Ketika info wacana Kanal Banjir Timur (KBT) tersebar, saya putuskan untuk menyurati Pak Sutiyoso dan Wagub Foke. Isinya sangat rinci.
Pak Gubernur, kirimlah staff ke Guangzhou atau Guilin dan Liuzhou China Selatan (tida perlu ke Eropa yang jauh dan mahal) untuk mempelajari dan melakukan studi banding dan studi kelayakan tata kelola sungai sebelum membangun KBT.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kapal pesiar mini disulap menjadi restoran yang disuguhi hiburan musik pula. Tepian sungai menjadi tampak indah pada malam hari dengan hiasan lampu hias yang tampilannay mengagumkan.
Berkaca pada trans sungai di 3 kota tersebut, semestinya dapat disadur pada saat membangun KBT. Memang metoda sejenis pernah diuji coba di KBB, namun manajemen dan tata kelola yang kurang serius dan tidak baik menyebabkan program sekarat dan akhirnya gagal total.
Bagaimana dengan KBT? Saya yakin jika dimulai sekarang belum lah sangat terlambat. Jika Pemda DKI ragu, serahkan saja pengelolaannya kepada pihak Swasta.
Trans sungai dapat pula dimanfaatkan untuk mengangkut penumpang dari Jakarta Timur dan sekitarnya menyusuri KBT hingga ke laut Jawa dan berlabuh di sekitar Ancol sehingga para komuter yang menuju Jakarta Pusat memiliki pilihan moda trans yang tidak terjebak macet karean berlawanan dengan counter flow arus lain di pagi hari.
Sebagai saran anti banjir, KBT belum dimanfaatkan maksimal antara lain dengan membangun saluran bawah tanah (deep tunnel) dari Kali Ciliwung di Kalibata menuju KBT yang dapat di buka-tutup pada saat debit air Kali Ciliwung dan sungai lainnya meluap.
Melalui media ini saya ingin mengulangi isi surat saya kepada Bang Jokowi, agar mendorong staffnay belajar tata kelola sungai ke China. Better late than never.
Sahat Sitorus
Jl Bambu Duri III Jakarta Timur
sahatsitorus@yahoo.com
081219612125
(wwn/wwn)











































