DetikNews
Rabu 23 Agustus 2017, 15:33 WIB

Narkoba Merusak Otak dan Solusi Pencegahannya

Paulus - detikNews
Narkoba Merusak Otak dan Solusi Pencegahannya Foto: Paulus
Jakarta - Hampir setiap hari media cetak maupun elektronik memberitakan tentang narkoba yang sudah menjadi hal yang amat memprihatinkan semua pihak. Betapa tidak, semua profesi ada pecandu narkoba, mulai dari artis, politikus, mahasiswa, pelajar, ibu rumah tangga, berbagai jenjang pejabat sipil maupun militer dan sebagainya.

NKRI memang darurat Narkoba, 5,9 juta pecandu yang tercatat tahun 2015 dan saat ini sudah tercatat kurang lebih 7 juta pecandu serta diduga ada juga yang belum terdata, terlanjur meninggal karena kecelakaan lalu lintas saat 'sakaw' atau overdosis narkoba.

Mengapa narkoba menjadi zat yang amat merusak? Apa yang didapat dari menjadi pecandu narkoba? Secara umum, narkoba di dunia medis dikenal 3 jenis, yaitu:
  1. Halusinogen, pecandu mengalami halusinasi baik visual /lihat maupun auditori/dengar, libido meningkat. Zat ini terdapat pada ganja, LSD dan mushroom
  2. Depresan, menekan fungsi saraf, mengantuk dan 'fly', libido meningkat. Zat ini terdapat pada alkohol, obat jiwa sedative hipnotik dengan berbagai merk dagang turunan benzodiazepine seperti Xanax, dumolid, camplet dan opiad/morfin, kodein, pethidin serta putaw pada umumnya.
  3. Stimulant, memacu tidak normalnya jaringan saraf, jadi aktif dan tidak mengantuk dan tidak merasa lelah, nafsu makan meningkat, tak berpengaruh terhadap libido. Zat ini terdapat pada amfetamin, ektasi, shabu, nikotin, kokain dan beberapa jenis sintetis terbaru sebagai stimulan.


Cara pemakaian narkoba oleh pecandu pada biasanya dengan diminum, diisap dengan dibakar bersama tembakau, dihirup, diteteskan ke minuman, disuntikkan. Resikonya dapat terjadi penularan penyakit berbahaya seperti HIV/AIDS, Hepatitis dan penyakit menular lainnya.

Semua narkoba bersifat adiktif atau candu baik fisik maupun psikis dan cenderung dengan cepat terjadi peningkatan dosis untuk mencapai 'efek' yang diinginkan pecandu.

Makin lama pemakaian dan makin tinggi dosis yang dipakai berbanding lurus dengan makin sulitnya pecandu direhabilitasi, makin sulit lepas dari cengkraman narkoba. Akibatnya, dapat saja pecandu jadi overdosis karena memakai narkoba secara berlebihan, atau sebaliknya 'sakaw' (sakit karena dikau/narkoba) jika saat fisik menagih narkoba, bahan haram tersebut tidak tersedia.

Ketergantungan narkoba bersifat fisik dan juga psikis, sehingga banyak fungsi faali tubuh yang terganggu. Semua jenis narkoba merusak jaringan saraf termasuk otak. Zat pengantar di trilyunan sel saraf digantikan perannya oleh narkoba.

Otomatis sel saraf menjadi 'loyo' dan perlu tambahan jumlah narkoba agar sel saraf dapat bekerja 'normal'. Dampaknya amat multi luas bagi tubuh manusia, karena narkoba merusak fungsi dan struktur otak, sehingga ada istilah ketergantungan mendarah daging (gangguan zat penghantar otak) dan ketergantungan 'mbalung sum-sum' ( gangguan struktur otak) Hal ini berakibat pecandu amat sulit menjadi 'sembuh' dari ketergantungan narkoba.

Dalam hal ini pencegahan salah guna jauh lebih berguna untuk menyadarkan masyarakat akan bahaya narkoba ini. Mengingat pengalaman penulis tujuh tahun sebagai dokter yang bertugas di PTRM (Program Terapi Rumatan Methadon) tetap tidak berhasil membebaskan penasun dari ketergantungan narkoba.

Aksi nyata yang penulis pikir bermanfaat adalah dengan mendirikan Museum Edukasi Narkoba yang dikelola baik swasta maupun pemerintah seperti di Negara lain .

Ada 4 museum terkenal di dunia ini yang memamerkan berbagai macam seluk beluk narkob,baik yang dibuka untuk umum maupun yang bersifat tertutup , biasanya digunakan sebagai pusat pelatihan intensif aparat anti narkoba yaitu Museum Opium, Thailand (2003), DEA Museum, Amerika Serikat, Museo de los Enervantes, Meksiko (1985), Museum Narkotika Mong La, Myanmar (1987).

Saya beranggapan semua bentuk penyuluhan, seminar dan iklan di media kurang efektif sebagai sarana yang bermanfaat bagi masyarakat. Mengingat kuantitas maupun kualitas penyuluhan tersebut kurang menimbulkan kesadaran dan ketakutan masyarakat untuk tidak menyentuh narkoba.

Seminar hanya mencakup maksimal 300 orang, iklan kurang 'membumi dan kurang informasi lengkap', begitu juga penyuluhan. Bandingkan dengan kunjungan museum yang mencakup 80 ribu orang perbulan bahkan musim libur sekolah dapat menjangkau 150 sampai 200 ribu pengunjung setiap bulan. Informasi berbagai akibat penyalahgunaan narkoba jauh lebih lengkap, lebih rinci dan lain lain.

Museum Edukasi Narkoba minimal ada di setiap Provinsi, dirancang dan dikelola sebaik mungkin sehingga menarik seluruh masyarakat untuk mengunjunginya. Rancangan museum yang moderen dengan pemandu yang profesional dan dilengkapi testimoni pecandu yang sudah berhasil lepas dari narkoba, poster dan foto korban narkoba serta berbagai macam narkoba yang ada dapat dipamerkan secara nyata.

Dapat juga dilengkapi dengan rumah jajan kuliner serta Wi Fi dan dengan harga tiket masuk yang ekonomis serta lahan parkir yang memadai sehingga menjadi tempat destinasi wisata yang menarik untuk dikunjungi.

Museum Edukasi Narkoba ini jika menarik otomatis dapat menjangkau dan mendidik jauh lebih banyak sasaran segala usia masyarakat dan jauh lebih mudah dipahami bahaya nyata narkoba bagi tubuh.

Terakhir, kita berharap para ahli Nasional dapat mulai meneliti secara ilmiah untuk menemukan zat yang dapat membebaskan semua pecandu dari ketergantungan narkoba. Kita berharap para ahli dapat menemukan zat herbal yang amat beragam di Tanah Air ini sebagai zat baru pembebas korban penyalah guna narkoba. Semoga.


Dr.AG Paulus MSiMed
Pensiunan ASN dan Pemerhati Narkoba.-Purwokerto
(wwn/wwn)
Komentar ...
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed