DetikNews
Kamis 26 Maret 2015, 14:53 WIB

Menunggu Sepak Terjang Badan Ekonomi Kreatif

- detikNews
Menunggu Sepak Terjang Badan Ekonomi Kreatif
Jakarta - Pemerintahan Jokowi seperti janji kampanye pilpres tahun lalu berjanji akan menangani sektor ekonomi kreatif menjadi lebih berdaya guna.

Janji ini dibuktikan dengan membentuk Badan Ekonomi Kreatif (BEK) setingkat menteri. Pada hari Senin, 25 Januari 2015, Presiden Jokowi melantik Kepala Badan Ekonomi Kreatif Triawan Munaf seorang Musisi dan pengusaha periklanan.

Badan Ekonomi Kreatif ini diharapkan akan memperkuat sektor ekonomi kreatif seperti aplikasi dan permainan, arsitektur, desain interior, desain komunikasi visual, fashion, kuliner, film, video, musik, fotografi, seni pertunjukkan dan kriya, termasuk perlindungan bagi karya kreatif di Indonesia.

Pada opini detik yang dimuat pada 19 Oktober 2012, penulis memberikan uraian tentang Ekonomi Kreatif Solusi Masalah Ketenagakerjaan.

Hari ini bergantinya rezim pemerintahan telah meniadakan kementrian ekonomi kreatif dan menggantinya menjadi Badan Ekonomi Kreatif (BEK) yang dikatakan merupakan badan setingkat kementrian.

Saat pelantikan kemarin, Triawan memberikan target bahwa lembaga baru ini bertugas mengembangkan 16 subsektor industri kreatif dengan target penerimaan negara sebesar 7 persen dari produk domestik bruto (PDB).

Subsektor Prioritas

Saat ini paling tidak terdapat 16 subsektor industri kreatif yang menjadi tugas pokok BEK untuk dikembangkan, ke-16 subsektor ini antara lain: aplikasi dan pengembangan game, arsitektur dan disain interior, disain komunikasi visual, disain produk, fesyen, film, animasi video, fotografi, kriya (kerajinan tangan), kuliner, musik, penerbitan, periklanan, seni pertunjukan, seniâАО rupa, televisi dan radio.

Data akhir tahun 2013, saat ekonomi kreatif berada di bawah Kementrian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif sumbangan penerimaan negara dari sektor ini mencapai Rp 486,1 triliun atau sebesar 7,29 persen.

Saat itu subsektor kuliner mampu memberikan sumbangan sebesar Rp 209 triliun atau 32,5 persen. Sumbangan terbesar kedua berikan oleh subsektor fashion sebesar Rp 182 triliun atau 28,3 persen.

Pada tahun 2013, diperoleh data bahwa sektor ekonomi kreatif ternyata tumbuh di atas pertumbuhan ekonomi Indonesia.

Jika ditelisik lebih jauh ternyata dari 16 sektor ekonomi kreatif, saat ini hanya 3 subsektor yang mampu memberikan kontribusi nyata terhadap penerimaan negara.

Ketiganya antara lain adalah kuliner, fashion dan kerajinan. Sementara subsektor yang lain masih belum banyak memberikan kontribusi nyata. Oleh karena itu, BEK sebagai lembaga yang diharapkan mampu untuk meningkatkan peran ekonomi kreatif sangat dinantikan.

Dalam menentukan skala prioritas pengembangan ekonomi kreatif lembaga ini harus benar-benar berpijak kepada kepentingan masyarakat.

Artinya badan ini tidak semata-mata mengejar penerimaan negara tetapi bagaimana badan ini sekaligus mampu memberikan kesejahteraan bagi para pelaku industri kreatif.

Priorotas mana yang harus dikerjakan oleh BEK juga harus melihat berapa jumlah serapan tenaga kerja atau pelaku industri kreatif pada setiap suksektor. Pada tahun 2013 jumlah tenaga kerja yang terserap pada sektor ekonomi kreatif sebanyak 8,6 juta atau 7,9 persen dari total tenaga kerja.

Jumlah ini hampir 2 kali lipat dibanding data pada tahun 2006 yang saat itu sektor ekonomi kreatif hanya memberikan sumbangan tenaga kerja sebesar 4,9 juta tenaga kerja.

Perlu dikatahui bahwa saat ini industri kreatif yang sedang meningkat adalah teknologi informasi. Pada tahun 2013 subsektor ini meningkat sebesar 9,41 persen yang dikuti oleh subsektor film, video dan fotografi yang tumbuh sebesar 6,79 persen.

Menarik untuk dikaji lebih jauh bahwa saat ini pelaku-pelaku ekonomi kreatif lebih banyak didominasi oleh kaum muda, hal ini juga merupakan satu alasasan mengapa subsektor teknologi informasi berkembang pesat.

Badan baru ini selayaknya memberikan prioritas kepada subsektor yang menyerap tenaga kerja lebih banyak dan penerimaan negara lebih banyak. Dan tidak melupakan subsector yang selama ini seperti masih tertidur.

Prioritas ini menjadi sangat penting jangan sampai subsector yang kurang berperan terhadap penerimaan negara justru makin menurun peranannya. Untuk hal ini, badan yang baru dibentuk oleh pemerintah ini haruslah bekerjasama dengan segenap unsur pelaku ekonomi kreatif.

Ekonomi Kreatif Berbasis Masyarakat

Pembangunan ekonomi kreatif setidaknya harus berfungsi pada empat hal pokok yaitu penciptaan lapangan kerja, pengentasan kemiskinan, inovasi teknologi dan menghasilkan devisa negara.

Agar lebih berdaya guna maka BEK yang baru dibentuk ini setidaknya mampu mempertahankan apa yang telah dicapai pada tahun 2013. Bahkan karena lembaga ini adalah lembaga khusus maka setidaknya pada tahun ini pencapaian pada sektor penerimaan negara juga harus meningkat.

Semua pihak tentu berharap bahwa target penerimaan negara pada tahun 2015 ini bukan hanya 7 persen dari total PDB, karena pada akhir tahun 2013 saja sudah mencapai 7,29 persen.

Target BEK haruslah berada pada dua digit minimal 10 persen dari total penerimaan negara diperoleh dari sektor ini. Target ini akan mampu dicapai jika BEK menggunakan konsep pengembangan ekonomi berbasis masyarakat.

Seperti pada banyak tagline kampanye pemerintahan sekarang, bahwa semua kegiatan harus diorientasikan untuk kepentingan masyarakat. Inilah konsep ekonomi kerakyatan yang sesungguhnya.

Pemerintah harus lebih banyak menciptakan basis âАУ basis komunitas industry kreatif. Penciptaan basis ekonomi kreatif ini memudahkan BEK dalam mengelola sektor-sektor yang tengah berkembang di suatu wilayah atau komunitas.

Pengembangan ekonomi berbasis kewilayahan misalnya konsentrasi BEK pada pengembangan fashion di Kota Bandung. Pengembangan batik pada kampung-kampung batik yang ada di Solo dan Pekalongan juga merupakan strageti untuk lebih berkonsentrasi pada wilayah tertentu.

BEK juga perlu menciptakan pengelolaan yang efektif pada produk fashion dan kerajian berbasis masyarakat lainnya. Misalnya industry pakaian muslim di Tasikmalaya. Hal ini penting agar wilayah kerja lebih terkonsentrasi.

Jika pendekatan kewilayahan tidak bisa dilakukan maka harus didekati dengan pendekatan komunitas. Misalnya komunitas pencinta teknologi informasi, pegiat musik dan film dan pembentukan komunitas baru agar kinerja BEK lebih efektif.

Pekerja seni yang selama ini tidak terkonsentrasi kewilayahanya juga harus mendapatkan sentuhan langsung dari BEK yang baru dibentuk.

Besar sekali harapan masyarakat yang ditumpahkan kepada lembaga baru ini. Masyarakat menunggu sepak terjang BEK apakah benar-benar mampu meningkatkan peran ekonomi kreatif dalam perekonomian Indonesia.

Triawan Munaf yang berlatar belakang industri musik dan periklanan sangat dinantikan kiprahnya. Tentu sebagai lembaga baru masukan dari segenap unsur masyarakat sangat diperlukan.

*Penulis adalah Pendiri Rumah KoperasiPreneur, Penulis Buku dan Praktisi Penerbitan.


Mas Larto
Jl Pandu, Purwokerto
infomaslarto@gmail.com
08224220087

  • Menunggu Sepak Terjang Badan Ekonomi Kreatif
  • Menunggu Sepak Terjang Badan Ekonomi Kreatif

(wwn/wwn)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed