Dari Sabang, Aceh, Padang, Palembang, Kalimantan, Jakarta, Yogyakarta, Sulawesi, Bali hingga Sumbawa. Suara yang bernada kegalauan tidak pernah sepi.
Lapangan pekerjaan adalah yang menjadi sorotan utama. Selain tentu saja, besarnya upah.Β Guna meraihnya, sambil menunggu saat wisuda, mahasiswa berbondong-bondong menempuh segala cara, guna mondongkrak kompetensinya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Adalah Indonesian Nursing Trainers (INT), yang mengangkat kembali issue masalah Surat Tanda Registrasi (STR) sejak 19 Agustus 2015, yang dibaca oleh lebih dari 1000 perawat dan bidan.
Lebih dari 500 komentar, 90% menyuarakan ketidak-puasan terhadap proses perolehan sertifikat ajaib tersebut. Dikatakan ajaib, karena peranannya yang melebihi nilai sebuah ijazah.
Betapapun Index Prestasinya Cum Laude, jika tidak punya STR, pekerjaan yang bersifat klinis, tidak bakalan kepegang oleh tangan.
Semua pihak tidak mampu menjawab, mengapa STR tidak segera bisa didapat oleh pengguna. Dalam hal ini perawat Indonesia yang sangat berkepentingan.
Meski tidak ada yang menolak bahwa STR sangat dibutuhkan dan penting guna peningkatan kualitas profesi serta layanan kesehatan, yang dikritisi adalah sistemnya.
Hanya saja, ada hal lain, yang membuat perawat Indonesia lebih cerdas dalam menyikapi kendala perolehan STR ini. Yakni, mindset perolehan pekerjaan itu sendiri.
Mindset seperti ini yang perlu disiapkan ketika di bangku kuliah. Pemberian segudang ilmu pengetahuan dan ketrampilan saja belum cukup. Mereka membutuhkan kiat lain terkait dengan fenomena di lapangan.
Dalam menghadapi era global dan persaingan senhit dunia kerja ini, pengetahuan dan ketrampilan saja yang terkait dengan profesi, tidak bisa diandalkan.
Sejumlah kampus menerapkan konsep, misalnya dengan memberikan materi Entrereneurship sebagai muatan lokal. Namun ini dirasa masih kurang. Ada sejumlah materi lain yang tidak kalah esensinya.
Kampus, masih menggunakan konsep kuliah tradisional, di mana aspek kognitif selalu di-tuhankan. Kampus lupa, bahwa begitu selesai kuliah, di lapangan para lulusan terlibat dalam dunia yang benar-benar beda.
Lulusan kita rata-rata tidak tahu bagaimana harus membuat Curriculum Vitae (CV) meskipun bisa di copy & paste dari internet.
Peserta pelatihan pembekalan (OP3) INT di Malang, 100%, berasal dari 20 provinsi, 20 lebih perguruan tinggi, tidak pernah mendapatkan materi Interview Technique sebelum lulus kuliah sebagai pembekalan akhir. Ini dimaklumi, karena bukan tugas kampus.
Lagi pula, tidak termuat dalam kurikulum. Hanya saja, inovasi sangat dibutuhkan dalam konsep pengajaran profesi ini.
Mereka, meski bakal kerja di lapangan pelayanan kesehatan, tidak diajarkan Customer Care, sehingga kalah dengan konsep layanan pendidikan perhotelan.
Mereka tidak pula dilengkapi dengan Transcultural Nursing (hanya beberapa kampus dengan level S1. Itupun dosen pengajarnya tidak pernah atau langka yang pernah terjun langsung di dunia kerja internasional).
Tidak pula memperoleh overview tentang Prometric Test atau NCLEX sebagai bagian dari seleksi perawat bila ingin kerja di luar negeri. Belum lagi terkait pengkayaan English for Nurses, atau Power of Attitude.
Atas dasar tersebut, ada baiknya kampus mereview ulang tentang mata kuliah yang diberikan selama ini. Kalaupun tidak memiliki dosen yang kompeten sebagai pengajarnya, bisa mendatangkan dosen tamu.
Mahasiswa sebelum lulus, bisa digodok selama 5 hari khusus, sebagai persiapan pembekalan sebelum memasuki dunia kerja. Materi pembekalan ini bisa diberikan pada semester akhir pendidikan.
Pembekalan dengan materi tersebut akan sangat besar peranannya dalam perubahan mindset mereka.
Dari pengalaman INT, peserta yang berjumlah 73 orang sejak September 2014 lalu, hingga saat ini, 21 gelombang pelatihan, mendukung program tersebut diberikan di kampus.
Sehingga mereka tidak perlu lagi keluar uang untuk mengikuti pelatihan. Dari 73 orang peserta tersebut, 7 orang yang tidak meneruskan mengikuti program seleksi ke luar negeri (9.5%).
Meski tujuan utama pembekalan OP3 guna mempersiapkan mereka kerja di luar negeri, esensi pelatihan secara umum adalah secara umum, menambah kompetensi mereka menghadapi persaingan ketat dunia kerja.
Kenyataannya, 100% peserta yang mengikuti pelatihan lulus seleksi.
Pengalaman ini membuktikan bahwa pemberian Soft skill berupa materi-materi yang disebutkan di atas, sangat dibutuhkan.
Pemberian materi tersebut selama pendidikan, akan meningkatkan reputasi kampus, menghemat pengeluaran, meringankan beban orangtua, menyiapkan calon pekerja sejak dini, dan penambahan wawasan.
Utamanya, dengan permasalahan perolehan STR yang dirasa menggelisahkan, perlu kiranya pihak kampus mengambil sebuah langkah alternatif. Bahwa jika STR tidak bisa diharapkan, dosen dan manajemen kampus tidak hanya berpangku tangan, pasrah.
Adalah tanggungjawab kita bersama. Pendidikan yang cerdas adalah yang mampu memberikan pengetahuan dan ketrampilan maksimal kepada mahasiswa. Lulus dengan predikat memuaskan saja tidak cukup.
Oleh karenanya, kampus memiliki tanggungjawab moral terhadap kesiapan kerja lulusannya. Memulai tanggungjawab tersebut dengan memberikan sejumlah materi pembekalan yang diintergrasikan dalam muatan lokal sebesar 20% dalam pendidikan keperawatan adalah bijaksana.
Syaifoel Hardy
Mondoroko Regency, Malang
saderun@gmail.com
081259414970 (wwn/wwn)











































