Sebagai peminat atau pengguna moda Trans Jakarta (TJ), saya juga ikut prihatin menyaksikan dan membaca berita-berita tentang peristiwa kecelakaan, kerusakan atau kebakaran yang menimpa sejumlah armada Trans Jakarta.
Angka kejadian yang cukup sering itu tentu sangat merugikan citra manajemen karena berpotensi melahirkan beragam asumsi.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Salah satu modus yang ingin disinggung ialah acapnya peristiwa khususnya kecelakaan (tunggal) yang menimpa armada Trans Jakarta.
Dari pengamatan yang saya lakukan, terdapat beragam macam kondisi Busway yang digunakan oleh moda semacam TJ. Di negara asalnya Brasil dan Kolombia, Busway ditandai dengan garis lurus tebal warna putih atau kuning sementara di Jakarta dan Istanbul, Turki ditandai dengan separator pembatas yang cukup tinggi.
Model Busway dengan tembok/dinding pembatas inilah yang ingin disoroti karena di jalur model ini kecelakaan armada cenderung terjadi lebih sering dan luput dari perhatian kita dana manajemen TJ.
Dari data yang ada pada jalur Busway dengan garis cat putih cenderung angka kecelakaannya lebih rendah daripada yang menggunakan tembok-dinding yang cukup tinggi.
Diduga cukup tingginya angka kecelakaan yang melibatkan armada Busway baik kecelakaan tunggal dan kecelakaan melibatkan pengguna moda transportasi lainnya yang berdampingan dengan Busway-Trans Jakarta sangat erat kaitannya dengan kondisi fisik dan potensi kejenuhan fisik dan psikis sopir Trans Jakarta pada saat bertugas sehingga kewaspadaannya menurun.
Sebenarnya tidak hanya di Jakarta, angka kecelakaan di jalur tunggal Busway juga cukup sering terjadi di negara lainnya, seperti di kota Istanbul, Turki.
Memang, bisa dibayangkan betapa jenuhnya fisik dan psikologis seorang sopir Trans Jakarta pada jalur tunggal sepanjang ratusan kilometer per hari yang harus ditempuh pada jalur Busway yang sama dan harus dilakoni-dilalui dengan harapan kondisi konsentrasi dan kesehatan prima 100%.
Kejenuhan kerap muncul dengan kondisi jam kerja seorang sopir Trans Jakarta yang bertugas menyetir nonstop dari pukul 06.00 hingga 13.00 (rata-rata 7 jam).
Beban tugas yang sangat berat ini memerlukan perhatian sepenuhnya dari pihak Manajemen Trans Jakarta al. perlu melakukan uji dan evaluasi berkala kondisi prima armada dan jauh lebih penting lagi melakukan uji kesehatan dan kondisi kebugaran sopir Trans Jakarta dari waktu ke waktu.
Artinya tidak perlu menunggu hingga sopir mengeluhkan suatu penyakit. Jika perlu metode shift jam bertugas sopir TJ dapat dibagi 2 shift masing-masing 3 - 4 jam per hari dengan jeda 1-2 jam.
Manajemen Trans Jakarta perlu terus memperhatikan dan melakukan evaluasi rutin atas kondisi armada dan para sopir Trans Jakarta karena berurusan dengan keselamatan ratusan jiwa manusia pengguna armadanya maupun warga lainnya pengguna non Busway dan Non Trans Jakarta, yang sebenarnya memiliki tingkat rawan kecelakaan dan resiko kecelakaan tinggi, terutama di jalur tunggal karena sifatnya yang monoton dan membosankan.
Saya sangat sepaham dengan Wagub DKI, agar Trans Jakarta dapat memberikan layanan prima kepada warga pengguna TJ dengan menyediakan armada yang bermutu dan tidak asal-asalan.
Lebih baik memilih yang lebih mahal tapi selamat daripada murah tetapi membawa celaka. Semoga menjadi perhatian manajemen Trans Jakarta untuk mencapai pelayanan prima.
*Penulis adalah Pengamat Masalah Sosial tinggal di Jakarta
Sahat Sitorus
sahatsitorus@yahoo.com
(wwn/wwn)











































