DetikNews
Selasa 07 Mar 2017, 13:07 WIB

Pelajaran dari Raja Salman

Moddie Alvianto Wicaksono - detikNews
Pelajaran dari Raja Salman Foto: Moddie Alvianto Wicaksono
Jakarta - Kunjungan Raja Salman yang membawa rombongan sebesar 1500 orang menjadi headline di berbagai media. Bahkan beberapa media baik di Indonesia maupun Arab Saudi menempatkan foto Raja Salman sebagai halaman depan berita.

Tak heran kehadirannya memberi magnet dari seluruh aspek. Mulai politik, ekonomi hingga pariwisata. Adanya 10 nota kesepahaman antara Indonesia dan Arab Saudi diperkirakan akan meningkatkan relasi kedua negara.

Berakhirnya kunjungan Raja Salman ke Jakarta selama 3 hari maka berakhir pula pemberitaan media tentang kegiatan Raja Salman selama di Jakarta. Ada beberapa hal menarik patut ditiru oleh para pemuja Arab Saudi yang ditunjukkan oleh Raja Salman. Apa saja itu? Mari kita simak.

1. Bersalaman dengan Ahok

Pemberitaan media tentang peristiwa Raja Salman bersalaman dengan Ahok menuai berbagai kontroversi. Ada yang mengatakan bahwa Ahok tak sepantasnya bersalaman dengan Raja Salman menyangkut posisinya sebagai terdakwa penistaan agama.

Ada yang mengatakan peristiwa tersebut merupakan kesalahan protokoler tim kepresidenan. Jokowi sebagai presiden justru tampak melunak dengan menghadirkan Ahok sebagai Gubernur DKI Jakarta.

Ada pula yang mengatakan bahwa foto Raja Salman bersalaman dengan Ahox yang diunggah di media sosial adalah foto hoax. Bermacam-macam persepsi ditimbulkan oleh media kita. Ada yang mendukung, ada yang mencibir, namun ada pula yang berusaha menengahi.

Raja Salman tentu tak akan menyadari dengan siapa ia akan bersalaman. Toh, yang pasti ada i'tikad baik dari Raja Salman untuk bersalaman dengan Ahok walaupun Ahok dianggap sebagian orang di Indonesia sebagai orang kafir dan terdakwa penistaan agama.

2. Diplomasi Swafoto

Saat memasuki istana kepresidenan, Raja Salman langsung bertanya kepada Jokowi, "mana cucu Soekarno?" Maka hadirlah Puan Maharani sebagai cucu Soekarno sekaligus Menteri Pembangunan Manusia dan Ibunda Megawati sebagai putri pertama Presiden Soekarno. Pada momen tersebut tampak kehangatan diantara mereka berempat. Saling berbagi cerita bagaimana hubungan diantara bapak-bapak mereka.

Momen yang tak kalah penting adalah swafoto diantara mereka. Hal ini membuktikan bahwa Raja Salman ialah orang yang ramah dan toleran terhadap siapa saja. Bahkan ia tak segan-segan menerima ajakan berswafoto, meskipun ada beberapa pemuja Arab Saudi yang mengatakan bahwa swafoto itu haram! Nah peristiwa tersebut memutarbalikkan fakta.

Selain itu, momen yang tak kalah penting adalah ketika Raja Salman bersalaman dengan Mbak Puan dan Ibu Mega. Ini juga membuktikan bahwa sudah sepantasnya kita menerima ajakan salam dengan siapa saja termasuk perempuan meskipun hal tersebut dianggap aneh bagi para pemuja Arab Saudi. Dan Raja Salman membuktikan hal tersebut.

3. Dialog tokoh lintas Agama

Mempertemukan tokoh Wahabi dan tokh Syiah adalah sesuatu yang mustahil terjadi di Indonesia. Jikalau sampai terjadi maka yang terjadi ada dua hal perseteruan atau perdamaian. Tapi sudah tentu ada bisa menebak jawaban yang mana bukan?

Nah kalo yang satu ini hasilnya justru memberikan senyum perdamaian bagi seluruh umat beragama di Indonesia. Kedatangan Raja Salman dimanfaatkan oleh pemerintah Indonesia untuk menjalin dialog antar umat beragama. Maka representasinya adalah 6 tokoh agama dan beberapa pengurus penting mulai dari PGI, MUI, Walubi, hingga Konghucu yang keseluruahn berjumlah 28 tokoh.

Dialog antar umat beragama yang dinisiasi pemerintah berimbas baik kepada seluruh umat. Raja Salman pun mengapresiasi tindakan pemerintah bahkan beliau menjelaskan sudah seharusnya kita sebagai umat Islam saling menghormati dan menghargai antar umat beragama.

Tak ada bayangan atau benak Raja Salman untuk mengkafir-kafirkan sesama manusia. Dialog tersebut membuktikan bahwa Raja Arab Saudi menerima rasa toleransi antar sesama.

4. Berlibur ke Bali

Pilihan untuk berlibur ke Bali adalah sesuatu yang abnormal bagi Raja Saudi. Pada era-era sebelumnya, Raja Saudi lebih suka berlibur ke negeri Barat ataupun negeri Timur Tengah macam Maroko. Di luar dugaan Raja Salman membawa seluruh rombongan yang diperkirakan mencapai 1500 orang untuk berwisata di Bali selama 6 hari.

Ini menunjukkan sinyal positif bagi pariwisata Bali. Raja minyak dan emas hitam mulai melirik ke arah Asia Tenggara sebagai destinasi wisata.

Sekedar diketahui pelancong dari Arab Saudi yang berwisata ke Bali 'hanya' berkisar 180.000 orang per tahun. Jumlah cukup kecil jika dibandingkan dengan pelancong asal Australia yang mencapai 1 juta orang pertahun.

Jika dilihat pilihannya, Bali adalah kawasan dengan mayoritas Hindu. Tentu ini pilihan unik mengingat representasi Arab Saudi sebagai pusat aliran Wahabi.

Namun bukan kafir atau perbedaan agama yang menjadi tujuannya ke Bali. Melainkan karena keindahan pantai di Bali. Perlu anda ketahui, Raja Salman adalah penyuka keindahan pantai. Ini menjadi kabar baik mengingat Indonesia memiliki gugusan pantai dari Aceh hingga Papua.

Nah dari 4 hal tersebut maka seharusnya kita dapat belajar bahwa tak selamanya perbedaan menjadi disparitas dalam hal bersilaturahmi. Raja Salman membuktikan bahwa dengan perbedaan kita dapat belajar saling menghornati dan menghargai.

Indonesia pun dipandang oleh Arab Saudi sebagai negara muslim moderat. Secara tak sungkan, Raja Salman pun memuji keberagaman yang dimiliki Indonesia.

Ini menjadi bekal bagi Indonesia bahwa keberagaman menjadi kunci untuk melindungi minoritas dan menhargai mayoritas.


Moddie Alvianto Wicaksono
*Pegiat Gerakan Sadar Politik Internasional (Gaspolian) Yogyakarta
(wwn/wwn)
Komentar ...
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed