DetikNews
Minggu 20 Desember 2015, 10:11 WIB

Soeharto Pahlawan di Hati Rakyat Indonesia

Ir. Agus Riyanto, M.T. - detikNews
Jakarta - Berbagai polemik yang berkembang di tengah masyarakat mengenai gelar pahlawan yang akan disematkan Negara di era pemerintahan Presiden Joko Widodo menunjukkan semangat revolusi mental yang dicanangkan serius menyelesaikan masalah bangsa.

Meletakkan pondasi yang benar akan nilai-nilai sejarah perjalanan bangsa dimana pencapaian pembangunan di era Pak Harto berhasil meneguhkan keberadaan bangsa Indonesia hingga saat ini dan kesejahteraan rakyat yang menjadi tujuan utama bisa dicapai.

Menurut Kwik Kian Gie, Pak Harto sangat berhasil dalam membangun ekonomi bangsa Indonesia. Indikator terpenting dari keberhasilan yang ditonjolkan adalah sebagai berikut :
  • Menurunkan inflasi 600% sampai menjadi inflasi yang "normal".
  • Produk Domestik Bruto (PDB) tumbuh dengan rata-rata 7% per tahun.
  • Ekonomi dibangun sebagai dua unsur dari Trilogi, yaitu pertumbuhan dan pemerataan. Satu unsur lainnya Stabilitas yang sangat dibutuhkan untuk mengatur ekonomi dengan terencana dan mantap.


Kesejahteraan rakyat Indonesia mencapai tingkatan yang lebih baik di era itu.

Pembangunan yang merata dengan tahapan-tahapan yang terukur dan terstruktur memberikan dampak sistemik terhadap pertumbuhan ekonomi yang mantap dikisaran 7% rata-rata per tahun. Rakyat merasakan dan menikmati hasil pembangunan yang merata itu hingga meningkatkan kesejahteraan seluruh anak bangsa.

Kemiskinan mampu ditekan, daya beli masyarakat tinggi dan kebutuhan dasar mampu terbeli. Kesenjangan si kaya dan si miskin makin lebar setelah pak Harto menyatakan berhenti. Kegagalan pembangunan oleh para penggati pak Harto tercermin pada data statistik GINI rasio atau kesenjangan pendapatan dan kekayaan.

Pada era tahun 2000 an, GINI Rasio pada 0.3 sedangkan hingga 2014 GINI Rasio ada di kisaran 0.41. Parameter yang menunjukkan ketimpangan antara orang kaya dan miskin di Indonesia tersebut tampak pada Rasio GINI Indonesia yang mencapai 0,41 sampai dengan 0,42 persen saat ini.

Pada tahun 1930 founding fathers bangsa Indonesia Ir. Soekarno dan Hatta telah menulis konsepsi demokrasi Indonesia memiliki dua wajah, ekonomi dan politik agar supaya demokrasi dapat mewujudkan kesejahteraan bagi seluruh rakyat Indonesia.

Almarhum Pak Harto sebagai anak kandung politik Soekarno - Hatta mampu melaksanakan kedua konsep itu dengan baik, Demokrasi Pancasila yang menganut musyawarah untuk mufakat dalam perwakilan dan pembangunan ekonomi untuk mesejahterakan rakyatnya.
 
Sebuah prestasi anak bangsa yang telah ditorehkan bukan saja layak diapresiasi, lebih dari itu pantas menjadi Pahlawan di hati segenap anak bangsa Indonesia, pantas disematkan gelar Pahlawan yang ditetapkan Negara untuk dikenang dan memberi teladan bagi anak cucu yang tidak pernah mengenyam era demokrasi yang bersumber dari Pancasila dan ekonomi yang sejahtera seperti cita-cita Bung Karno-Hatta.

Terkait putusan MA nomor 140_PK_Pdt_2015 dimana Alm. HM. Soeharto sebagai tergugat satu dan Yayasan Supersemar sebagai tergugat dua, menurut Suhadi "yang dihukum dalam putusan ini adalah Yayasan Supersemar," ujarnya saat jumpa press di Mahkamah Agung RI, Selasa (11/8/2015).

Sehingga apa yang dipaparkan Bayu pengajar Universitas Jember tidak ada relevansinya dan tidak mendasar. Apa yang disampaikan juru bicara Mahkamah Agung (MA) jelas mengatakan yang dihukum Yayasan Supersemar bukan Pak Harto. Tidak ada hubungannya Gelar Pahlawan pak Harto dengan terhukum Yayasan Supersemar menurut amar putusan MA ini.

Bagi Negara yang berwenang menilai juga tidak ada hambatan atas rencana pemberian Gelar Pahlawan kepada Alm. HM. Soeharto seperti apa yang disampaikan Ryamizard Ryakudu dan Kofifah Indar Parawangsa di berbagai kesempatan.

Sumber:
  1. https://kwikkiangie.com/v1/2011/03/era-orde-baru-sebuah-refleksi-artikel-1/
  2. https://data.go.id/organization/bps?q=GDP&sort=score+desc%2C+metadata_modified+desc
  3. https://id.wikipedia.org/wiki/Orde_Baru dan lainnya.



Ir. Agus Riyanto, M.T.
Penerima Beasiswa Supersemar 1992-1995
(wwn/wwn)
Komentar ...
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed