DetikNews
Selasa 28 Februari 2017, 09:35 WIB

Toponim, Perannya dalam Informasi Kebencanaan?

Aji Putra Perdana - detikNews
Toponim, Perannya dalam Informasi Kebencanaan? Foto: Aji Putra Perdana
Jakarta - Informasi banjir di Daerah Khusus Ibukota Jakarta dan beberapa wilayah kota besar lainnya mulai terintegrasi dengan berbagai media sosial dan sistem komunikasi informasi yang near-real time.

Kali ini penulis ingin menyoroti mengenai peran toponim dibalik perkembangan pemanfaatan teknologi komunikasi informasi di bidang geospasial yang makin memudahkan integrasi berbagai informasi dalam sajian peta dan informasi dari sosial media yang berreferensi geografis.

Informasi banjir ataukah banjir informasi ini dapat dilihat sebagai sisi yang positif sebagai bagian dari inovasi data digital dan bagian dari revolusi geospasial untuk mendukung pengambilan keputusan.

Informasi yang cepat dan besar ini seperti contohnya ialah kicauan atau twit di media sosial twitter yang berisi mengenai kejadian banjir dan lokasinya dapat dimanfaatkan secara optimal.

Twitter bpbdjakarta yang mengunggah informasi dan update tinggi muka air dalam format gambar di twitter cukup menarik juga. Bagaimana ya caranya mengolah data gambar tersebut agar jadi sebaran secara ruang kebumian?

Informasi nama tempat atau wilayah hingga level RT juga ada di dalamnya.
Saat kembali memantau akun twitter tersebut ternyata ada juga gambaran mengenai wilayah terdampak, lokasi pengungsian hingga peta wilayah banjir sementara.

Dari sudut pandang toponim, banyaknya nama-nama wilayah hingga informasi alamat hingga level RW dan RT makin memikat rasa penasaran mengenai sejauh mana peran toponim dibalik ketersediaan data dan terbangunnya sistem petabencana.id yang kemudian dioptimalkan untuk analisa spasial oleh InaSAFE sebagai bagian dari InaSAFE Flood Realtime for Jakarta.

Setelah menuliskan mengenai beberapa hal di atas dalam akun Facebook penulis, kemudian beberapa teman sempat menjadi bagian dari tim kebencanaan BPBD DKI Jakarta dan juga pembangunan sistem tersebut menyampaikan bahwa informasi banjir didapatkan dan dicari dari berbagai sumber.

Data diperoleh mulai dari laporan kelurahan, grup relawan atau siaga bencana, aplikasi Qlue yang dikembangkan oleh Pemprov DKI Jakarta, twit bencana dengan tagar #banjir hingga sumber informasi lain yang terkait.

Berdasarkan pengolahan dari berbagai informasi tersebut kemudian disusun menjad peta sementara (apabila ada banyak data dan belum sempat terverifikasi).

Selain peta sementara itu, juga ada peta yang fix (yaitu laporan per 6 jam) untuk dilaporkan ke Gubernur DKI Jakarta. Informasi tersebut secara near-real time dapat juga diakses langsung melalui petabencana.id.

Petabencana.id yang mencakup tiga wilayah yaitu Jakarta, Surabaya, dan Bandung dan berdasarkan informasi pada situsnya bahwa: "PetaBencana.id memanfaatkan kekuatan media sosial untuk mengumpulkan, menyortir, dan menampilkan informasi banjir secara real-time."

Mengenai bagaimana dapat menyediakan informasi yang disajikan hingga ke level RW/RT ialah adanya dukungan pemetaan hingga batas Rukun Warga dan Rukun Tetangga (RW/RT) yang dilakukan kerjasama antara BPPD DKI Jakarta dengan Humanitarian OpenStreetMap Team (HOT), OCHA, GFDRR, mahasiswa Geografi Universitas Indonesia dan Universitas Jakarta (lebih lanjut dapat dilihat di openstreetmap.id.

Informasi dasar yang merupakan toponim (berisi nama wilayah, alamat RW dan RT dan batasan geografisnya) memungkinkan untuk menyajikan pelaporan dan penyajiannya dalam skala detail hingga tingkat RT disajikan secara spasial dalam wujud peta.

Salah seorang teman yang terlibat di dalam InaSAFE menjelaskan dalam komentarnya bahwa hasil yang dipublikasikan oleh petabencana.id itu digunakan sebagai bagian dari sistem pemantauan near realtime yang dikembangkan dengan menggunakan analisa InaSAFE. Analisa ini dapat dilihat pada realtime.inasafe.org.

Apabila mencermati penulisan nama wilayah kelurahan, kecamatan, kabupaten bahkan alamat yang detil hingga RW dan RT tentunya hal ini adalah kunci yang menjadi jawaban mengapa toponim atau nama tempat atau nama unsur geografis merupakan bagian dari informasi geospasial dasar.

Di tahun 2013 dalam sebuah seminar nasional ertajuk "Peran Toponimi dalam Pelestarian Budaya Bangsa dan Pembangunan Nasional" disampaikan bahwa salah satu peran toponimi ialah ebagai titik akses langsung dan intuitif terhadap sebuah sumber informasi lainnya (bakosurtanal.go.id).

Penulis kembali teringat saat menghadiri Sidang UNGEGN tahun 2012 dimana ketersediaan informasi toponim di Indonesia yang terkelola dengan baik mendapat apresiasi, terutama dalam kejadian Gempa Bumi Yogyakarta-Jawa Tengah di tahun 2006.

Ketersediaan informasi nama wilayah administrasi dan peta rupabumi Indonesia ini membantu teman-teman di UN untuk mendistribusikan bantuan dan memantau wilayah-wilayah yang terdampak.

Sebuah tantangan dan pekerjaan rumah yang harus diselesaikan oleh Tim Nasional Pembakuan Nama Rupabumi ialah menyediakan Gasetir Nasional yang mencakup informasi nama rupabumi/toponim yang telah dibakukan. Tanpa adanya kegiatan pembakuan nama rupabumi, akan memungkinkan terjadinya kerancuan dan kekacauan pada kehidupan sosial ekonomi hingga penanganan kebencanaan.

Terima kasih atas peran teman-teman sukarelawan dan yang berbagi informasi kebencanaan serta terbangunnya integrasi dan kolaborasi yang tentunya bermanfaat bagi semua pihak dan masyarakat pada umumnya.

Enschede, 22 Februari 2017


Aji Putra Perdana
aji.putra@big.go.id

*Penerima Beasiswa Pendidikan Indonesia LPDP Kementerian Keuangan Republik Indonesia PK-42
*PhD Student di Faculty of Geo-information Science and Earth Observation, University of Twente. Saat ini sedang riset untuk studinya dengan tema "Crowdsourcing Place Names Collection and Maintenance: Preserving Local Names in Indonesian Gazetteer
*Staf Pusat Pemetaan Rupabumi dan Toponim, Badan Informasi Geospasial
(wwn/wwn)
Komentar ...
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed