DetikNews
Kamis 18 Januari 2018, 16:18 WIB

Terancam Tragedi Nol Buku, Indonesia Butuh Aksi Literasi

Galuh FRY - detikNews
Terancam Tragedi Nol Buku, Indonesia Butuh Aksi Literasi Foto: Galuh FRY
Jakarta - Apakah kalian suka membaca? Sebagian besar anak-anak di Indonesia ketika ditanya pasti menjawab "tidak". Karena mereka menganggap bahwa kegiatan membaca identik dengan hal membosankan dan gak gaul.

Jadi tidak heran jika sangat sulit menemukan seseorang yang suka membaca di era modern saat ini. Padahal dengan membaca kita dapat memperoleh pengetahuan baru, memperkuat daya ingat kita dan memperoleh wawasan yang sanga luas.

Mengutip istilah dari Taufik Ismail bahwa Indonesia merupakan salah satu negara yang mengalami krisis nol buku dan minat membaca yang rendah. Di negara lain sudah mewajibkan siswanya untuk membaca beberapa buku dalam setahun.

Namun, sudahkah hal tersebut diterapkan pada pendidikan di Indonesia? Nah, untuk menghadapi tragedi nol buku tersebut, diperlukan upaya untuk mengatasinya yaitu dengan budaya Literasi.

Literasi bukan hanya sekedar membaca buku saja, tetapi bagaimana cara kita menggerakkan orang lain untuk melakukan budaya ini juga. Karena sangat kecil harapan untuk menumbuhkan semangat membaca pada diri siswa yang sudah menjadi budak teknologi di kemajuan zaman saat ini.

Bahkan siswa sekolah dasar sudah menggunakan handphone sebagai pengisi waktu luang mereka. Sungguh memalukan bukan pendidikan di Indonesia saat ini?

Selain itu, budaya literasi juga dapat membentuk kepribadian pelajar yang berkarakter. Loh bagaiamana bisa? Karena, karakter seseorang mengacu pada sifat, perilaku, motivasi dan keterampilan. Sementara pendidikan karakter sendiri adalah menanamkan dan menerapkan nilai-nilai pengetahuan, kesadaran dan tindakan untuk membangun pribadi seorang pelajar menjadi warga masyarakat dan warga negara yang baik.

Dengan demikian, jika pelajar di Indonesia mempunyai kesadaran untuk menerapkan budaya literasi dalam keseharian mereka, secara tidak langsung mereka telah mempunyai usaha untuk memperbaiki karakternya.

Jika setiap hari pelajar di Indonesia membaca satu buku minimal 15 menit, maka secara tidak langsung mereka melakukan tahap awal untuk gemar membaca dan merubah karakter.

Ada sebuah pepatah mengatakan "buku adalah jendela dunia" dari kalimat tersebut mengapa harus buku? Dan mengapa buku berkaitan dengan dunia? Pelajar tidak mau ambil pusing dengan kalimat tersebut.

Dalam pikiran mereka hanya terbesit bahwa membaca itu membosankan. Apalagi dengan hand phone yang mereka punya, malah menjadikan buku hanya sebuah judul dalam dunia pendidikan.

Indonesia salah satu negara dengan kepadatan penduduk yang meningkat, pendidikan minim, kejahatan membabi buta, korupsi menjadi budaya, dan pelajar mempunyai cita-cita tinggi tetapi tidak mau membaca. Mau kita jadikan apa negara ini?

Wahai pelajar di negeri ini, bersama kita terapkan niat untuk memulai langkah awal literasi agar pendidikan tidak dibodohi oleh teknologi.


Galuh FRY
galuhfarah28@gmail.com
(wwn/wwn)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed