DetikNews
Kamis 19 Oktober 2017, 13:54 WIB

Makna Bumi Ditelan Bumi

Nuraini - detikNews
Makna Bumi Ditelan Bumi Foto: Nuraini
Jakarta - Indonesia tersohor sebagai negara agraris karena kekayaan alamnya yang melimpah ruah. Belahan dunia manapun mengetahui hal tersebut. Misalnya, bangsa Eropa yang hilir mudik mencari rempah yang kemudian akan dijual kembali di negaranya.

Namun akhir-akhir ini negara kita melakukan impor bahan pangan. Hal tersebut dikarenakan sempitnya lahan pertanian. Keadaan ini memang sangat miris pasalnya sejak dahulu mayoritas pekerjaan rakyat Indonesia sebagai petani.

Undang-undang nomor 41 tahun 2009 tentang perlindungan lahan pertanian pangan berkelanjutan menyatakan "Lahan pertanian pangan merupakan bagian bumi sebagai karunia Tuhan Yang Maha Esa yang dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran dan kesejahteraan rakyat sebagaimana diamanahkan dalam Undang-Undang Negara Kesatuan Republik Indonesia tahun 1945" (bpn, 2017).

Sepertinya pernyataan diatas tidak menuai hasil yang nyata. Pasalnya lahan-lahan penghasil pangan sudah beralih fungsi menjadi lahan industri dan permukiman warga. Padahal hal tersebut tidak dibenarkan dalam Undang-Undang karena lahan tidak dipergunakan dalam upaya pemakmuran dan kesejahteraan rakyat.

Kekhawatiran nasib para petani dan rakyat tentunya harus mendapatkan perhatian lebih. Seperti di beberapa daerah banyak lahan pertanian yang dialihfungsikan menjadi lahan industri yang besar, perkiraan satu industri bisa memakan lahan seluas ±30 hektar lahan pertanian.

Apabila suatu daerah sudah ada lebih dari satu pabrik saja, lahan pertanian yang "dilahap" sekitar ±100 hektar. Pada akhirnya lahan pertanian semakin sempit dan apabila masih ada lahan pertanian yang keberadaan dekat area indutri juga dapat terganggu karena aktivitas industri tersebut.

Belum lagi jika suatu industri tidak benar dalam pengolahan limbah maka yang akan terjadi yaitu pencemaran tanah dan hal tersebut akan merusak lahan pertanian.

Dengan hal ini pemerintah harus tegas dan konsiten dalam peraturannya serta melakukan pengontrolan dalam kebijakan "menyisakan" lahan pangan untuk generasi kami. Pemerintah juga seharusnya memberikan sekedar reward kepada rakyatnya yang mampu mempertahankan lahan pertanian karena tidak diperjualbelikan kepada pihak industri dan mengerti jika lahan pertanian sangat dibutuhkan untuk kesejahteraan kita semua.

Seperti yang pernah dikatakan Ir.Soekarno dalam pidatonya bahwa perihal pangan ialah hidup dan matinya suatu Bangsa. Jadi kita sebagai rakyat Indonesia harus mempertahankan lahan pertanian sebagai warisan untuk anak cucu hidup.


Nuraini
ainni99@gmail.com
(wwn/wwn)
Komentar ...
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed