DetikNews
Rabu 24 Agustus 2016, 09:41 WIB

Terapi Komplementer, Lowongan Bagi Lulusan Ners Saat Ini

Kiki Rizki - detikNews
Terapi Komplementer, Lowongan Bagi Lulusan Ners Saat Ini Ilustrasi Foto: thinkstock
Jakarta - Aktivitas masyarakat khususnya di perkotaan mendorong karakteristik individualisme. Budaya dan individualisme di perkotaan mempengaruhi sikap dengan prinsip efektif dan praktis.

Berbeda dengan pola di daerah pedesaan yang mengutamakan interaksi sosial. Perbedaan pola ini memicu pergeseran paradigma atau cara pandang terhadap kesehatan.

Pergeseran paradigma sehat di masyarakat sangat berpengaruh terhadap sumber daya baik manusia maupun alam. Pergeseran tersebut berpengaruh juga pada penyedia dan jenis pelayanan kesehatan.

Secara empiris masyarakat kota mengatasi permasalahan kesehatan yang awalnya lebih percaya pada pengobatan modern (medis).

Dan jika keluhan atau permasalahan kesehatan tidak berhasil sesuai harapan maka beralih ke pengobatan komplementer dan pengobatan tradisional. Demikian pula sebaliknya pada profil masyarakat di daerah marginal.

Salah satu bentuk tata cara penggunaan pengobatan tradisional adalah bahwa obat tradisional sering dipilih oleh pasien pada saat awal mengeluh sakit. Baik dengan menggunakan obat tradisional maupun dengan menggunakan cara-cara pengobatan tradisional (Supardi,2001).

Terapi komplementer merupakan cara penanggulangan penyakit yang dilakukan sebagai pendukung kepada pengobatan medis konvensional atau sebagai pengobatan pilihan lain di luar pengobatan medis yang konvensional.

Penduduk Indonesia yang menggunakan obat (82,7%) cenderung menurun, tetapi penggunaan obat tradisional (31,7%) dan cara tradisional (9,8%) cenderung meningkat dibandingkan dengan hasil Susenas tahun-tahun sebelumnya.

Penggunaan obat menurun mungkin berkaitan dengan peningkatan kesadaran masyarakat untuk menggunakan pengobatan alternatif, seperti obat tradisional dan cara tradisional.

Peningkatan penggunaan cara tradisional, seperti pijat, kerokan, akupresur, dan senam olah pernapasan mungkin disebabkan meningkatnya pelatihan ketrampilan teknik pengobatan tersebut sebagai pengobatan alternatif untuk kemandirian hidup sehat.

Persentase terbesar penduduk Indonesia yang melakukan pengobatan tradisional (57,7%) cenderung menurun dibandingkan dengan hasil Susenas tahun-tahun sebelumnya.

Hal ini mungkin berhubungan dengan adanya krisis ekonomi yang dimulai tahun 1997, kemudian pemerintah melakukan intervensi melalui program JPS-BK (Jaring Pengaman Sosial Bidang Kesehatan).

Atara lain pemberian kartu sehat kepada kelompok miskin sehingga terjadi peningkatan pengobatan medis melalui Puskesmas dan rumah sakit. Dan dalam BPJS pun belum termasuk layanan komplementer, bahkan dalam asuransi apapun tak termasuk atau mencakup layanan komplementer.

Pengamatan secara umum bahwa permasalahan kesehatan dipengaruhi oleh berbagai faktor sehingga memerlukan penanganan multidisipliner keilmuan dan multi kultural.

STIKes Wira Medika PPNI Bali mengamati pergeseran paradigma tersebut sebagai potensi pengembangan bahwa pengobatan komplementer dan pengobatan tradisional kedepannya menjadi suatu kebutuhan masyarakat baik berskala regional maupun nasional, sehingga mengunggulkan visinya pada kesehatan komplementer.

Terapi komplementer merupakan metode penyembuhan yang caranya berbeda dari pengobatan konvensional di dunia kedokteran, yang mengandalkan obat kimia dan operasi, yang dapat dilakukan oleh tenaga kesehatan tradisional.

Banyak terapi modalitas yang digunakan pada terapi komplementer mirip dengan tindakan keperawatan seperti teknik sentuhan, masase dan manajemen stres.

Terapi komplementer merupakan terapi tambahan bersamaan dengan terapi utama dan berfungsi sebagai terapi suportif untuk mengontrol gejala, meningkatkan kualitas hidup dan berkontribusi terhadap penatalaksanaan pasien secara keseluruhan.

Pemerintah telah menerbitkan Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor 1109 Tahun 2007 tentang penyelenggaraan pengobatan komplementer-alternatif di fasilitas pelayanan kesehatan.

Menurut aturan tersebut, pelayanan komplementer-alternatif dapat dilaksanakan secara sinergi, terintegrasi dan mandiri di fasilitas pelayanan kesehatan. Pengobatan itu harus aman, bermanfaat, bermutu dan dikaji institusi berwenang sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

Terapi komplementer ini sangat perlu untuk menjadi bahan kajian dunia keperawatan, lebih bagus lagi jika dapat masuk dalam kurikulum pembelajaran, atau dapat ditambahkan dalam kediklatan sebelum mahasiswa lulus.

Maka dari itu STIKes Wira Medika PPNI Bali telah menambahkan mata kuliah peminatan Komuninas pada program praktek Ners, dimana mahasiswa akan di ajarkan praktek keperawatan komplementer di klinik-klinik komplementer.

Akan tetapi setelah mahasiswa lulus jika ingin menerapkan ilmu komplementer yang di dapat mahasiswa harus mengikuti diklat atau pelatihan-pelatihan komplementer selanjutnya agar dapat membuka praktek keperawatan komplementer sendiri.

Diskusi terkait terapi komplementer diharapkan dapat dikembangkan di dunia keperawatan yang melibatkan unsur ahli terapi komplementer dari segi praktik, akademisi, organisasi profesi, dan unsur- unsur terkait lainnya.

Selain itu, untuk menunjang terapi ini diperlukan juga penelitian berkelanjutan sehingga perawat dapat menggali keilmuan klinik dan ilmu farmakologi yang cukup. Karena selama ini dua ilmu ini relatif masih kurang dimiliki oleh perawat.

Kita semua berharap bahwa ilmu keperawatan akan terus berkembang dan diikuti pula oleh peluang- peluang yang dapat dibidik di dalamnya.

Perawat merupakan profesi kesehatan yang merawat pasien dengan melakukan pendekatan secara holistik (bio, psiko, sosio, kultural, spiritual).

Dan terapi komplementer ini juga dianggap sebagai terapi dengan pendekatan holistik karena berusaha menyembuhkan pasien dengan memandang dari berbagai sudut dan beraneka aspek kehidupan pasien.

Diharapkan, dalam praktik terapi komplementer ini nantinya perawat tidak masuk lagi dalam zona abu-abu, namun dapat memberikan warna yang tegas dalam dunia profesi keperawatan.

Diharapkan para calon lulusan Ners tidak hanya mencari pekerjaan di rumah sakit ataupun klinik-klinik, tetapi lulusan Ners bisa membuka lowongan pekerjaan bagi perawat-perawat lainnya pada praktik komplementer yang didirikannya.

*Penulis adalah tenaga pengajar di STIKes Wira Medika PPNI Bali yang sedang melanjutkan pendidikan di Program Studi S2 Keperawatan peminatan Kepemimpinan dan Manajemen Keperawatan STIK Sint Carolus Jakarta.


Kiki Rizki
kikirizki451@gmail.com
(wwn/wwn)
Komentar ...
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed