DetikNews
Jumat 15 September 2017, 16:24 WIB

Bisnis Sepakbola, Berlian Hijau yang Masih Terpendam

Waradhika - detikNews
Bisnis Sepakbola, Berlian Hijau yang Masih Terpendam Foto: Waradhika
Jakarta - Sepakbola merupakan olahraga yang paling popular di dunia. Seluruh belahan dunia mengetahui olahraga ini. Berdasarkan catatan sejarah, bangsa China dan Aztec memainkan olahraga seperti sepakbola untuk menjaga fisik para tentara supaya selalu prima.

Zaman yang berubah pun turut mengubah tujuan sepakbola. Sepakbola yang awalnya hanya untuk menjaga kondisi fisik, sekarang telah menjadi bermacam-macam tujuannya. Ada yang menjadikannya sebagai alat politik.

Seperti yang Jerman lakukan di masa Adolf Hitler. Adolf Hitler yang terkenal dengan politik rasialnya selalu ingin menunjukkan kedigdayaan Jerman atas Negara-negara jajahannya. Ia pun tidak segan mengeksekusi Matthias Sindelar, pemain yang menjadi bintang Austria saat mengalahkan Jerman, dengan racun. Dan salah satu yang jamak dilihat sekarang adalah sepakbola sebagai alat bisnis.

Potensi-potensi bisnis sepakbola

Bisnis sepakbola telah menjadi salah satu bisnis yang menggiurkan saat ini di dunia. Banyaknya orang yang menyukai olahraga ini membuat bisnis ini seksi di mata investor. Bisnis sepakbola memiliki sedikitnya tiga potensi positif. Potensi yang pertama adalah laba yang besar.

Penghasilan dari sepakbola tidak bisa dibilang sedikit. Mulai dari hasil penjualan tiket, hak siar, dan souvenir. Potensi yang kedua adalah terbukanya banyak lapangan kerja. Banyak pihak yang terlibat dalam bisnis sepakbola. Mulai dari yang terlibat langsung, seperti pemain, pelatih, wasit, dan lain-lainnya, atau yang tidak terlibat langsung, seperti akuntan, pengacara, dan agen transportasi.

Dengan begitu, akan banyak lapangan kerja yang terserap sehingga akan membuat ekonomi terus tumbuh. Potensi yang ketiga adalah penerimaan pajak yang besar. Potensi pajak tersebut diantaranya didapatkan dari pajak penghasilan seluruh pihak yang terlibat dalam sepakbola, pajak bumi dan bangunan, dan pajak pertambahan n ilai dari transfer fee pemain.

Bisnis sepakbola di Jerman

Untuk mengetahui betapa menggiurkannya bisnis sepakbola, kondisi di Jerman bisa dijadikan contoh yang bagus. DFB, Federasi Sepakbola Jerman , mengadakan kompetisi sepakbola profesional yang dikenal dengan nama Bundesliga 1, yang dihuni klub-klub besar seperti Bayern Munchen dan Borussia Dortmund, dan Bundesliga 2.

Dalam The 2017 Report Bundesliga, laporan keuangan kompetisi Bundesliga 1 dan Bundesliga 2 untuk tahun kompetisi 2015/2016, disebutkan bahwa kompetisi tersebut telah mencatatkan laba sebesar $ 200.000.000. pendapatan pajak-pajak yang diterima pemerintah Jerman tercatat sebesar $ 1.000.000.000. lapangan kerja yang terserap mencapai 50.000 orang.

Kondisi Sepakbola di Indonesia

Lalu bagaimana dengan Indonesia? Indonesia merupakan Negara yang sangat gila bola. Hampir semua anak lelaki di negeri ini pernah menyepak bola. Semua daerah memiliki klub sepakbola, dengan fasilitas yang masih sederhana, dan masing-masing pasti memiliki suporter fanatik.

Tontonan sepakbola tidak pernah kehabisan penonton. Obrolan sepakbola pun sering menjadi tajuk utama di media. Bahkan ketika timnas Indonesia mendapatkan medali perunggu SEA GAMES 2017 lalu, ramai analisis serta dan saran perbaikan dari masyarakat.

Permasalahan yang menghambat bisnis sepakbola Indonesia

Dengan budaya sepakbola yang segila itu, tentunya akan timbul pertanyaan dalam diri banyak orang, âАЬapa sih masalahnya yang buat bisnis sepakbolanya tidak bisa sebesar Jerman ya?

Pengelolaan sepakbola di Indonesia masih sangat jauh dari kata baik. Berdasarkan ISL Financial Highlights, laporan kondisi keuangan kompetisi profesional Indonesia musim 2013/2014, didapatkan data yang sangat miris.

Dari 22 klub yang berkompetisi, baru empat klub yang telah menyampaikan laporan keuangan yang telah diaudit, 14 klub sedang dalam proses audit, dan empat klub tidak menyampaikan laporan keuangannya. Klub juga tidak mampu mengelola gaji karena turnover to wage ratio-nya di atas 50%. Itu artinya lebih dari 50% pendapatan klub dipakai untuk membayar gaji dan hal ini akan berpotensi membuat klub tidak akan bertahan lama.

Kondisi infrastruktur sepakbola di Indonesia, seperti stadion, mess atlet, dan lapangan latihan, jelek dan tidak ramah penonton. Kebanyakan klub juga masih menyewa stadion milik pemerintah sehingga harus berbagi hasil pendapatan tiket. Jarang pula ada klub yang memiliki akademi sepakbola untuk memproduksi talenta baru.

Fanatisme supporter yang berlebihan pun akan menghambat para investor untuk masuk. Mereka akan khawatir jika dana mereka habis hanya untuk membayar denda dan perbaikan infrastruktur. Karena jika pecah bentrok antar suporter, akan ada infrastruktur yang rusak dan pasti akan ada pihak yang meminta ganti rugi kerusakan akibat bentrok.

Saran perbaikan

Supaya investor tertarik, ada beberapa hal yang perlu dilakukan. Pertama, pengurus PSSI haruslah orang-orang yang memahami dan bersedia memperbaiki kompetisi sepakbola di Indonesia. Bukan asal comot anggota partai atau pejabat semata sehingga menjadikan PSSI sebagai sarana kampanye.

Kedua, PSSI harus membuat aturan yang tegas terkait keuangan klub yang akan mengikuti kompetisi. Hal yang perlu diatur adalah kewajiban menyampaikan laporan keuangan yang sudah diaudit oleh auditor eksternal dan kewajiban menyampaikan proyeksi keuangan untuk musim kompetisi yang akan datang.

Dengan begitu, investor akan mengetahui kondisi keuangan klub dan tidak ragu untuk berinvestasi karena klub tidak menutup diri dari kondisi keuangan mereka yang sebenarnya. Selain itu, perlu dibuat juga peraturan semacam Financial Fair Play yang diterapkan Asosiasi Sepakbola Eropa (UEFA). Peraturan tersebut mewajibkan klub untuk menyeimbangkan neracanya sebelum mentransfer pemain guna melindungi klub dari masalah keuangan .

Ketiga, klub perlu berkreasi untuk menarik penonton dan supporter baru. Saat ini, bentuk kreasi yang layak untuk dipuji adalah adanya asuransi untuk penonton di stadion. Masih ada bentuk kreasi yang bisa dilakukan untuk mendekatkan diri pada masyarakat.

Misalnya dengan e-ticketing yang tersambung dengan rekening bank sehingga suporter tak perlu antri beli tiket , siaran latihan tim bekerjasama dengan stasiun TV tertentu, dan interaksi langsung dengan pemain via sosial media.

Keempat, pemerintah bisa membantu klub dengan turut andil dalam pengurusan infrastruktur sepakbola. Bentuk andil pemerintah bisa dengan menyediakan stadion yang nyaman, mess untuk atlet, dan lapangan latihan.

Sebagai kompensasi, pemerintah akan mendapatkan kompensasi dari sewa infrastruktur tersebut. Jika keempat saran tersebut diaplikasikan, bisnis sepakbola akan mampu menghasilkan keuntungan yang besar bagi pemilik klub.

Para pemain, pelatih, dan pihak-pihak lain yang terlibat akan mendapatkan penghidupan yang layak, dan Negara akan mendapatkan keuntungan melalui pajak serta berkurangnya pengangguran.


Waradhika
waradhika@gmail.com
(wwn/wwn)
Komentar ...
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed