DetikNews
Selasa 24 Oktober 2017, 10:56 WIB

Toponim, Sejauh Mana Peran Bahasa dalam Penamaan Unsur Geografi?

aji - detikNews
Toponim, Sejauh Mana Peran Bahasa dalam Penamaan Unsur Geografi? Foto: Aji Putra Perdana
Jakarta - Bulan Oktober, selain ada perayaan Hari Informasi Geospasial 2017, ternyata bulan Oktober semakin spesial bagi kami pemerhati toponim karena dijadikan sebagai Bulan Bahasa dan Sastra 2017.

Toponim atau nama geografi erat hubungannya dengan keberadaan Bahasa, di beberapa negara yang memiliki Bahasa lebih dari satu hingga memiliki dialek juga menghadapi permasalahan yang sama dengan di Indonesia. Pemberian nama geografi di Indonesia tentunya lekat dengan penggunaan Bahasa Indonesia dan Bahasa Daerah, sehingga peran Bahasa menjadi kunci penerapan kaidah penulisan toponim.

Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa melalui akun Facebook-nya pada tanggal 21 Oktober 2017 membagikan infografik sejarah penamaan "Simpang Susun Semanggi" dalam rangkaian informasi terkait #BulanBahasadanSastra2017 #CintaBahasaIndonesia.

Sebagaimana telah diketahui bersama bahwa Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2009 tentang Bendera, Bahasa dan Lambang Negara, serta Lagu Kebangsaan dalam Pasal 36 ayat 1 menyebutkan bahwa Bahasa Indonesia wajid digunakan dalam nama geografi di Indonesia.

Nama geografi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) hanya memiliki 1 (satu) nama resmi, demikian bunyi ayat 2. Lebih lanjut dan semakin detil dalam ayat 3 berbunyi: Bahasa Indonesia wajib digunakan untuk nama bangunan atau gedung, jalan, apartemen atau merek dagang, lembaga usaha, lembaga pendidikan, organisasi yang didirikan atau dimiliki oleh warga negara Indonesia atau badan hukum Indonesia.

Pasal 36 ayat 4 mengamanatkan bahwa Penamaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (3) dapat menggunakan bahasa daerah atau bahasa asing apabila memiliki nilai sejarah, budaya, adat istiadat, dan/atau keagamaan.

Lalu bagaimana implementasi Pasal 36 dari "UU Bahasa" tersebut?

Sepengetahuan penulis, Badan Bahasa telah dengan gigihnya dan bersinergi selalu bersama Tim Nasional Pembakuan Nama Rupabumi semenjak Peraturan Presiden 112 tahun 2006 dilahirkan hingga kini landasan keberadaan "TimNas" tersebut diwadahi dalam Peraturan Badan Informasi Geospasial (BIG) Nomor 6 tentang Penyelenggaraan Pembakuan Nama Rupabumi yang disahkan tanggal 17 September 2017.

Pertanyaan mengenai hal ini ternyata telah dikemas dan dimuat dalam Jurnal Pujangga Volume 1 Nomor 2 Desember 2015. E. Zaenal Arifin menulis tentang: Implemenyasi Pasal 36 dan di dalamnya mengacu referensi dari tulisan Pak Abdul Gaffar Ruskhan (Badan Bahasa) yang terlibat aktif di "TimNas" dan tulisan teman-teman "TimNas"juga yaitu tulisan dari Pak Widodo Edy Santoso dan Ibu Titiek Suparwati yang merupakan pakar toponim dan pegiat toponim di BIG (saa itu Bakosurtanal).

Selain itu juga mengacu pada beberapa referensi lainnya. Di dalam artikel yang total berjumlah 23 halaman mengupas satu per satu penggunaan Bahasa Indonesia dalam penamaan untuk berbagai unsur geografis. Kesimpulan yang didapat dari hasil penelitian bahwa bahasa Inggris banyak digunakan untuk nama gedung perkantoran, apartemen, merek dagang, dan sebagainya.

Alasan penggunaan bahasa asing dalam nama gedung di Indonesia diantaranya adalah karena lebih menarik perhatian masyarakat atau dinilai lebih komersial atau lebih efektif dalam menyampaikan maksud kepada konsumen.

Hal tersebut, selaras dengan pemikiran dan pendapat yang sempat penulis angkat dalam tulisan "Toponimi, Tren Penamaan Di Wilayah Perkotaan: Antara Komodifikasi Toponim dan Penggunaan Bahasa Indonesia?" (https://news.detik.com/opini/d-3631309/antara-komodifikasi-toponim-dan-penggunaan-bahasa-indonesia).

Contoh perjalanan implementasi Bahasa Indonesia dalam penamaan unsur geografi

Peran pakar bahasa dan teman-teman di Badan Bahasa memegang kunci penting untuk senantiasa bersama dengan "TimNas" sebagai otoritas pembakuan nama geografi di Indonesia yang didukung pula oleh Panitia Pembakuan Nama Rupabumi Provinsi dan Kabupaten/Kota dalam implementasi Pasal 36 dari "UU Bahasa".

Infografik yang dibagikan Facebook Badan Bahasa pada tanggl 21 Oktober 2017 dan dimuat pula beritanya dalam Intermeso: Mengindonesiakan Simpang Semanggi" di x.detik.com menjadi contoh praktik baik penggunaan Bahasa Indoensia dalam penamaan unsur geografi (https://x.detik.com/detail/intermeso/20171020/Mengindonesiakan-Simpang-Semanggi/index.php).

Di dalam infografik dan berita tersebut dapat dilihat bahwa awal mulanya berangkat dari kekhawatiran Kepala Bidang Pengendalian dan Penghargaan Badan Pembinaan dan Pengembangan Bahasa yaitu Bapak Maryanto.

Beliau menyampaikan kepada detikX kekhawatirannya bangunan yang menjadi ikon atau simbol kebanggaan nasional, khususnya di DKI Jakarta, namanya tidak berbahasa Indonesia sehingga Badan Bahasa bergerak cepat menghubungi protokol Gubernur DKI Jakarta. "Kami jelaskan kepada Gubernur pentingnya pengutamaan bahasa Indonesia dan ditanggapi positif," ujar Maryanto (x.detik.com).

Berikut kutipan dan perjalanan waktu dari infografik dan berita x.detik.com yang menunjukkan bahwa proses penamaan berjalan cukup panjang untuk nama dari Semanggi Interchange yang akhirnya disepakati menjadi Simpang Susun Semanggi:
  • Tanggal 8 April 2016, Peletakan batu pertama Semanggi Interchange
  • Tanggal 24 April 2016, Pertemuan awal dengan Gubernur DKI
  • Tanggal 27 Mei 2016, Lokakarya dengan Pemprov DKI
  • Tanggal 17 April 2017, Pemantapan program dengan Kesbangpol DKI
  • Tanggal 28 April 2017, Audiensi ke Bina Marga DKI
  • Tanggal 8 Mei 2017, DKT (Diskusi Kelompok Terpimpin) persiapan deklarasi
  • Tanggal 10 Mei 2017, Deklarasi di GOR Soemantri Brodjonegoro
  • Tanggal 14 Juli 2017, Kemunculan alternatif nama lain (Simpang Baja Semanggi, Simpang Cincin Semanggi dari Pemprov DKI)
  • Tanggal 17 Juli 2017, Penggalangan kembali dukungan dari Kesbangpol DKI
  • Tanggal 27 Juli 2017, Pertemuan penguatan nama Simpang Susun Semanggi dengan Kesbangpol, Biro Tapem, dan Dinas Bina Marga DKI Jakarta
  • Tanggal 17 Agustus 2017, Peresmian oleh Presiden Joko Widodo.


Lebih lanjut dalam berita dituliskan bahwa penggunaan nama Simpang susun sebenarnya bukan istilah baru. "Sudah dipakai sejak zaman Pak Anton Moeliono," ujar Maryanto. Almarhum Anton M Moeliono menjabat Kepala Pusat Bahasa dari 1984 hingga 1989. Pada masa kepemimpinannya, Kamus Besar Bahasa Indonesia pertama kali diterbitkan pada 1988 (x.detik.com).

Tentunya hal ini merupakan salah satu capaian yang dapat dijadikan contoh dan semakin menggiatkan peran aktif kita semua untuk saling mengingatkan dan menjaga penggunaan nama geografi dengan Bahasa Indonesia dan Bahasa Dearah atau atau Bahasa Asing apabila memiliki nilai-nilai tertentu sebagaimana amanat Pasal 36 UU Bahasa.

Peluang dan Tantangan ke depan?

Perjalanan itu masih panjang dan semangat dari Tim Toponim baik di pemerintah pusat maupun pemerintah daerah perlu terus dipertahankan, terlebih berdasarkan roadmap pembakuan nama rupabumi/nama geografi di Indonesia saat ini ialah kegiatan pembakuan nama geografi unsur buatan manusia.

Sekiranya, diangkatnya contoh penamaan Simpang Susun Semanggi oleh Badan Pembinaan dan Pengembangan Bahasa ini dapat menyebarkan semangat menjunjung tinggi Bahasa Persatuan yaitu Bahasa Indonesia. Menjelang peringatan Sumpah Pemuda sebagai tonggak utama sejarah bangsa dan bahasa Indonesia maka penulis juga mengajak untuk segenap teman-teman untuk menjunjung tinggi Bahasa Indonesia dan melestarikan Bahasa Daerah.

Di era masyarakat digital dimana sebuah kata yang dilontarkan oleh pejabat publik dapat menjadi begitu bombastis, maka demikian halnya dengan pemberian nama suatu tempat di media sosial (Facebook, Twitter, dan sebagainya) atau platform peta kolaboratif (openstreetmap, google maps via google local guide, dan sebagainya) seyogyanya pula kita menuliskannya dengan lebih hati-hati. Usahakan untuk sesuai dengan kondisi informasi di lapangan, mengacu kaidah bahasa dan menghindari vandalisme digital nama geografi.

Contoh yang dapat kita lihat diantarnya kasus penggantian nama geografi di Google Maps: Januari 2017 Alamat Markas DPP FPI diganti jadi Mabes Fitsa Hats, kemudian heboh nama jalan Dewi Sartika jadi Dewi Persik di Kota Bekasi pada bulan Agustus 2017.

Hingga berulang kali, Google mendapat teguran dan menyampaikan bahwa Google (Indonesia) mendorong pengguna untuk melaporkan sesuatu (misal nama tempat) yang tidak akurat melalui tool "Send Feedback" (kirim masukan) yang ada pada aplikasi Google Maps, lalu klik "Report a data problem".

Nama geografi kini tidak semata-mata apa yang tertulis pada lembaran peta, akan tetapi nama geografi ialah bagian dari informasi digital yang melekat pada platform peta digital dan sosial media online, termasuk penulisan nama geografi di berbagai berita-berita juga perlu diperhatikan.

Informasi yang jadi bagian dari kebutuhan sehari-hari, misal dalam mencari alamat atau menggunakan fasilitas ojek/taksi online juga membutuhkan keberadaan data nama tempat/lokasi yang benar pada peta digital yang digunakan dalam aplikasi online mereka. Hal lainnya ialah ketika kejadian bencana maka keberadaan informasi nama wilayah adminsitrasi, nama tempat/gedung dan sebarannya menjadi bagian utama, contohnya untuk mengetahui area tergenang atau wilayah mana saja yang tercakup dalam zona aman dalam radius tertentu.

Dari beberapa hal di atas, maka dibutuhkan peran aktif dan konstruktif dari surveyor pemetaan ataupun toponim, kontributor geospasial, peneliti toponim (dari bidang bahasa, sejarah, geografi), pemerhati bahasa dan pegiat informasi geospasial hingga teman-teman media dalam memuat berita yang menyebutkan suatu lokasi.

Sebuah peluang dijadikannya bahasa Indonesia sebagai bahasa Internasional, setidaknya untuk di kawasan ASEAN sempat mengemuka kembali. Hal ini ditunjang dengan relatif mudahnya Bahasa Indonesia untuk dipelajari. Profesor Dr Multamia RMT Lauder, Guru Besar Linguistik Universitas Indonesia, menyampaikan bahwa jumlah penuturnya memungkinkan karena termasuk yang terbesar.

Selain itu, bahasa Indonesia bersumber dari bahasa Melayu yang serumpun dengan bahasa yang dipakai di Malaysia, Brunei Darussalam, Melayu Singapura, Filipina bagian selatan, atau Thailand bagian selatan (m.liputan6.com).

Meskipun lebih lanjut beliau menyampaikan bahwa masih ada beberapa kendala dan masalah yang harus dipikirkan. Sebagai generasi muda di tengah-tengah era istilah kids zaman now dengan berbagai gambaran keunikannya, mari bersama dan bersatu padu sebagai putra dan putri Indonesia untuk berkontribusi di era masyarakat digital secara positif.

Kembali lagi menggali dan mempertahankan budaya bangsa dan bahasa daerah dengan menjunjung tinggi bahasa persatuan yaitu Bahasa Indonesia. Cintai Bahasa Indonesia tidak hanya selama Bulan Bahasa dan Sastra 2017.


Aji Putra Perdana
daan_r09@yahoo.com

Penulis adalah:
*Penerima Beasiswa Pendidikan Indonesia LPDP Kementerian Keuangan Republik Indonesia PK-42
*PhD Student di Faculty of Geo-information Science and Earth Observation, University of Twente. Saat ini sedang riset untuk studinya dengan tema "Crowdsourcing Place Names Collection and Maintenance: Preserving Local Names in Indonesian Gazetteer".
*Staf Pusat Pemetaan Rupabumi dan Toponim, Badan Informasi Geospasial


Tulisan ini merupakan pendapat dan pertanyaan pribadi penulis berdasarkan perkembangan berita dan melihat sudut lain perjalanan toponimi di Indonesia.
(wwn/wwn)
Komentar ...
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed