Belajar dari Idul Adha

- detikNews
Kamis, 17 Okt 2013 09:24 WIB
Jakarta - Kembali jutaan manusia berkumpul di Baitullah dalam rangka menjalankan salah satu perintah-Nya, menunaikan rukun Islam yang terakhir, berhaji.

Jutaan manusia berkumpul di tanah lapang ataupun di mesjid-mesjid, bertasbih menyebut Nama Allah SWT dalam rangka menjalankan Shalat Idul Adha secara berjamaah.

Jutaan manusia berkurban memotong unta, sapi, dan kambing sebagai hajatan memperingati kerelaan Nabi Ibrahim a.s. mengorbankan anaknya Nabi Ismail a.s.

Idul Adha merupakan salah satu hari besar dalam Islam yang mana jutaan orang beraktifitas tidak seperti biasanya. Dalam konteks Indonesia, hari ini dijadikan sebagai hari libur nasional, seperti hari-hari besar keagamaan lainnya.

Filosofi hari-hari besar keagamaan ataupun hari-hari peringatan yang lain dijadikan hari libur nasional, dengan harapan pada hari-hari tersebut kita mampu mengingat kembali ataupun menginternalisasi segala nilai yang ada pada momen tersebut.

Begitupun Idul Adha 1434 H kali ini, bukan sekedar melaksanakan ritual keagamaan yang mungkin bakal selesai di tanah lapang atau mesjid-mesjid saja, ataupun selesai ketika unta, sapi, atau kambing telah disembelih.

Kisah Nabi Ibrahim a.s. yang telah lama dan dengan penuh kesabaran menanti kehadiran anak, harus diperhadapkan dengan perintah Allah SWT untuk menyembelih anaknya Nabi Ismail a.s. ketika telah sampai pada umur sanggup berusaha.

Dengan penuh kesabaran keduanyapun berserah diri (aslama) akan perintah Allah SWT, dan sampai pada saat Nabi Ibrahim a.s. membaringkan anaknya Nabi Ismail a.s. saat itupula Allah SWT menebus Nabi Ismail AS dengan seekor sembelihan yang besar. (QS Ash Shaaffaat,100-111)

Peristiwa inilah yang kemudian menjadi dasar disyariatkannya Qurban dilakukan pada hari raya Idul Adha, yang seharusnya dijadikan sebagai bahan renungan, refleksi atau introspeksi bagi kita ummat manusia akan arti sebuah keikhlasan, kepatuhan, kepasrahan, dan kemampuan berserah diri Nabi Ibrahim a.s. dan Nabi Ismail a.s. kepada ALLAH SWT.

Begitupun perintah berhaji ke Baitullah (Al-Quran, surah Al-Hajj ayat 26-37), bukan hanya sekedar formalitas untuk meraih gelar haji atau meningkatkan status sosial belaka tapi ada pemaknaan hakiki.

Menurut Komaruddin Hidayat, ibadah Haji yang diawali dengan menanggalkan pakaian sehari-hari dengan menggunakan pakaian ihram (pakaian putih yang amat sederhana) mengandung makna kita melepaskan pakaian keseharian yang merupakan refleksi keakuan serta simbol status sosial kita menuju kesamaan derajat kita sebagai manusia di hadapan Allah SWT.

Karena tak ada yang lebih unggul di mata Allah dari yang lain kecuali karena kualitas ketakwaannya.

Islam Fisik dan Islam Aktual

Pertanyaan yang kemudian muncul, bukankah jutaan ummat Islam Indonesia tiap tahunnya libur untuk memperingati perayaan Idul Adha, berkumpul di tanah lapang atau mesjid-mesjid untuk mengagungkan kebesaran-Nya, menyembelih jutaan hewan Qurban, dan tiap tahun pula mengirimkan masyarakatnya untuk berhaji?

Bukankah Shalat Idul Adha, penyembelihan hewan Qurban, dan berhaji mempunyai nilai sejarah tentang arti sebuah keikhlasan, kepatuhan, kepasrahan, dan berserah diri?

Atau memang Shalat Idul Adha, penyembelihan hewan Qurban, dan berhaji hanya sekedar ritual tahunan yang tidak bermakna apa-apa?

Dengan kembali kepada makna asal Islam (aslama) – berserah diri, kepasrahan – Muthahhari menjelaskan dua macam kepasrahan. Pertama, Islam fisik atau Islam Geografis.

Di sini orang pasrah kepada seseorang atau sesuatu karena terpaksa atau karena mengikuti lingkungannya. Muthahhari menyebut istilah al-islam al-jughrafi kepada mereka yang lahir, hidup, dan mati dalam lingkungan Islam.

Kedua, Islam aktual atau al-islam al-waqi'i . Islamnya orang yang sudah pasrah kepada kebenaran dengan hatinya. Ia mengamalkan kebenaran yang diyakininya setelah ia menerima kebenaran itu melalui pencarian atau penelitian tanpa fanatisme.

Ketika melihat konteks Indonesia yang mayoritas beragama Islam, mungkin kita bisa sedikit mengambil kesimpulan bahwa mayoritas yang ada hari ini adalah Islam fisik atau Islam geografis.

Ini bisa kita buktikan dengan membaca atau melihat berita setiap hari dimana praktek-praktek kriminal seperti korupsi, pemerkosaan, pencurian, dan lain-lain didominasi oleh orang-orang yang di Kartu Tanda Penduduknya tertera Agama Islam.

Dengan melihat realitas yang ada hari ini, mestinya di momen hari raya Idul Adha ini kita kembali merefleksi atau mengintrospeksi diri kita, apakah yang telah kita lakukan hari ini sudah sesuai ajaran agama kita, Islam.

Tentunya kita semua berharap kalau Islam kita hari ini tidak sekedar Islam fisik atau Islam geografis, tetapi lebih dari itu yakni Islam aktual, Islam yang kita imani, ilmui, dan diamalkan dalam kehidupan sehari-hari.

Semangat Gotong Royong

Setelah kita masing-masing telah memahami dan mencoba menjadi islam aktual, maka tanggung jawab berikutnya adalah bagaimana agar kita dengan kesadaran yang sama bergerak dalam satu barisan. Gotong royong, yang menjadi budaya kita sejak bangsa ini didirikan, harus diarahkan dalam menunaikan kebaikan.

Sebagaimana yang dibahasakan oleh Rhenald Kasali, bahwa untuk melakukan perubahan-perubahan besar-besaran kita membutuhkan kolaborasi besar-besaran.

Juga dalam QS Ali Imran 104 ditegaskan agar ada sekelompok di antara kita yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar, merekalah orang-orang yang beruntung.

Dengan semangat gotong royong tersebut, maka peringatan Idul Adha akan menjadi momentum yang sangat berarti untuk mengurai persoalan atau setiap masalah yang sedang menyelimuti kehidupan berbangsa dan bernegara kita.

Kedzaliman atau kejahatan terorganisir yang selama ini menggerogoti bangsa ini akan berhadap-hadapan dengan kolaborasi besar-besaran oleh mereka yang senantiasa memperjuangkan kebaikan.

Masalah korupsi misalnya yang merajalela sejak hilir hingga hulu akan direduksi secara berjamaah mulai dari gerakan pencegahan hingga ke gerakan pemberantasan. Selamat Idul Adha 1434 H.

*Penulis adalah Ketua Umum PB HMI Periode 2013-2015


Muh Arief Rosyid H
Jl. Diponegoro, Jakarta Pusat
085242388801

(wwn/wwn)