Deudeuh menjajakan diri secara online melalui media sosial berupa twitter pribadinya kepada para pria yang berminat menggunakan jasanya. Para pelanggan Deudeuh yang tertarik akan menghubunginya melalui telepon dan apabila keduanya sepakat maka dilakukan pertemuan di kamar kos Deudeuh.
Kasus pembunuhan Deudeuh menguak fakta besar mengenai bisnis prostitusi yang mengancam tatanan sosial masyarakat. Deudeuh mungkin hanyalah satu dari 272.000 PSK di Indonesia (Infobanknews.com, 23/08/2012) yang ditimpa kemalangan akibat himpitan ekonomi hingga harus menjual harga dirinya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut beberapa pakar, sebagaimana layaknya bisnis, dalam bisnis prostitusi ini berlaku pula hukum penawaran-permintaan. Sehingga sangat sulit memberantasnya selama masih tinggi permintaan (demand). Pasalnya, praktik ilegal ini juga menjadi penawaran yang menjanjikan bagi orang-orang yang berpikir pragmatis karena terdesak kebutuhan hidup.
Padahal maraknya bisnis prostitusi ini sejatinya karena faktor struktural dan kultural yang telah melingkupi pranata kehidupan masyarakat kita saat ini.
Faktor struktural berupa kesenjangan ekonomi yang luar biasa berupa kemiskinan, yang menjadikan akses masyarakat terhadap dunia pendidikan sangat rendah. Sehingga kondisi ini memberikan tekanan dan himpitan semakin besar karena ketidakmampuannya mendapatkan pekerjaan yang layak dan manusiawi.
Sementara lapangan pekerjaan yang tersedia juga sangat minim, kalaupun ada harus bersaing ketat dengan modalitas kompetensi yang tinggi. Sedangkan faktor kultural berasal dari lingkungan hidup seseorang, khususnya lingkungan keluarga.
Tatkala nilai-nilai agama di tengah-tengah keluarga tidak dijadikan sebagai pondasi pendidikan dan moralitas, dan hanya menjadikan orientasi kesuksesan dilihat dengan kacamata materi, maka wajar jika gambaran kehidupan masyarakat yang ada adalah kehidupan yang materialistis, permisif dan bebas.
Misalnya, seseorang yang dituntut memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga berupaya mencari pekerjaan kesana-kemari, namun karena tidak mempunyai bekal pendidikan yang mumpuni ia sulit mendapatkan pekerjaan.
Ditambah lagi, orang-orang di sekitarnya secara kultural memegang prinsip kesuksesan hanya dilihat dari nilai-nilai materi. Kondisi ini turut memberikan tekanan terhadap dirinya karena menganggur, ia merasa tidak 'bergunaβ.
Di bawah perasaan tertekan dan himpitan kebutuhan hidup, akhirnya ia pun memilih jalan praktis untuk mendapatkan uang tanpa memikirkan halal haramnya pilihan pekerjaan yang ia dapatkan atau ambil.
Tidak ada asap kalau tidak ada api. Prostitusi online seungguhnya hanyalah asap dari masalah mendasar tidak jelasnya tatanan kehidupan masyarakat saat ini. Sekulerisme yang menjadi dasar bagi kehidupan bernegara telah menciptakan sebuah kultur masyarakat yang serba bebas (liberal) dan hedonis.
Orientasi kehidupan yang materialistis menjadikan kultur serba bebas sebagai jalan untuk mencapai tujuan. Termasuk menjadikan fasilitas jejaring sosial sebagai alat untuk mendapatkan remah ekonomi dengan menjual diri, menjadi manifestasi kebebasan berekspresi yang 'seolah-olah' dilindungi.
Karena pengaruh kultur hidup yang hedonis, setiap orang sibuk mengejar pundi-pundi uang hanya demi smartphone canggih, mobil, hingga gaya hidup bebas yang tanpa peduli dampak kerusakannya bagi masyarakat!
Akibatnya, selain materialistis, karakter masyarakat yang terbentuk adalah masyarakat yang serba bebas dan individualis. Tak ada lagi norma yang tertata, tak ada lagi kontrol sosial yang tercipta disana.
Jadi, eksisnya bisnis prostitusi online kini, salah siapa?
Farah Arfiannisa
Jati Pulo, Jakarta Barat
arffarah@gmail.com
(wwn/wwn)











































