Kado Kemerdekaan dari Kereta

Kado Kemerdekaan dari Kereta

- detikNews
Kamis, 29 Agu 2013 13:28 WIB
Kado Kemerdekaan dari Kereta
Jakarta - "Penumpang Commuter Line, mulai tanggal 22 Agustus 2013 akan diberlakukan tiket harian berjaminan menggantikan kartu single trip".

Pengumuman itu terdengar saat saya menunggu kereta ke Bogor di Stasiun Tebet, beberapa hari menjelang Peringatan 17 Agustus.

Sebuah kado spesial di hari kemerdekaan, setelah sebelumnya para pengguna kereta api dihadiahi pemberlakuan tarif progresif dan penghapusan Kereta Rel Listrik (KRL) Ekonomi.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Seorang teman berkomentar, KRL Ekonomi dan KRL Commuter Line hampir tak ada bedanya, bedanya hanya yang satu pintunya terbuka terus, yang satu lagi bisa ditutup.

Namun suasana di dalamnya sama saja, penuh, AC sering tidak terasa. Juga harganya, KRL Ekonomi ke Jakarta tarifnya sama dengan ongkos angkutan umum di Bogor. Namun bagi penulis, disamping beberapa nilai minus, KRL Ekonomi sebenarnya justru memiliki beberapa kelebihan dibanding KRL Commuter Line.

Suasana yang Hilang

Semasa 1999-2002, harga tiket KRL ekonomi Bogor-Manggarai (yang sama sampai ke kota) adalah Rp 800. Sedangkan tiket KRL Pakuan Bogor-Gambir mulai dari Rp 7.000 kemudian menjadi Rp 9.000, kemudian naik menjadi Rp 13.000 dengan diskon sehingga Rp 11.000. KRL Pakuan memiliki jadwal tertentu dan hanya berhenti di beberapa stasiun besar saja.

Dalam KRL Pakuan, ada yang memiliki nomor kursi ada yang tidak, sehingga jika sudah duduk dan ternyata ada yg memiliki nomor tersebut maka harus rela berdiri. Namun akhirnya kebijakan nomor kursi ini hilang, sehingga prinsip siapa cepat bisa duduk dapat berlaku.

Banyak yang berbekal koran atau kursi lipat untuk dapat duduk di KRL Pakuan, bahkan ada yang sampai bisa main kartu secara rutin di jam-jam tertentu. Pada saat bulan puasa, saat berbuka gerbong bisa pengap oleh asap rokok, karena banyak yang segera merokok dalam gerbong ber-AC saat waktu buka puasa tiba.

Dalam KRL Ekonomi, banyak kelompok-kelompok penumpang yang biasa janjian di gerbong tertentu, mereka ini asli kenalan di kereta, bercengkerama selama perjalanan kereta. Duduk dan berdiri saling gantian, berbagi jajanan, bahkan arisan, dan kabarnya bahkan ada yang sampai menikah.

Suasana kereta yang penuh melimpah ruah adalah sesuatu hal yang dianggap wajar, kalau hanya beberapa orang yang terlihat berdiri, itu berarti kereta masih "kosong". Penuh itu adalah saat gerbong terlihat gelap, karena adanya kepala-kepala berambut hitam.

Kipas yang berputar menjadi tempat incaran agar tetap "segar" saat di dalam kereta, tentunya selain spot "dekat pintu yang selalu terbuka" untuk memastikan angin 'gelebug' bisa terasa.

Saat bulan puasa, maka saat berbuka adalah hal yang paling dinantikan, ke "guyuban" antar penumpang untuk saling berbagi makanan buka puasa sungguh membuat hati tersentuh.

Salah satu keuntungan naik KRL Ekonomi adalah berbagai penjual makanan dan minuman akan lewat di dekat kita sehingga transaksi segera terjadi.

Selain penjaja makanan, sering pula lewat penjaja barang-barang kelontong yang sering tidak terpikirkan, jarum pentul, sumbu kompor, jarum+benang, lem cair, berbagai aksesoris wanita, ikat pinggang, topi dan lain sebagainya. Harga dijamin tidak akan melebihi Rp 5.000-10.000.

Yang sering lewat juga pengamen, mulai dari yang grup lengkap dengan box speaker + mic, ala akustik gitar, biola, ala suling, dengan box speaker berkaraoke atau hanya menyanyi diiringi kecrekan.

Lewat juga berbagi jenis pengemis/peminta-minta, dari yang cacat tubuh, manula, anak-anak, balita dan remaja, belum termasuk peminta sumbangan untuk pembangunan pesantren/mesjid.

Tapi hati-hati, di dalam KRL Ekonomi juga sering terjadi pencopetan/penjambretan. Seperti yang dialami saya sendiri, pernah kehilangan sebuah tempat pinsil, mungkin dikira dompet karena bentuknya seperti dompet besar dgn kondisi tas rusak.

Pernah juga melihat seorang penumpang duduk di dekat pintu mengenakan topi, tiba-tiba dari luar gerbong seseorang menarik topinya saat kereta berjalan meninggalkan stasiun. Juga ada cerita tas yang dijambret dari luar gerbong, persis seperti penjambretan topi tadi.

Masalah pelecehan seksual juga terjadi, saat penumpang penuh berdesak-desakan, maka kesempatan bagi pria-pria iseng untuk menggesek ke bagian badan perempuan. Salah satu manfaat berkelompok adalah untuk mencegah hal seperti ini terjadi, karena dalam kelompok biasanya saling menjaga.

Untuk mereka yang belum terbiasa, naik KRL Ekonomi itu terlihat menakutkan. Seorang teman yang mengantar sampai stasiun berkali-kali menahan saya untuk naik karena dari luar terlihat gerbong-gerbongnya penuh.

Setelah lewat 3x KRL, sudah tidak apa-apa kata saya, kalo gak gitu gak pulang-pulang. Pernah juga naik KRL tanpa karcis, karena saat itu sudah KRL terakhir ke Bogor, dan petugasnya menyuruh untuk segera naik. Rasanya 'gimana gitu'.

Masa-masa perjalanan saya pulang pergi Jakarta-Bogor secara rutin sempat berhenti dari tahun 2002-2012 karena pekerjaan pindah ke Bogor. Tahun 2012, saya kembali menjalani perjalanan secara rutin karena tempat tinggal pindah ke Jakarta Timur, sementara pekerjaan kantorannya tetap di Bogor.

Dengan melawan arus commutter, perjalanan KRL sebenarnya nyaman, karena kosong bahkan bisa selonjoran saking kosongnya. KRL Pakuan dihapuskan, lalu muncul KRL Commuter Line yang berhenti di setiap stasiun.

Bagi yang biasa naik KRL Pakuan, perjalanan terasa lebih lama karena berhenti di setiap stasiun. Saat KRL penuh, AC otomatis juga seakan mandeg karena over capacity. Jendela pun perlu dibuka untuk memasukan angin.

Tarif KRL Commuter Line hanya ada 2 kategori, yaitu Jakarta-Bogor Rp 9.000 dan Depok-Bogor Rp 8.000. KRL Ekonomi tetap ada walaupun frekuensinya makin sedikit, juga dengan 2 kategori tarif Rp 2.000 Jakarta-Bogor dan Rp1.500 Depok-Bogor.

Meskipun ada KRL Commuter Line yang ber-AC, KRL Ekonomi memang akhirnya tetap menjadi pilihan utama. Banyak sekali penumpang menunggu KRL Ekonomi walaupun ada KRL Commuter Line yang lewat.

Yang pasti dari sisi harga, jauh bedanya. Kemudian untuk para pedagang dengan barang pikulan yang besar-besar, mereka bilang (entah benar atau tidak) kalau di KRL AC harus bayar lagi untuk barang dagangannya itu. Kemeriahan pengamen, pengemis dan penjaja kelontong tidak bisa masuk KRL Commuter Line.

Pada kenyataannya KRL Ekonomi yang tersisa hanya 4-6 rangkaian, dengan kondisi sering mogok. Dan untuk para penantang nyali yang duduk di atap KRL sulit untuk naik ke atas lewat jendela KRL Commuter Line.

Tidak adanya KRL Ekonomi, bukan hanya menghilangkan kesempatan sejumlah pedagang asongan mengais pendapatan di dalam kereta, sejumlah penumpang pun merasa kehilangan suasana guyub dan tidak ada lagi kesempatan mendapatkan barang murah "berkualitas" di dalam KRL

e-tiket, Tarif progresif dan THB

E-tiket mungkin adalah inovasi PT KAI Commuter Line untuk menjadi lebih 'modern', dan mengurangi sampah karcis, tetapi kertas nota pembelian e-tiket juga banyak terbuang, sering juga kertas nota yang seperti kertas faks habis di loket.

Kartu multitrip sebenarnya prinsipnya tidak jauh berbeda dengan kartu abodemen sebelumnya, dimana penumpang bisa membeli dalam jumlah tertentu sebagai saldo untuk perjalanan dengan commuter line kemana saja.

Sistem e-tiket ini sebenarnya cukup mudah, hanya perlku waktu untuk sosialisasi penggunaannya, karena banyak yang belum biasa dan akhirnya jadi mengomel "kok ribet sih!.

Mungkin perlu petugas lebih banyak di pintu masuk dan keluar stasiun untuk membantu penumpang yang belum terbiasa ini, selain tentunya memberikan penjelasan yang cukup, karena petugas loket umumnya tidak punya banyak waktu untuk menjelaskan, terhalang kawat dan antrian panjang.

Tarif progresif merupakan perhitungan tarif berdasarkan jumlah stasiun yang dilewati, dengan janji akan berlaku mulai 1 juni 2013. Sosialisasi tarif progresif telah ditempelkan di berbagai stasiun, termasuk cara penghitungannya. Untuk setiap 5 stasiun pertama dihitung tarif Rp 3.000 rupiah, dan penambahan Rp 1.000 untuk setiap 3 stasiun berikutnya.

Setelah dihitung memang tarif ini cukup baik, misalnya untuk KRL Bogor-Jakarta jadinya Rp. 9.000, sedangkan jika hanya sampai Tebet maka Rp 7.000, karena semakin jauh maka malah menjadi lebih murah.

Namun yang terjadi adalah sampai sekarang kebijakan tarif ini belum berlaku, entah sampai kapan. Saat ini yang berlaku adalah tarif progresif bersubsidi, dimana untuk 5 stasiun pertama Rp 2.000, dan untuk setiap 3 stasiun berikutnya menjadi Rp 500.

Sehingga tarif Tebet-Bogor menjadi Rp. 4.000 saja. Sebuh artikel di media naional memberitakan bahwa besarnya subsidi yang diminta dari pemerintah hanya sampai bulan November 2013. Apakah setelah November 2013 akan berlaku tarif progresif "ormal"?

Bila diperhatikan, penerapan kebijakan ini berlangsung secara trial and error. Cenderung reaksioner dalam menanggapi perubahan kondisi.

Misalnya, rencana penerapan tarif progresif dan penghapusan kereta api ekonomi yang semula direncanakan awal Juni 2013. Karena ada demo penolakan di Stasiun Bekasi, kemudian digeser menjadi bulan Juli 2013 dengan alasan untuk sosialisasi.

Sejumlah persoalan yang mengiringi pasca penerapan e-ticketing, tarif progresif, penataan stasiun dan kemudian konversi kartu single trip menjadi Tiket Harian Berjaminan (THB) menjadi pekerjaan rumah yang juga harus diselesaikan.

Dengan THB, penumpang yang membeli kartu single trip dikenakan biaya tambahan Rp 5.000 sebagai jaminan. Setelah sampai di stasiun tujuan, uang jaminan tersebut bisa diambil lagi. Masa aktif kartu THB ini adalah tujuh hari setelah hari terakhir digunakan.

Kebijakan baru ini bertujuan untuk menekan kerugian KAI Commuter Line Jakarta (KCJ) akibat banyaknya kartu single trip yang hilang atau tidak dikembalikan oleh penumpang, jumlahnya konon mencapai 800 ribu tiket.

Berdasarkan pengamatan penulis, ini disebabkan kondisi stasiun yang terbuka dan mempunyai banyak pintu keluar-masuk alternatif. Sebut saja, stasiun Palmerah, dulu penumpang bisa dengan mudah masuk tanpa tiket dari beberapa bagian pagar yang rusak sepanjang stasiun Palmerah hingga lampu merah depan Polsek Palmerah.

Di Stasiun Cawang, bahkan ada bagian pagar yang bisa dibuka untuk jalur keluar-masuk stasiun. Kondisi tersebut memang tampaknya sudah diperbaiki, petugas keamanan ditempat di setiap sudut peron. Di Stasiun Tebet bahkan ada kawat penghalang untuk mencegah penumpang keluar secara berombongan melalui jalur rel kereta.

Namun jalur keluar-masuk alternatif masih bisa dilihat ketika kita melewati Stasiun Kemayoran. Dari sini lah, orang-orang bisa keluar tanpa perlu mengembalikan kartu tiket single trip.

THB mungkin memang bisa secara efektif menekan angka kehilangan kartu e-ticketing single trip. Namun pada sisi lain, ini menambah jalur antrian panjang penumpang, bukan hanya antrian di loket pembelian dan pintu masuk peron, namun juga di loket penukaran kartu.

Penumpang, baik pria maupun wanita, termasuk ibu-ibu tua dan ibu yang membawa anak-anak dipaksa mengikuti ritual antrian ini. Penumpang bukan hanya merasakan ketidaknyamanan atas kondisi ini, namun ini juga membuat terlambat sampai ke kantor.

Belum lagi kisah sedih, ibu-ibu yang pingsan ketika KRL tersendat menjelang masuk Stasiun Manggarai dari Stasiun Tebet. Jam-jam puncak naik KRL adalah pukul 06.00 WIB hingga pukul 08.30 WIB. Itu terutama untuk jalur Bogor/Depok menuju Jakarta Kota/Tanah Abang dan Bekasi-Jatinegara/Jakarta Kota.

Tak heran bila jam-jam sibuk ini penumpang berjejal bak sarden kaleng. Jalur sebaliknya mengalami puncak penumpang sekitar pukul 16.00 WIB hingga 19.00 WIB. Banyak cara penumpang agar mendapatkan tempat duduk. Di beberapa stasiun, sebutlah Stasiun Pondok Cina, orang-orang naik KRL ke Jakarta malah antre di peron sebaliknya.

Tujuannya: naik kereta balik demi untuk mendapat ruang yang lebih lega atau malah mendapatkan tempat duduk. Kereta balik itu biasanya komuter dengan stasiun akhir Depok Lama, hanya selisih dua stasiun dari Pondok Cina. Penumpang dari Depok yang signifikan membuat PT KAI Commuter Jabodetabek (KCJ) menyediakan KRL yang berangkat dari Depok.

KRL dari Bogor memang sudah mengangkut dari banyak stasiun hingga nyaris berjejal begitu kereta masuk ke Depok. Terkadang saking berjejalnya, jendela-jendela kereta ber-AC dibuka. Banyaknya orang membuat AC tak terasa, udara pun terasa pengap. Bahkan kadang ada yang nekat tak menutup pintu kereta.

Untuk yang tak menutup pintu kereta ini, PT KCJ sudah mengeluarkan ancaman, kereta tak bakal dijalankan bila tak menutup sempurna. Kadang, kondisi berjejal ini ditambah ulah penumpang yang tidak bertoleransi kepada penumpang lain. Mereka duduk bersila di lantai dalam keadaan kondisi penumpang berjejalan.

Penumpang egois ini cukup asyik duduk kendati penumpang lain kesulitan mencari ruang untuk sekadar berdiri. Bila di dalam kereta sudah senggol-senggolan, barulah penumpang duduk bersila ini tersentil untuk berdiri.

Walaupun ada tempat duduk prioritas untuk manula, ibu hamil, ibu dan balita dan dengan cacat tubuh, tapi sepertinya penumpang masih sulit berdiri jika sudah duduk.

Dengan kondisi kereta yang pengap dan penuh, tentu lebih baik tetap duduk daripada berdiri berlelah-lelah. Yang menjadi sasaran akhirnya petugas security, karena dianggap tidak bisa meminta tempat duduk untuk jenis penumpang prioritas tersebut.

Antusiasnya warga ini dampak dari hukum penawaran dan permintaan karena harga KRL Commuter Line kini turun cukup murah, maka peminat makin membeludak.

Hal ini terlihat dan bisa dirasakan oleh para komuter, dari parkiran sepeda motor yang membeludak hingga di dalam gerbong. Jumlah penumpang Commuter Line pada jam sibuk diperkirakan naik dari 460 ribu ke angka 590 ribu. Popularitas KRL Commuter Line semakin melonjak setelah adanya ketetapan tarif progresif bersubsidi tersebut.

Sesuai, misi perusahaan untuk menyelenggarakan jasa angkutan kereta api komuter yang mengutamakan keselamatan, pelayanan, kenyamanan dan ketepatan waktu, serta yang berwawasan lingkungan, ada baiknya PT KCJ juga memperhatikan kondisi yang dihadapi penumpang ini.

Jangan sampai upaya menekan kehilangan kartu membuat pelayanan dan kenyamanan penumpang waktu diabaikan. Langkah selanjutnya yang perlu dilakukan adalah menambah gerbong dan lokomotif serta membuka jalur baru kereta api dan bersinergi dengan moda-moda transportasi massal lainnya, seperti Transjakarta dan APTB.

Semoga ini bisa menjadi kado baru yang benar-benar spesial sesuai visi dan misi PT KAI dan PT KCJ. Untuk kartu-kartu yang terlanjur hilang, anggaplah sebagai souvenir dari kereta api pada moment Peringatan Kemerdekaan Indonesia Ke-68.

Oh ya, dengan digantinya e-tiket single trip menjadi THB yang putih, kemana kartu-kartu single trip yang bergambar kereta merah dan hijau atau coklat polos itu ya? Apa tidak dibagi saja, untuk souvenir??

*Penulis adalah Pengguna kereta api bogor-jakarta pp, staff di Innovation center for regional resource and civil society development (i-Crescent) Bogor


Diah Lestariningsih
Komplek PTB Jakarta Timur
diah.ng@gmail.com

(wwn/wwn)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads