DetikNews
Senin 21 Agustus 2017, 15:13 WIB

Sepak Takraw Putri Indonesia Mundur

Wasit itu Seharusnya Jujur, Adil dan tidak Memihak

Denis Arifandi Pakih Sati - detikNews
Wasit itu Seharusnya Jujur, Adil dan tidak Memihak Foto: Denis Arifandi
Jakarta - Sepertinya Sea Games tahun ini lumayan "panas" bagi Indonesia. Setelah beberapa masalah yang salah satunya membuat heboh dan viral di media, yaitu cetak bendera yang terbalik, sekarang Tim Nasional sepak takraw putri Indonesia menyatakan mundur (WO) dari arena pertandingan. Keputusan ini dilakukan saat menghadapi Malaysia di Titiwangsa Indoor Stadium Kuala Lumpur, Malaysia pada hari Minggu 20 Agustus 2017.

Tim Indonesia merasa dirugikan oleh kepemimpinan wasit utama Muhammad Radi dari Singapura. Bahkan, Menteri Pemuda dan Olahraga Imam Nahrawi sendiri hadir dan menyaksikan pertandingan tersebut. Para pemain Indonesia merasa dirugikan oleh sejumlah keputusan wasit yang dianggap tidak seharusnya.

Contohnya, Lena yang tekongnya dianggap 'fault' sebanyak 3 kali, sehingga set pertama pun berakhir dengan keunggulan Malaysia 22-20. Di set kedua juga sama, Indonesia kembali dirugikan, dimana tekong Lena dianggap fault sebanyak 5 kali.

Kondisi seperti itu, tentu saja membuat pemain kecewa dan merasa dipermainkan, kemudian memutuskan untuk meninggalkan lapangan. Pelatih Kepala Tim Takraw Putri Indonesia Asry Syam sempat menghampiri wasit untuk melakukan protes, namun wasit menolak protes tim Indonesia. Para pemain pun dibuat menangis karenanya.

Wasit seharusnya jujur dan adil

Secara bahasa saja sudah jelas makna wasit, yaitu penengah. Jadi, tidak ada ceritanya memihak kesana dan kesini. Walaupun, misalnya, ia fans dari salah satu grup yang bertanding, tetap saja saat itu posisinya sebagai penengah alias wasit, bukan fans.

Lain halnya jika posisinya sebagai fans atau pendukung, silahkan ia dukung timnya dan "menjatuhkan" tim lainnya. Wasit itu harus berdiri tegak di atas aturan yang sudah dibuat, dan harus bersikap profesional. Jangan sampai rasa cintanya kepada suatu tim, membuatnya membuat keputusan yang tidak adil dan tidak fair, yang jelas-jelas merugikan pihak lainnya.

Dan ini tentunya menjadi bahan intropeksi tersendiri bagi pihak penyelenggara, Malaysia. Jangan sampai tindakan-tindakan seperti ini merusak profesionalitas dalam dunia olahraga.

Dalam dunia pertandingan, menang kalah itu biasa. Namun, harus dengan cara yang fair, bukan curang atau dicurangi.


Denis Arifandi Pakih Sati
frameislami.blogdetik.com
(wwn/wwn)
Komentar ...
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed