DetikNews
Selasa 20 Desember 2016, 16:19 WIB

Ketahanan Keluarga di Era Medsos

Retno Kurnia - detikNews
Ketahanan Keluarga di Era Medsos Foto: Retno Kurnia
Jakarta - Media Sosial atau Medsos telah menjadi bagian hidup dari masyarakat kita. Banyak manfaat yg diperoleh darinya, tidak sedikit pula dampak negatifnya.

Dampak negatif muncul karena arus liberalisasi informasi telah menjadikan medsos sebagai ajang ekspresi tak terkendali dari penggunanya.

Minimnya aturan dan minimnya kesiapan individu dalam menggunakan medsos telah menghantarkan medsos sebagai salah satu pemicu perceraian.

Meskipun belum ada data yang signifikan pada kasus perceraian d Indonesia namun penggunaan medsos pada sistem liberal bisa terjadi seperti di Amerika Serikat.

Di Amerika Serikat, sebuah survei yang diadakan oleh American Academy of Matrimonial Lawyers bahwa perceraian akibat media sosial meningkat sebanyak 80 persen.

Padahal perceraian merupakan kondisi yang akan merapuhkan keluarga, apa jadinya generasi kedepan bila orangtua yang seharusnya mendidik dan memberikan kasih sayang kepada mereka tidak bisa direalisasikan akibat perceraian.

Kesiapan individu dalam mempertanggungjawabkan penggunaan medsos menjadi hal utama untuk diwujudkan. Dalam hal ini bagi seorang muslim maka perbuatan apapun yg d lakukan nya dalam hidupnya harus mengacu kepada keimanannya kepada Allah.

Selain itu negara juga punya peran yang besar untuk bisa mengedukasi bagaimana medsos di gunakan, mampu memberikan kemanfaatan bukan kemudharatan.

Negara harus mampu menegakkan hukum yang berkeadilan untuk menghukum siapa saja yang mempergunakannya dengan menyimpang dari aturan hukum syara.

Peran negara seperti ini tidak bisa kita temui pada kondisi sistem kenegaraan sekularisme demokrasi. Karena liberalisasi atas nama HAM menjadi ruh interaksi antar warga negaranya.

Maka tidaklah mengherankan jika penggunaan medsos dapat berakibat pada perceraian kemudian ujungnya ketahanan keluarga menjadi porak poranda. Sehingga wajar kalau saat ini negara tidak menjadi soko guru ketahanan keluarga.

Ketahanan Keluarga akan mampu terwujud pada kondisi negara memiliki kemampuan peran sebagai rai'n (pemimpin) dan junnah (perisai).

Negara dengan fungsi tersebut memiliki visi bahwa dirinya sebagai aktor yang bertanggungjawab dalam memberikan kondisi keluarga mampu mewujudkan perannya sebagai tempat yang memberikan ketentraman bagi anggota keluarga.

Negara bertanggungjawab untuk mewujudkan peran suami sebagai pemimpin keluarga dan isteri sebagai ibu dan manajer keluarga mampu di perankan secara optimal.

Tanggung jawab tersebut bisa dipenuhi ketika negara menerapkan syariat Islam secara kaafah. Karena hanya dengan hukum Alloh SWT seluruh peran individu dan negara diatur sesuai dengan fitrah manusia.


Retno Kurnia
ennoslims1@gmail.com
(wwn/wwn)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed