Demi kemaslahatan seluruh dusun, Pak Pengasuh meminta budak-budak Paguyuban membuat Pasta In-teri-talas untuk dimakan ramai-ramai oleh orang dusun. Di dusun kami, Pasta Interitalas adalah masakan sakral.
Setiap orang yang dicurigai berbuat jahat, boleh menantang penuduh untuk berlomba memasak. Masakannya ya Pasta Teritalas ini.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Maklum, salah satu bumbu masakan Pasta Interitalas adalah bumbu lupa. Isinya adonan Drama Politik dan dan Retorika Simplifikasi. Efeknya maknyus.
Jadilah tiga hari setelah itu ditetapkan sebagai hari pembuatan Pasta Interitalas. Warga dusun menyimak perkembangannya melalui Radio Retorik Dusunesia.
Bertempat di kediaman Pengasuh Paguyuban Den Mohrat, pembuatan Pasta Interitalas didahului bincang-bincang ringan. Temanya mengenai uang kertas iuran warga dusun yang kabar-kabarnya dimakan tikus. Uang tersebut rencananya dipakai untuk membangun Wisma Astrid di gang Humble Ang.
Humble Ang ini tokoh legendaris di dusun kami. Keturunan Cina yang rendah hati. Sama pemurahnya dengan Bandaro Generous yang asal Padang.
Dia pemain bolu tangkas (olahraga adu ketangkasan membuat bolu) internasional. Terkenal di mana-mana. Warga dusun sangat mencintai sosok Humble Ang ini sehingga salah satu gang yang tadinya bernama gang Cianturi diganti nama menjadi gang Humble Ang.
Pemilik tikus sebenarnya sudah diamankan. Budak Paguyuban memang. Tapi sudah di-DO karena setorannya kurang banyak. (yang ini off-the-record).
Masalahnya, tikus yang makan uang kertas bukan tikus sembarangan. Ini tikus pedaging. Setelah gemuk dan berlemak, dia akan dijadikan sesajen buat dewa Doku. (warga dusun menganut kepercayaan Dokuisme).
Beri saya kesempatan untuk menjelaskan dulu hal ihwal Dokuisme. Bagi kami yang gemar melekatkan satu identitas pada sesuatu yang "kami" dan identitas yang berbeda pada sesuatu "selain kami" (baca: primordial) ini, Dokuisme adalah identitas "kami".
Warga dusun lain tidak boleh menganut agama ini sebelum terbukti memiliki lebih banyak kesamaan dengan kami dibanding perbedaannya. Inisiasinya adalah berhasil bertahan di hutan rimba raya tanpa penghuni dengan modal Dokumen Resmi Pemerintah Dusun.
Kemampuan bertahan dengan Dokumen Resmi Pemerintah Dusun di tempat dokumen tersebut tidak bisa digunakan adalah pertanda bahwa orang tersebut mendapat perlindungan dari dewa Doku.
Kembali ke bincang-bincang sebelum pembuatan Pasta Interitalas dan Wisma Astrid di Humble Ang; Pengasuh Paguyuban Den Mohrat meminta budak-budaknya berterus terang.
Sebenarnya sesajen buat dewa Doku siapa yang simpan? Tikus-tikus gemuk berlemak disembunyikan di mana? Masalahnya Kompi Pembenahan Konstruksi sudah mulai tunjuk-tunjuk nama.
Katanya konstruksi Wisma Astrid sengaja dibuat rapuh oleh Ketua Budak Paguyuban Den Mohrat. "Saya ndak mau terikut-ikut lalu terzalimi dan dipaksa hidup prihatin dan dilarang teriak "KITA BISA!" dan dilarang wao wae oo seumur hidup" bentak Pengasuh sambil joged PON.
Yang selanjutnya terjadi tidak bisa dipastikan. Reporter Radio Retorika Dusunesia diusir dari lokasi karena ikut-ikutan goyang PON. Pengasuh Paguyuban muntab. Dia masak Pasta Interitalas sambil bersungut-sungut.
Budak Paguyuban yang lain juga enggan-enggan-sungkan mencelup bumbu ke dalam adonan. Ketua Budak mundur dari jabatan ketua karena Drama Politik dan Retorika Simplifikasi yang dia bawa sudah kemasukan angin. Mlempem kayak kerupuk kena kentut.
Siapapun yang gagal menyumbangkan bumbu dan adonannya ke dalam Pasta Interitalas dianggap gagal mengemban amanah Paguyuban. Giliran (ex) Ketua Budak Paguyuban Den Mohrat yang teriak-teriak di toa RRD.
"Pak Pengasuh mau menyingkirkan saya. Dia penjelmaan Dewa Doku. Dia yang selama ini barbeque tikus gemuk berlemak di belakang rumah di Ciritkeras," begitu teriakannya.
Warga dusun tidak percaya. Yang mereka tau pasti, dewa Doku akan melindungi mereka senantiasa. Walau menumpuk hanya di segilintir orang, Doku (yang berhasil bebas beredar) telah menyelesaikan permasalahan mereka dengan lebih efektif dibanding dibanding anggota Paguyuban yang katanya menyuarakan penderitaan warga dusun itu.
"Hari ini akan ada hujan tobat," kembali Tobat menggumam ke dirinya sendiri.
"Sekedar tobat mana laku, Tobat," balas dirinya sebelah kiri. "Perlu ada upacara gantung diri massal di Pohon Limau di kebun Nanas".
Jeni Wardin
Jl. Raya Ceger, Tangerang Selatan
wardinhilangakal@gmail.com
081315942301
(wwn/wwn)











































