihat jelek. Padahal ekonomi kita oke-oke saja, ujar Presiden.

Namun sebaliknya bila nilai tukar rupiah diukur terhadap renminbi China atau yen Jepang. Sebab, rupiah terlihat lebih perkasa bila dipersepsikan dengan kedua mata uang tersebut.

Saat ini bertransaksi dengan mitra dagang utama seperti China, Indonesia harusnya bisa saja langsung bertransaksi dengan yuan (renminbi/RMB). Apalagi, sudah ada bilateral swap agreement antara bank sentral China (The Central Bank of The Republic of China) dan bank sentral Indonesia (Bank Indonesia).

Indonesia bermitra dagang yang strategis di saat krisis perang dagang ini fokus bermitra dagang dengan mitra dagang utamanya agar kita jadi pemenangnya.

Penulis: Associate Profesor.Dr.Murpin Josua Sembiring.S.E.,M.Si
Rektor Univ.Ma Chung Malang.
Email: murpin.sembiring@machung.ac.id



(ads/ads)