Corak Pemimpin dalam Demokrasi

Corak Pemimpin dalam Demokrasi

- detikNews
Rabu, 27 Feb 2013 08:07 WIB
Corak Pemimpin dalam Demokrasi
Bandung - Tindakan SBY untuk terlibat dalam dinamika internal partai tentu sangat disayangkan. Kapasitasnya masih menjabat sebagai Presiden.

Padahal SBY sering menyampaikan kepada para menterinya yang berasal dari parpol untuk fokus pada tugas dan bidang masing-masing. Tindakan SBY ini kontradiktif dengan kata-katanya.

Saat ini SBY sebagai Presiden lebih sibuk mengurus partai ketimbang negara, sehingga urusan pemerintahan dan rakyat makin terabaikan. Selain itu, campur aduk posisi SBY sebagai Presiden maupun sebagai Ketua Pembina Partai membuat rakyat bingung.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Pakar hukum tata negara Yusril Ihza Mahendra merasa perlu menyampaikan tausiah kepada SBY akan tanggung jawabnya sebagai presiden. "Tanggung jawab Presiden bagaimanapun sangat menentukan bagi kelangsungan hidup kita sebagai bangsa dan negara.

Jika Pak SBY fokus pada upaya penyelamatan partai,konsentrasi beliau dalam mengurus bangsa dan negara akan terpecah," kata Yusril Ihza Mahendra.

Menurut Yusril, banyak masalah nyata yang dihadapi rakyat, bangsa,dan negara yang semua itu memerlukan penanganan segera (seputar-indonesia.com).

Inilah potret pemimpin dalam demokrasi yang akan selalu berfokus kepada kepentingan pribadi dan golongannya saja. Dalam demokrasi hal yang terpenting dan utama dilakukan oleh penguasa atau pemimpin negara adalah meraih kekuasaan yang akan mendatangkan modal sebanyak-banyaknya.

Maka daripada itu, segala daya upaya akan dilakukan untuk melanggengkan kekuasaannya agar eksistensinya semakin tetap terjaga dan berkuasa.

Tidak heran jika saat ini SBY, presiden negara kita lebih sibuk mengurusi partainya yang sedang terombang-ambing diterpa badai kekacauan, daripada mengurusi segudang permasalahan rakyat yang semakin terpuruk.

Tidak ada pilihan lain, marilah mulai saat ini kita beranjak pindah kepada Islam yang melahirkan pemimpin yang mampu mengurusi rakyatnya.

Karena dalam Islam ketika seseorang yang berasal dari salah satu partai dipilih menjadi pemimpin negara atau khalifah maka orang tersebut harus meninggalkan tugas kepartaiannya dan fokus mengerjakan amanah sebagai khalifah untuk mengurusi urusan rakyat agar tidak ada satu urusan pun yang terbengkalai.

Jelas terlihat sekali perbedaan corak pemimpin ala demokrasi dengan corak pemimpin dalam Islam. Pemimpin atau khalifah dalam Islam sungguh terbukti baik.

Dalam Islam, kepemimpinan itu adalah amanah yang akan dipertanggungjawabkan di sisi Allah SWT yang membutuhkan karakter dan sifat-sifat yaitu, 1) al-quwwah (kuat) yaitu Seorang pemimpin harus memiliki kekuatan ketika ia memegang amanah kepemimpinan.

Kepemimpinan tidak boleh diserahkan kepada orang-orang yang lemah; 2) al-taqwa (ketaqwaan). Ketaqwaan adalah salah satu sifat penting yang harus dimiliki seorang pemimpin maupun penguasa. Pemimpin yang bertaqwa akan selalu berhati-hati dalam mengatur urusan rakyatnya.

Pemimpin seperti ini cenderung untuk tidak menyimpang dari aturan Allah SWT. Ia selalu berjalan lurus sesuai dengan syariat Islam.

Ia sadar bahwa, kepemimpinan adalah amanah yang akan dimintai pertanggungjawaban kelak di hari akhir; 3) al-rifq (lemah lembut) tatkala bergaul dengan rakyatnya.

Sifat ini jug a sangat ditekankan oleh Rasulullah Saw. Dengan sifat ini, pemimpin akan semakin dicintai dan tidak ditakuti oleh rakyatnya.

Pada dasarnya, kepemimpinan di dalam Islam merupakan jabatan yang berfungsi untuk pengaturan urusan rakyat. Seorang pemimpin adalah pengatur bagi urusan rakyatnya dengan aturan-aturan Allah SWT.

Dengan begitu, pemimpin dalam Islam tidak akan pernah sibuk dengan urusan lain kecuali fokus untuk kemaslahatan rakyatnya.


Mei Indah Sari
Jl Geger Suni, Bandung
mei.indah.sari@gmail.com
085720857762

(wwn/wwn)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads