DetikNews
Rabu 15 November 2017, 15:30 WIB

Pemuda dan Pertanian

Heru Gunawan - detikNews
Pemuda dan Pertanian Foto: Heru Gunawan
Jakarta - Presiden pertama Republik Indonesia, Ir. Soekarno pernah menyampaikan "Berikan aku sepuluh pemuda, maka aku akan mengguncang dunia" dan Hasan Al Banna seorang tokoh pergerakan di Mesir pernah berkata, "Di setiap kebangkitan pemudalah pilarnya, di setiap pemikiran pemudalah pengibar panji-panjinya".

Timbul sebuah pertanyaan mengapa harus 'pemuda'? karena pemuda merupakan satu identitas yang potensial sebagai penerus cita-cita perjuangan bangsa dan sumber insani bagi pembangunan bangsa dapat diartikan bahwa siapa yang menguasai pemuda akan menguasai masa depan.

Hal ini membuktikan bahwa pemuda mempunyai peran yang sangat besar untuk meneruskan kekuasaan yang sudah ada saat ini. Sejarah pun juga membuktikan bahwa pemuda berperan penting dalam kemerdekaan.

Di mana saja, di negara mana saja, kemerdekaan tak pernah luput dari peran pemuda. Karena pemudalah yang paling bersemangat dan ambisius memperjuangkan perubahan dalam setiap sektor kehidupan masyarakat termasuk pada sektor pertanian, karena sektor pertanian merupakan sektor yang paling penting disetiap negara kehususnya Indonesia.

Namun fenomena yang terjadi saat ini, kurangnya minat para pemuda untuk terjun dalam bidang pertanian menjadi sesuatu hal yang perlu diperhatikan. Hal ini menjadi sangat penting, mengingat banyaknya desa yang ditinggalkan oleh para pemudanya. Mereka lebih memilih profesi lain di kota-kota besar yang lebih menjanjikan dari pada menjadi petani.

Para pemuda saat ini umumnya berfikir bahwa pertanian adalah pekerjaan yang menjijikan, melelahkan, membosankan, dan untuk mendapatkan uang/ hasil yang memuaskan mereka perlu bekerja panas-panasan, hujan-hujanan, dan juga harus menunggu lama untuk mendapat hasil panen. Tentu saja hal ini akan berimbas pada sektor pertanian terutama pada sektor ketahanan dan kedaulatan pangan Indonesia. Penyebab dari ini semua tidak lain karena membudayanya pandangan bahwa bertani adalah pekerjaan kelas dua, disamping masih sempitnya kesadaran dan pemahaman akan potensi pertanian.

Hal diatas sejalan dengan hasil penelitian yang dilakukan pada tahun 70-an di pedesaan Indonesia oleh Guru besar emeritus dari institutes of Social Studies, Denhaag, Belanda menunjukan masa depan pertanian semakin terancam dengan berkurangnya minat pemuda untuk menjadi petani. Apalagi dalam pendidikan di sekolah para remaja tidak diajarkan untuk jadi petani, (sumber: ugm.ac.id).

Padahal dengan munculnya isu tentang bonus demografi, harapannya para pemuda ikut berperan dalam ekonomi pedesaan. Guna membangun pertanian yang lebih baik dan kuat, demi tercapainya ketahanan pangan di masa depan.

Peran pemuda dalam pertanian diharapkan mampu menciptanya sistem atau konsep-konsep baru dalam dunia pertanian, ataupun teknologi baru sehingga mampu memaksimalkan produktivitas meskipun dengan lahan yang seminimum mungkin dan juga memanfaatkan potensi tanaman pertanian di tiap-tiap wilayah pertanian di Indonesia.

Sehingga ketergantungan pada satu dua jenis tanaman makanan pokok tidak terjadi. Dengan begitu diharapkan bisa memberikan hasil maksimal tergantung wilayah sesuai potensi tanaman di daerah tersebut.

Peran Pemuda

Pemuda juga dapat mengambil beberapa peran yaitu : pertama mengambil peran besar dalam proses pembuatan kebijakan sektor pertanian. Kebijakan-kebijakan pertanian yang dihasilkan oleh Pemerintah ataupun perlu mendapat masukan dan pengawalan yang kritis dan konstrkutif dari para pemuda yang reformis. Pada fase inilah, para pemuda dapat mengeluarkan gagasan-gagasan cemerlangnya guna kemajuan petani dan pertanian Indonesia.

Kedua melakukan pengawasan terhadap program-program pertanian, Peran penting tidak hanya berhenti dalam kontribusi pemikiran kebijakan. Satu hal yang juga mendesak adalah bagaimana agar program yang telah disusun dapat direalisasikan sesuai dengan sasaran dan target yang telah ditetapkan.

Ketiga melakukan pencerdasan, pendampingan, dan upaya pemberdayaan petani, pemuda pada dasarnya adalah bagian dari masyarakat. Mereka adalah bagian dari masyarakat yang sebagian besar hidup dari sektor pertanian. Keberadaan pemuda di tengah masyarakat setidaknya dapat memberi kan peluang pemberdayaan bagi masyarakat yang rata-rata berpendidikan rendah. Keempat memberikan advokasi-advokasi pertanian.

Ketidakberdayaan petani menghadapi sistem yang tidak menguntungkan perlu mendapat pendampingan dari para pemuda. Ketidakberdayaan mereka menghadapi sistem rentenir ataupun ketidakberdayaan menghadapi tengkulak ataupun pedagang dapat dijadikan wahana para pemuda untuk memberikan kontribusinya.

Semoga kita tidak lupa bahwa pertanian juga butuh peran pemuda (para petani-petani muda) yang penuh inovasi di dunia pertanian, oleh karena itu, mari kita dorong anak muda agar tertarik pada pertanian dan menjadi motor penggerak pertanian di Indonesia.

Sehingga diharapkan mampu menciptakan pertanian yang kokoh di masa depan, lalu mampu memenuhi kedaulatan pangan, yang mana merupakan bagian dari nawacita sesuai dengan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN), sebagai program pembangunan berkelanjutan di Indonesia.


Heru Gunawan, SP, M. Agr
Dosen Fakultas Pertanian Universitas Asahan
herugun10@gmail.com
(wwn/wwn)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed