DetikNews
Senin 31 Juli 2017, 11:31 WIB

Menjejali Ilmu Agama Penuh Sistematis

Muhammad Sufyan Abdurrahman - detikNews
Menjejali Ilmu Agama Penuh Sistematis Foto: Muhammad Sufyan
Jakarta - "Hati-hati, awas pelan-pelan, jangan gagal fokus," sambung Ustadz Adi Hidayat, "Silahkan baca Surat Al-Baqarah ayat 282, letaknya di sebelah kiri bagian bawah".

Barangkali kalimat di atas menjadi hal familiar bagi siapapun Anda yang belajar kajian agama dari sosok pendakwah belia berilmu matang ini. Baik saat mengaji langsung ataupun melihatnya di jagat maya.

Ya, kajiannya memang selalu bernas berisi dengan skema sajian skematis penuh argumentatif. Ini pun disertai dengan pembahasan di papan tulis, sehingga budaya literasi sesungguhnya sedang kuat terjadi.

"Itu adalah bagian proses belajar, dalam belajar, sistematika itu sangat penting. Bagaimana kita memahamkan jamaah, maka sajikan dengan jelas dan argumentatif. Berikan dasar yang baik, sehingga jamaah bisa amalkan dan menjawab ketika hal itu disoal," katanya selepas mengisi kajian di di Mesjid Arrahman, Kota Baru Parahyangan, Kab. Bandung Barat, Jawa Barat, Ahad (23/07/2017).

Penulis belasan buku Islam ini menegaskan, cara mengajar itu juga bagian dari memastikan agar fokus audiens tidak keliru. Mereka tak salah memahami, karena faktanya tidak sedikit salah menyimpulkan setelah selesai belajar. Hal ini terjadi karena diawali kesulitan mengikuti materinya yang padat, sehingga ungkapan 'Hati-hati, pelan-pelan' selalu disampaikannya.

Bagi Adi, belajar materi umum saja bisa keliru, apalagi belajar agama. Maka, proses memokuskan menjadi titik tekannya. Termasuk kebiasannya menceritakan detil persis lokasi ayat Quran yang disebutnya seperti di awal tulisan ini.

"Saya bukan ingin show off. Itu biar yang sedang belajar tidak cari-cari dimana ayat Qur'an setelah saya sebutkan, biar mereka tak kehilangan fokus cari lokasi karena bisa cepat buka dan temukan. Di momen tertentu, saya tak sebutkan lokasi persisnya. Walaupun ini jadi ciri khas, kalau main pingpong pun, teman saya bilang 'Mau smash bola ke pojok kiri sebelah bawah'," ujarnya seraya tersenyum.

Pria kelahiran Pandeglang, 11 September 1984 ini mengatakan, secara personal dirinya terbiasa menceritakan sebuah konten hingga tuntas. Tak mau ada celah kajian yang malah membuat masyarakat bingung. Maka itu, komprehensifitas adalah implementasi dari pola sistematis tersebut.

Seperti Ahad pagi itu, saat membahas isbal/celana pria di bawah mata kaki, dengan runtun diceritakan dasar hukum dari Al-Quran (Al-A'raf 26 dan 31) yang lalu diturunkan ke dalam hadist (HR Bukhari sarah Abu Hurairah) hingga derivatifnya dari kitab ulama besar (Fathul Bari).

Di sela itu, kajian bahas detil pula soal posisi manusia di mata Al-Quran, seperti sebutan Bashar sebanyak 35x, Ins 18x, Annas 241x, Bani Adam 7x, dst. Hal ini membuat kami, para jamaah, benar-benar faham dari segala aspek dengan pola penyajian yang sangat memikat.

"Saya ingin utuhkan seluruhnya, turunkan hukum supaya sinergis, sekaligus menjaga agar kajian tidak melebar. Saya kira mungkin saja ada kaitan dengan ajaran orang tua, terutama ibu saya sebagai seorang guru yang detil. Beliau tak mau makan ayam langsung makan. Tapi akan minta pedagang ayam potong dengan dibimbing memotong ayam secara Islam," katanya.

Adi sendiri secara personal meneguhkan hati untuk mengajar semata-mata karena Allah Swt. Dan sesuai janjinya, siapapun yang berlaku karena ketakwaan kepada-Nya, maka akan diberikan anugerah ilmu pengetahuan. Dan itu dirasakan betul olehnya.

Sejumlah video di Youtube yang menurutnya bagus, Adi malah terkaget dan heran apa betul dirinya yang mengisi. Banyak kemudahan saat menerangkan di depan mustami', kelancaran menjelaskan yang kadang dirinya tak mengerti bisa berlaku demikian.

Menariknya, tak ada metode pedagogik misalnya tulis tangan berulang materi kajian agar hafal. Tidak ada cara khusus, malah Adi mengaku sejak di Darul Arqam, lebih sering menemani sambil tiduran dari kawannya yang sedang belajar persiapan ujian.

Baginya, paling efektif adalah meningkatkan ketakwaan seraya menjauhi maksiat sebagai satu dari banyak cara Islami dalam menciptakan hidup berkualitas. Sebab, jika sekedar menghafal ayat Quran, non Muslim pun banyak yang melakukan namun tentu tak berfaedah.

Tujuan akhir yang bermanfaat ini pula yang membuatnya terus lakukan banyak hal. Mulai dari bangun jaringan tv sendiri, membuat sekolah kader ulama, hingga menyediakan pendidikan dasar bagi anak kecil dalam naungan Quantum Akhyar Institute dengan Adi sendiri sebagai direktur.

"Saya kira sangat mendesak itu adalah ada terus regenerasi. Ada yang gantikan, seraya shadaqah jariah terbangun sekalipun kita sudah meninggal. Saya sangat ingin ciptakan generasi intelektual ulama, ulama intelektual melalui Quantum Akhyar. Ulama yang punya basis agama sangat kuat namun juga tidak kaku serta faham ilmu dunia sampai detil," pungkasnya. Maju terus, Ustadz Adi!


Muhammad Sufyan Abdurrahman
Dosen Digital Public Relations FKB Telkom University
(wwn/wwn)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed